اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-bapak yang saya hormati, Ibu-ibu yang saya cintai, dan adik-adik yang saya banggakan. Yang saya muliakan para kiai, para asatidz, serta tokoh masyarakat setempat yang alhamdulillah masih berkenan hadir. Puji syukur kita haturkan kepada Allah, karena kalau bukan karena izin-Nya, mungkin kita lebih milih lanjut tidur atau nonton sinetron di rumah daripada duduk rapi di sini, ya kan?
Bapak Ibu, zaman dulu itu sebelum Nabi Muhammad ﷺ lahir, namanya zaman Jahiliyah. Jahiliyah itu artinya zaman kebodohan. Bukan bodoh karena nggak sekolah, tapi bodoh karena nggak kenal Allah. Dulu, kalau punya anak perempuan, mereka malu. Anak lahir bukannya disusui malah dikubur hidup-hidup. Lah, sekarang? Boro-boro dikubur, minta pulsa saja setiap hari. Itu mah bukan zaman jahiliyah, tapi zaman "kebutuhan meronta-ronta".
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
Artinya, Nabi Muhammad ﷺ datang bawa "lampu senter" paling terang untuk membedah kegelapan hati kita. Dulu orang berebut harta pakai pedang, sekarang berebut harta pakai medsos, beda bungkus tapi kelakuan kadang masih mirip. Nabi mengajari kita akhlak. Dulu orang nggak tahu mana yang halal dan mana yang haram. Mau makan saja bingung, semua disikat. Datang Nabi, kasih tahu: "Eh, jangan makan babi, itu haram. Jangan curi jemuran tetangga, itu dosa."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Ingat, Nabi itu nggak cuma dakwah pakai dalil, beliau juga pakai teladan. Nabi itu lucu, suka bercanda sama sahabat, tapi tetap berwibawa. Ada kisah seorang nenek datang ke Nabi, "Ya Rasulullah, doakan saya masuk surga." Nabi bilang, "Nenek-nenek nggak bisa masuk surga." Nenek itu nangis kejer. Nabi ketawa kecil, "Nenek, di surga nanti nenek nggak jadi nenek lagi, tapi jadi gadis muda yang cantik." Nah, itu cara Nabi mencerahkan hati orang dengan kasih sayang.
Sekarang, coba kita tanya pada diri sendiri: apakah cahaya Nabi sudah sampai di rumah kita? Kalau sudah, kenapa masih suka gibah di pos ronda? Kenapa masih pelit sama tetangga? Kalau kita benar-benar pengikut Nabi, mestinya wajah kita berseri, bukan malah cemberut kalau ditagih infaq pembangunan masjid.
Cahaya Islam itu membawa kemajuan. Dulu orang desa dianggap ndeso, tapi Nabi memuliakan siapa saja. Tidak ada yang lebih mulia di mata Allah kecuali yang paling bertaqwa. Jadi, Bapak-bapak, jangan minder kalau cuma petani, Ibu-ibu jangan minder cuma ibu rumah tangga. Di mata Nabi, kita semua sama, yang membedakan cuma ketaatan.
Mari kita tutup zaman kegelapan di hati kita dengan memperbanyak sholawat dan memperbaiki shalat. Kalau shalatnya beres, Insya Allah hidupnya terang. Jangan sampai kita sudah di zaman modern, HP canggih, tapi hati masih gelap gulita karena jauh dari Allah.
Sebagai penutup, mari kita tingkatkan iman. Jangan lupa, Islam itu memudahkan, bukan menyulitkan. Kalau hidup terasa gelap, buka lagi Al-Qur'an, baca terjemahannya, renungkan, maka hati akan terang benderang. Saya mohon maaf jika ada candaan yang menyinggung, niatnya cuma biar Bapak Ibu nggak ngantuk. Kalau ada benarnya itu dari Allah, kalau banyak salahnya, itu murni karena saya belum ngopi.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ