اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, warga desa yang saya cintai. Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di majelis ini. Kalau saya lihat wajah-wajah di sini, rasanya adem sekali. Ibu-ibu yang di depan, maaf ya, kalau nanti ada yang mengantuk, tolong dicolek tetangga sebelahnya. Jangan sampai pas saya ceramah malah mimpi belanja di pasar.
Yang saya hormati para alim ulama, tokoh masyarakat, Bapak Kepala Desa, Bapak RW, RT, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah. Saya bangga sekali melihat semangat Bapak Ibu datang ke sini. Tidak perlu pakai jas mahal, tidak perlu pakai dasi, yang penting hatinya sudah "mantap" mau belajar ilmu agama. Tepuk tangan dulu untuk kita semua!
Tema kita hari ini adalah pendidikan keimanan keluarga Nabi Ibrahim AS. Kenapa harus Ibrahim? Karena Nabi Ibrahim itu "Bapaknya para Nabi". Kalau kita ingin anak-anak kita jadi orang sholeh seperti Nabi Ismail, ya kita harus meniru cara didik Nabi Ibrahim dan istrinya, Siti Hajar. Jangan sampai, anak kita disuruh sholat malah jawab: "Bentar Ma, lagi mabar (main bareng) game online!" Aduh, ini tantangan zaman sekarang, ya Bu ya.
Ibu-ibu, coba ingat kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan Siti Hajar dan Ismail bayi di tengah gurun. Tidak ada pohon, tidak ada warung kopi, tidak ada sinyal HP. Kalau sekarang ditinggal suami di tempat begitu, mungkin istrinya sudah teriak di Facebook: "Suami jahat, aku ditinggal di gurun!" Tapi Siti Hajar? Beliau ridho. Kenapa? Karena imannya kuat. Beliau tahu, Ibrahim melakukan itu atas perintah Allah.
Allah SWT berfirman:
Bapak Ibu, lihat doanya Nabi Ibrahim. Beliau tidak minta anaknya jadi konglomerat dulu, tidak minta anaknya jadi camat, tapi beliau minta anaknya dijaga dari syirik. Ini pelajaran! Pendidikan iman itu nomor satu.
Nabi Ibrahim juga mengajarkan kita "dialog" dengan anak. Ingat saat mau menyembelih Ismail? Beliau tidak langsung asal sikat. Beliau bertanya dulu: "Wahai anakku, aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?" (QS. Ash-Shaffat: 102). Inilah parenting ala Nabi. Bukan berarti orang tua selalu benar dan otoriter, tapi ada musyawarah. Kalau anak zaman sekarang, mungkin Ismail akan jawab: "Yah, jangan dong Yah, aku belum nikah, belum ngerasain motor baru!" Tapi Ismail adalah anak hebat, dia menjawab: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu."
Nah, kalau kita mau anak kita sholeh, jangan cuma didoakan pas lagi ingat saja. Doa itu setiap habis sholat, jangan cuma pas ingat pas mau bagi warisan. Nabi bersabda:
Artinya, ya Bapak Ibu lah "pabriknya" watak anak. Kalau bapaknya hobi judi, ya jangan kaget kalau anaknya jadi ahli kartu. Kalau ibunya hobi ghibah dari pagi sampai sore, jangan kaget kalau anaknya jadi pengamat gosip nasional.
Maka, mari kita jadikan rumah kita sebagai miniatur sekolah Ibrahimiyah. Ajarkan anak sholat, ajarkan kejujuran, dan yang paling penting, jadilah contoh. Jangan sibuk suruh anak mengaji, sementara orang tuanya sibuk nonton sinetron azab. Anak itu peniru ulung, Bu. Kalau lihat bapaknya sholatnya bolong-bolong, ya dia bakal menganggap sholat itu "pilihan", bukan kewajiban.
Kesimpulannya, pendidikan iman keluarga Ibrahim itu kuncinya tiga: Pertama, doa yang tidak putus. Kedua, ketaatan total pada Allah. Ketiga, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Jangan pelit sama anak, tapi jangan pelit juga kasih didikan iman. Harta banyak kalau anak tidak sholeh, buat siapa? Buat rebutan warisan yang akhirnya bikin silaturahmi putus. Nauzubillah min dzalik.
Sebelum saya tutup, saya mohon maaf kalau ada candaan saya yang menyinggung perasaan Bapak atau Ibu. Kalau ada yang tersinggung, berarti kena, kalau tidak ya Alhamdulillah. Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, tawadhu, dan istiqamah di jalan-Mu, seperti keluarga Ibrahim.
Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangan. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah itu murni dari kebodohan saya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ