اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, tokoh masyarakat yang saya muliakan, serta seluruh Bapak-bapak dan Ibu-ibu hadirin pengajian yang dirahmati Allah SWT. Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya menyapa Anda semua, para ‘Srikandi’ Al-Qur’an, para benteng keluarga, para ibu pejuang agama yang luar biasa.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali di majelis yang penuh berkah ini. Sungguh suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di tengah-tengah Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan, semoga kehadiran kita semua dicatat sebagai amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT.
Hari ini, izinkan saya mengajak kita semua, khususnya saya sendiri, untuk merenungi dan mengupas tuntas sebuah amanah yang sangat besar dari Allah SWT, yaitu tentang betapa pentingnya peran seorang ibu dalam mendidik anak-anak kita sesuai ajaran agama. Ibu-ibu sekalian, kalau kita bicara ibu, wah, itu kan pahlawan sejati, ya? Pahlawan yang selalu siaga 24 jam, tanpa tanggal merah, tanpa lembur, bahkan tanpa gaji. Hebat kan? Tapi ini bukan sekadar hebat duniawi, ini adalah ladang pahala yang luar biasa jika kita jalankan dengan niat lillahi ta’ala.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintah-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Ayat yang mulia ini menjadi pengingat pertama buat kita, para ibu. Pelihara diri kita dan keluarga. Nah, siapa yang tanggung jawab utama memelihara anak-anak kita? Tentunya ibu punya peran sentral. Ibaratnya, kalau anak itu seperti bibit pohon, maka ibu itu adalah pupuk, air, dan matahari bagi si bibit. Kalau pupuknya bagus, siramnya rutin, jemurnya pas, nanti tumbuhnya jadi pohon yang kokoh berbuah lebat. Tapi kalau pupuknya salah, airnya kebanyakan bikin busuk, atau panas nggak terjangkau, ya hasilnya... hmm, bisa jadi pohon yang merana.
Pendidikan agama pada anak ini bukan cuma soal ngajarin sholat 5 waktu, tapi seumur hidup. Dari mulai dia bangun tidur sampai mau tidur lagi, itu tuh ladang pendidikan. Pernah nggak sih, anak kita bangun tidur, bukannya baca doa bangun tidur, malah teriak, "Mama, WiFinya mana?!" Wah, ini alarm bahaya, Ibu-ibu! Ini berarti pendidikan konektivitasnya lebih kuat daripada konektivitas sama Allah. Langsung diingetin, Nak, sebelum dunia maya bikin kita lupa sama dunia akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Kullukum raa’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi." Artinya, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." Ibu, kita ini pemimpin di rumah. Siapa yang mau dimintai pertanggungjawaban pertama kali kalau anak kita salah jalan? Ya kita sebagai ibunya.
Jadi, Ibu-ibu, kita harus sadar betul. Tugas mendidik anak ini bukan sekadar menyuapi makan, memandikan, mencarikan sekolah yang bagus. Itu penting, tapi yang terpenting adalah menanamkan nilai-nilai agama. Mulai dari mana? Dari rumah. Dari ibu. Kalau ibunya suka ngegosip tanpa batas, nggak heran anaknya nanti gede jadi tukang gibah keliling kompleks. Kalau ibunya suka mengeluh setiap ada masalah, nanti anaknya jadi cengeng dan nggak punya mental baja.
Kita perlu mencontoh para ibu hebat di zaman para nabi dan sahabat. Bagaimana Luqman Al-Hakim menasehati anaknya, yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an, "Ya bunayya la tushrik billahi innasy-syirka la-zhulmun ‘azhim." (Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.) Dan nasehat-nasehat lainnya. Ini yang harus kita tanamkan.
Bagaimana caranya? Ya, kita harus jadi teladan. Anak itu kayak robot ATM, dia akan meniru apa yang kita masukkan. Kalau kita masukkan input kebaikan, insya Allah outputnya kebaikan. Mulai dari hal terkecil. Ajari anak baca doa sebelum makan, sebelum tidur, sebelum keluar rumah. Sering-seringlah membaca Al-Qur’an di depan anak, meskipun anak belum bisa baca. Suaranya itu, lho, menenangkan. Nanti, kalau ada malaikat pencatat amal datang, dia lihat ibunya lagi ngaji, wah bisa dapat bonus senyum dari malaikat. Ya, jangan cuma senyum sama yang lagi jualan di online shop.
Bahkan, para ulama sepakat bahwa pendidikan aqidah (keimanan) itu lebih dahulu daripada pendidikan lainnya. Kenapa? Ibarat fondasi rumah. Kalau fondasinya kuat, mau dibangun berapa lantai juga nggak masalah. Tapi kalau fondasinya rapuh, sedikit gempa sedikit saja, rumahnya bisa ambruk. Anak kita juga begitu. Kalau aqidahnya kuat, dia akan tahu siapa Tuhannya, siapa Nabinya, apa kitabnya. Dia akan punya pegangan hidup.
Ini nggak harus jadi ustadzah lho, Ibu-ibu. Nggak perlu sampai hafal kitab tebal. Cukup kita belajar sedikit, pahami sedikit, lalu ajarkan kepada anak kita. Cari sumber-sumber terpercaya. Kalau perlu, ajak suami diskusi. Suami kan bos di rumah, tapi bos yang baik ya harus ngemong istrinya, ngajak ibunya anak-anaknya belajar bareng. Jangan sampai nanti ibunya bingung mau ngajarin apa, eh suaminya malah asyik nonton bola sampai lupa waktu. Wah, itu bukan kepemimpinan namanya, itu namanya pel