اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, sehingga bapak-ibu bisa berkumpul di majelis ini tanpa kurang suatu apa pun. Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa yang saya tuakan, tokoh masyarakat Bapak [Nama Tokoh], para ustaz dan ustazah, serta seluruh warga desa yang hadir dengan wajah-wajah ceria, penuh harapan, dan insya Allah penuh ampunan. Matur sembah nuwun sanget atas kehadiran Bapak dan Ibu semua.
Bapak-ibu yang dimuliakan Allah, hari ini kita memasuki Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Wah, biasanya kalau tahun baru masehi, anak muda sibuk bakar jagung atau begadang sampai mata jadi kayak mata panda. Tapi kalau Tahun Baru Hijriah, kita harus lebih istimewa. Jangan sampai kita cuma ganti kalender di dinding, tapi kelakuan masih tetap "jadul". Kalender sudah ganti, eh, shalat subuhnya masih saja "tunda" terus sampai matahari hampir nyapa kepala.
Ingat, Allah SWT berfirman: Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullah, waltanzhur nafsun maa qaddamat lighad. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia siapkan untuk hari esok. Hari esok di sini maksudnya bukan besok pagi mau beli pupuk atau mau panen, tapi hari esok di hadapan Allah nanti.
Tahun lalu, dosa kita sudah sebanyak apa? Jangan-jangan dosanya sudah setumpuk jerami, tapi amal shalihnya masih seukuran biji jagung. Rasulullah SAW bersabda:
Bapak-ibu, kita sering merasa waktu luang itu untuk ngobrol di pos ronda atau ngrumpi di depan rumah. Padahal, Muharram adalah momentum untuk hijrah. Hijrah itu bukan cuma pindah tempat, tapi pindah sifat. Yang tadinya pelit, jadi dermawan. Yang tadinya hobi ngadu domba antar tetangga, jadi perekat ukhuwah.
Ingat cerita tentang hijrahnya Nabi? Beliau pindah dari Makkah ke Madinah bukan buat liburan, tapi buat membangun peradaban. Kita di desa ini, harusnya bisa menerapkan semangat hijrah itu. Hijrah dari kebiasaan jarang ke masjid, menjadi ahli masjid. Jangan sampai kalah sama motor, motor saja ganti oli biar mesinya awet. Lah kita, kapan kita ganti oli hati kita? Cara ganti oli hati ya pakai istighfar sama shalat berjamaah.
Ulama besar, Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
Coba bayangkan, umur kita itu seperti es batu di bawah terik matahari. Makin lama makin mencair. Kalau cuma dipakai untuk hal-hal yang tidak manfaat, ya rugi bandar kita. Jangan sudah bau tanah, baru ingat mau tobat. Malu sama malaikat Raqib dan Atid yang sudah capek mencatat dosa kita yang isinya kebanyakan urusan duniawi.
Pesan saya di tahun baru ini, ayo kita bikin daftar target. Bukan target beli motor baru atau TV besar, tapi target akhirat. Misalnya: "Tahun ini, saya mau shalat tepat waktu," atau "Tahun ini, saya mau hapalin surat pendek." Jangan target muluk-muluk, yang penting konsisten. Ibarat menanam pohon cabai, sedikit-sedikit lama-lama panen juga.
Jadi, intinya, hijrah itu merubah diri menjadi lebih baik. Jangan jadi orang yang rugi, karena orang rugi itu kalau tahun ini amalannya persis seperti tahun lalu. Kalau amalannya sama saja, berarti kita jalan di tempat alias stasioner. Padahal dunia ini ibarat kereta api, jalannya cepat sekali.
Semoga di tahun baru Hijriah ini, Allah jadikan kita pribadi yang lebih taat, keluarga yang sakinah, dan desa kita semakin berkah, dijauhkan dari segala musibah. Mari kita tutup dengan doa: Ya Allah, di awal tahun ini, ampunilah dosa kami, berilah kami umur yang berkah, dan jadikanlah tahun ini tahun di mana kami lebih dekat dengan-Mu daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamiin.
Mohon maaf jika ada tutur kata saya yang kurang berkenan atau terlalu ceplas-ceplos. Namanya juga manusia, kalau salah itu wajar, kalau benar itu karena hidayah Allah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ