اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa yang kita tuakan, Bapak Kepala Desa yang selalu sigap melayani warga, para asatidz dan asatidzah yang ilmunya selalu kita nantikan, serta seluruh bapak, ibu, dan adik-adik warga desa yang saya cintai. Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat walafiat, tanpa kurang suatu apa pun. Kalau biasanya bapak-bapak di sini kalau dengar pengajian bawaannya ingin tidur, malam ini saya lihat wajahnya segar semua. Mungkin karena tahu nanti setelah acara ada berkat ya? Jangan khawatir, pahalanya dapat, makanannya pun insyaallah mengenyangkan.
Bapak Ibu sekalian, kenapa kita berkumpul di sini? Ya, untuk merayakan Maulid Nabi. Ada yang tanya, "Pak Ustaz, buat apa sih kita repot-repot bikin acara Maulid?" Wah, ini pertanyaan orang yang kurang piknik rohani. Maulid bukan cuma soal makan bersama, tapi soal "kangen-kangenan" sama Baginda Nabi. Masa sama artis saja kita hapal jadwalnya, sama Nabi kita lupa kapan lahirnya?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
Artinya, hidup ini jangan asal hidup, Bapak-Ibu. Kalau meniru gaya rambut orang luar negeri, kita cuma mirip sebentar. Tapi kalau meniru akhlak Nabi, insyaallah kita mirip sampai ke surga nanti. Nabi kita itu luar biasa. Beliau jujur, bahkan sebelum jadi Nabi saja sudah dijuluki Al-Amin atau si orang yang terpercaya. Beda sama zaman sekarang, ada orang jujur malah dibilang "kurang pintar cari celah". Astaghfirullah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
Nah, tugas kita sekarang adalah mempraktekkan akhlak itu di desa kita. Misalnya, bagaimana kalau ada tetangga yang baru beli motor baru? Jangan malah diomongin, "Eh, itu pasti cicilannya berat tuh," tapi ikutlah senang. Itu akhlak Nabi. Kalau ada tetangga yang musibah, kita bantu. Jangan malah jadi "wartawan dadakan" yang kerjanya cuma nyebar gosip.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berpesan:
Jadi, kita rayakan Maulid ini sebagai bukti cinta. Kalau kita cinta, masa iya kita nggak kenal? Kita pelajari sifat Nabi, Nabi itu pemaaf luar biasa. Beliau tidak pernah membalas orang yang menghinanya. Kalau kita? Disenggol sedikit di jalan saja, langsung keluar semua "kebun binatangnya". Yuk, mulai malam ini, kita latihan sedikit-sedikit jadi pemaaf.
Intinya, Maulid ini ajakan bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jadikan rumah kita seperti rumah Nabi, yang penuh kasih sayang bukan penuh "meja hijau" karena ribut sama tetangga. Jadikan interaksi kita seperti interaksi Nabi, yang selalu menyejukkan.
Sebagai penutup, mari kita berjanji, setelah pulang dari sini, mari kita lebih disiplin shalat berjamaah di masjid, lebih sabar menghadapi keluarga, dan lebih ringan tangan membantu sesama. Insyaallah, itu adalah cara terbaik merayakan Maulid yang sesungguhnya.
Mohon maaf jika ada tutur kata saya yang kurang berkenan atau bercanda saya yang kelewatan. Saya ini manusia biasa, yang kalau salah ya mohon dimaklumi, kalau benar itu semata-mata dari Allah. Semoga kita semua dikumpulkan bersama Rasulullah di surga kelak.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ