Logo Kangsantri AI

Cinta Ilahi, Kurban Sejati

Ceramah
M
Mahmud Syaltout
22 Mei 2026 3 menit baca 87 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang terhormat para alim ulama, sesepuh desa, Bapak Kepala Desa, tokoh masyarakat, para ustadz dan ustadzah, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah SWT. Puji syukur kita haturkan kepada Allah atas nikmat sehat dan sempat, sehingga kita bisa berkumpul di majelis ilmu yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, hari ini kita akan mengupas sesuatu yang unik. Sering kita mendengar kisah Narcissus, sosok yang begitu mencintai bayangan dirinya hingga lupa akan realitas, dan Echo, sosok yang kehilangan jati diri demi mengabdi pada keegoisan orang lain. Namun, dalam Islam, kita punya penawar dari penyakit hati ini: Idul Qurban.

Narcissus adalah simbol kesombongan (takabbur). Manusia yang merasa paling benar, paling hebat, dan paling suci. Padahal Allah SWT berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS. Al-Isra: 37).

Di desa kita yang damai ini, penyakit "Narcissus" sering muncul jika kita merasa lebih berhak dihormati, atau merasa paling benar sendiri. Padahal, Idul Qurban mengajarkan kebalikannya. Qurban adalah tentang membunuh "Narcissus" dalam diri kita. Nabi Ibrahim AS diminta menyembelih Ismail, hal yang paling ia cintai. Mengapa? Agar Ibrahim tidak memuja dunia, melainkan hanya memuja Allah.

Apa itu Echo? Echo adalah gema. Ia hanya memantulkan suara orang lain tanpa memiliki pendirian sendiri. Dalam hidup berjemaah, kita jangan menjadi Echo yang hanya ikut-ikutan tanpa ilmu, tapi jadilah muslim yang punya pendirian tauhid. Jangan sampai kita berqurban hanya karena ikut-ikutan tetangga, tanpa niat ikhlas kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari & Muslim).

Qurban bukan sekadar memotong hewan, bukan pula pamer kemewahan sapi atau kambing. Falsafah sebenarnya ada pada ayat:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37).

Mari kita bercermin. Jika Narcissus menatap air dan jatuh cinta pada dirinya, maka orang beriman menatap Idul Qurban dan jatuh cinta pada Rabb-Nya. Kita sembelih ego kita, kesombongan kita, dan sifat kikir kita. Kita bagikan daging tersebut kepada saudara kita yang membutuhkan, sebagai bentuk solidaritas sosial. Itulah Islam yang sesungguhnya.

Kesimpulannya, jadilah mukmin yang rendah hati, yang tidak memuja diri sendiri (meninggalkan Narcissus), dan memiliki jati diri sebagai hamba Allah (meninggalkan sifat Echo). Mari kita jadikan Idul Qurban tahun ini sebagai momentum untuk menyembelih hawa nafsu yang ada di dalam dada.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, membersihkan hati kita dari sifat sombong, dan memberikan kita keistiqamahan di jalan-Nya. Mohon maaf atas segala kekurangan, segala yang baik datang dari Allah, dan kesalahan dari diri saya pribadi.

Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →