اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنْ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْهِ إِلَيَّ الْمَصِيرُ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Segala puji bagi Allah yang masih mengumpulkan kita di tempat yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Kepada yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, serta tokoh masyarakat setempat yang senantiasa menjadi pelita di tengah kegelapan zaman. Terkhusus untuk rekan-rekan saya, para bapak, para pejuang nafkah, para tulang punggung keluarga yang telah meluangkan waktu di tengah peluh letihnya bekerja untuk hadir di majelis ini. Terima kasih, Bapak-bapak sekalian, atas kehadiran dan ketulusan niat antum semua.
Bapak-bapak yang dirahmati Allah, mari kita sejenak menundukkan kepala. Kita ingat rumah kita, kita ingat istri yang menanti di depan pintu, kita ingat anak-anak yang mungkin sedang lelap. Tugas kita berat di luar sana, bekerja dari pagi hingga petang. Namun, ingatlah, sehebat apapun posisi kita di tempat kerja, sejauh apapun kita melangkah, tujuan akhir kita tetaplah keluarga. Menjaga kekeluargaan bukan sekadar memberi makan, tapi menyatukan hati.
Seringkali, karena kesibukan, kita lupa bahwa harta hanyalah titipan. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taghabun ayat 14:
Bapak-bapak, rumah yang retak, hubungan yang dingin dengan istri, atau anak yang jauh dari agama adalah musibah besar. Jangan biarkan pekerjaan membuat kita kehilangan rumah tangga kita. Pulanglah dengan kasih sayang, selesaikan masalah dengan kepala dingin.
Namun, bagaimana kita bisa mempertahankan ini semua jika nahkoda hatinya tidak punya kompas? Itulah mengapa kita butuh ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Mereka adalah penyuluh saat hati kita gelap. Mungkin saat ini ulama yang biasa membimbing kita, kiai yang sering memegang tangan kita, sudah wafat. Tapi apakah ikatan itu terputus? Tidak, Bapak-bapak.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
Ulama tidak pernah benar-benar pergi selama ilmunya kita amalkan. Saat kiai atau guru kita wafat, janganlah kita menjauh dari jejaknya. Kunjungi makamnya, doakan mereka, dan yang paling penting, hidupkan majelis ilmunya. Jangan biarkan rumah kita sepi dari pengajian, jangan biarkan buku-buku nasihat mereka berdebu di lemari.
Ingatlah, Bapak-bapak, suatu saat nanti kita pun akan pergi. Apa yang akan kita tinggalkan? Apakah jabatan kita? Tidak. Yang tersisa adalah doa anak yang shalih dan jejak kebaikan yang kita bangun melalui bimbingan ulama. Jika kita hari ini menjauh dari ulama, bagaimana kita bisa menuntun keluarga kita menuju surga?
Bayangkan di hari kiamat nanti, kita berdiri di hadapan Allah dalam keadaan bingung. Tiba-tiba, ilmu yang kita dapatkan dari ulama hadir menolong kita. Itulah kedekatan sejati. Ulama yang sudah wafat tetaplah menjadi guru bagi ruh kita jika kita terus menyambung hati dengannya melalui jalan ketaatan.
Mari kita berjanji, mulai hari ini, kita perbaiki hubungan dengan istri dan anak. Kita jadikan rumah sebagai surga kecil di dunia. Dan kita ikat kembali diri kita dengan ilmu para ulama, meski mereka telah tiada. Jadikanlah setiap langkah kaki kita menuju tempat kerja sebagai ibadah, dan jadikanlah setiap napas kita sebagai upaya untuk meneladani orang-orang saleh.
Akhirnya, mari kita berdoa.
Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami, dan dosa guru-guru kami. Muliakanlah tempat peristirahatan para ulama yang telah mewariskan ilmu kepada kami. Satukanlah hati kami dengan keluarga kami dalam ridha-Mu. Kuatkanlah pundak kami dalam mencari nafkah yang berkah, dan jauhkanlah kami dari fitnah dunia.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tutur kata saya, karena yang benar datangnya dari Allah SWT dan yang salah datang dari kelemahan diri saya pribadi.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ