Logo Kangsantri AI

Politik dalam Timbangan Islam

Ceramah
A
Amfibi67
31 Mei 2026 3 menit baca 54 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Yang saya muliakan, para alim ulama, sesepuh desa yang tawadhu, Bapak Kepala Desa beserta jajaran perangkat desa, Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta adik-adik remaja masjid yang luar biasa semangatnya hari ini.

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT. Senang sekali rasanya bisa berdiri di tengah-tengah Bapak dan Ibu sekalian. Cuaca hari ini cerah, secerah wajah Bapak/Ibu yang saya lihat sepertinya sudah mulai memikirkan musim panen, atau mungkin... musim politik yang sebentar lagi datang?

Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah, bicara politik itu ibarat makan sambal. Kalau tidak pas takarannya, bikin sakit perut. Kalau terlalu pedas, rumah tangga bisa ribut. Ada tetangga, gara-gara beda pilihan calon, sampai gila (nggak bagi-bagi) lauk pauk. Padahal, politik dalam Islam itu ibarat memilih sopir bus. Kita cari yang bisa menyetir dengan benar agar sampai tujuan dengan selamat, bukan yang cuma jago "ngegas" tapi remnya blong.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Artinya: "Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..." (QS. An-Nisa: 58).

Ingat, suara Bapak/Ibu saat pemilu itu adalah amanah. Jangan sampai suara Bapak/Ibu ditukar dengan amplop yang isinya cuma cukup buat beli minyak goreng dua liter, tapi dampaknya dipakai lima tahun. Itu namanya "jual murah". Nanti kalau calonnya jadi, dia sibuk balik modal, Bapak/Ibu yang gigit jari di sawah. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Artinya: "Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat, lalu ia wafat dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya" (HR. Muslim).

Jadi, politik itu dakwah. Jangan gara-gara politik kita jadi saling sikut. Di desa kita ini guyub rukun, jangan mau diadu domba sama orang yang nggak tahu rasa sambal terasi buatan Ibu-ibu di sini. Politik itu cuma alat, bukan tujuan. Tujuan kita adalah Baldatun Tayyibatun Wa Rabbun Ghafur (negeri yang baik dan diampuni Allah).

Ada kisah seorang kiai ditanya, "Kiai, siapa calon paling baik?". Beliau jawab, "Yang kalau jadi pemimpin, dia takut kepada Allah, dan kalau dia gagal, dia takut kepada rakyatnya." Kalau calonnya baru kampanye sudah menebar fitnah, itu bukan pemimpin, itu pembuat kekacauan.

Politik yang baik itu yang mementingkan kemaslahatan umum (al-mashlahah al-‘ammah). Imam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menekankan bahwa kepemimpinan itu untuk menjaga agama dan mengatur dunia. Jadi, pilihlah yang kalau jadi pemimpin, dia pro-rakyat, bukan pro-proyek.

Mari kita dewasa dalam berpolitik. Jangan marah-marah kalau ada tetangga beda pilihan. Cukup doakan agar pilihannya dan pilihan kita sama-sama diberi hidayah oleh Allah. Jangan sampai gara-gara beda calon, satu masjid jadi kubu-kubuan. Shalat tetap berdampingan, jangan sampai shalatnya diatur berdasarkan partai. Hadeh, itu sudah terlalu jauh.

Sebagai penutup, mari kita simpulkan: Pertama, suara kita adalah ibadah. Kedua, jangan jadi pemilih yang "dijual murah". Ketiga, tetap jaga persaudaraan, karena calon pemimpin itu datang dan pergi, tapi tetangga adalah saudara terdekat kita.

Mari kita berdoa kepada Allah. Ya Allah, jadikanlah desa kami desa yang penuh keberkahan. Berikanlah kami pemimpin yang jujur, amanah, dan takut kepada-Mu. Hindarkan kami dari fitnah perpecahan, dan satukanlah hati kami dalam iman dan Islam. Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar.

Mohon maaf jika ada candaan yang kurang berkenan, kalau Bapak/Ibu tertawa, itu bonus biar sehat. Kalau ada yang tersindir, ya tandanya obatnya manjur. Terima kasih atas perhatiannya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →