اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT. Malam ini wajah bapak-bapak dan ibu-ibu bersinar semua, mungkin karena habis makan enak di acara acara haflah ini ya? Yang terhormat para alim ulama, sesepuh desa yang kita tuakan, Bapak Kepala Desa, para asatidz dan asatidzah yang sabar mengajar anak-anak kita sehingga tidak jadi "generasi micin", serta seluruh jamaah yang saya cintai.
Bapak-Ibu, hari ini kita merayakan Haflah Akhirussanah. Istilah kerennya mah "perpisahan", tapi dalam Islam, perpisahan itu bukan berarti putus silaturahmi. Ini adalah momen kita bersyukur, anak-anak sudah khatam ngajinya, sudah lancar baca Quran-nya. Wah, bangga sekali kita sebagai orang tua. Jangan sampai nanti di rumah, anak-anaknya disuruh ngaji malah jawab, "Bentar Bu, lagi scroll TikTok". Hati-hati, nanti pas di akhirat ditanya, "Kamu pintar scroll layar, tapi kok nggak pintar baca Quran?"
Dunia ini tempat kita menanam. Ibarat petani di desa kita ini, kalau mau panen padi ya harus nanam dari sekarang. Kalau nanamnya rumput teki, ya jangan ngarep panen beras. Man zar'a hasadan, siapa yang menanam dia akan menuai. Allah berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 18:
Hari esok yang dimaksud bukan hari Senin besok ya, Pak, Bu, tapi hari setelah kita dipanggil Allah. Anak-anak yang khatam hari ini adalah investasi kita. Rasulullah SAW bersabda:
Bapak-Ibu, kalau anak-anak kita cuma pinter matematika tapi nggak bisa baca doa buat orang tuanya, nanti pas kita di kuburan, siapa yang bakal kirim doa? Masa nanti di kuburan kita mau nunggu kiriman "like" atau "share" dari anak? Ya nggak bisa! Kita butuhnya doa, Rabbighfirli waliwalidayya.
Jadi, Haflah Akhirussanah ini adalah pengingat bahwa ilmu itu bukan cuma buat dipajang di ijazah yang digantung di ruang tamu. Ilmu itu harus diamalkan. Jangan sampai anaknya pinter agama, eh bapaknya masih hobi jadi "menteri keuangan" di meja judi atau tempat yang nggak benar. Astaghfirullah. Anak-anak melihat kita, Bapak dan Ibu. Al-waladu sirrun li abihi, anak itu rahasia bapaknya (cerminan orang tuanya).
Tadi saya lihat anak-anak baca Quran, masya Allah merdu sekali. Bandingkan dengan kalau anak-anak sekarang sudah pegang HP, kadang lebih fasih suara Google Maps daripada suara murottal. Mari kita didik mereka agar setelah lulus di sini, mereka tetap cinta Quran. Inget ya, masuk surga itu bukan karena gelar sarjana, tapi karena takwa.
Jangan sampai ilmu yang didapat selama setahun ini menguap begitu saja seperti embun di pagi hari setelah kena panas matahari. Harus ada kelanjutannya. Bapak-Ibu juga jangan mau kalah, jangan cuma anaknya yang ngaji, bapak-ibunya kalau bisa ikut pengajian rutin. Masak kalah sama cucu? Malu dong sama kumis!
Intinya, mari jadikan haflah ini sebagai babak baru. Anak-anak jadi lebih saleh, orang tua jadi lebih suportif. Dan yang paling penting, jangan pelit sama guru ngaji. Itu yang ngajarin anak kita lho, jangan sampai honor guru ngajinya dikasih "seiklasnya" tapi beli rokok sebungkus mah tidak pakai mikir. Itu rezeki mereka, berkahi mereka supaya anak kita juga diberkahi ilmunya.
Mari kita tutup dengan doa. Semoga anak-anak kita menjadi hafidz-hafidzah, menjadi penolong orang tua di akhirat kelak.
Ya Allah, jadikanlah ilmu yang dipelajari anak-anak kami ilmu yang manfaat. Jadikanlah mereka qurrata a'yun bagi orang tuanya. Ampunilah dosa kami, dosa guru-guru kami, dan dosa kedua orang tua kami. Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a'yun waj'alna lil muttaqina imama.
Mohon maaf lahir dan batin kalau ada kata-kata saya yang menyinggung, apalagi kalau ada yang tersindir. Yang tersindir berarti lagi merasa, yang merasa berarti mau berubah. Terima kasih atas perhatiannya, semoga berkah untuk kita semua.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ