اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya hormati para alim ulama dan asatidz, yang senantiasa menjadi pelita ilmu bagi kita semua. Yang saya muliakan Ibu Ketua Majelis Taklim, segenap jajaran pengurus, serta seluruh ibu-ibu jamaah pengajian yang dirahmati Allah SWT. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita dalam majelis ilmu yang penuh keberkahan ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Ibu-ibu sekalian yang dimuliakan Allah, saat ini kita berada di penghujung bulan Rabiul Awal. Bulan yang kita kenal sebagai bulan kelahiran manusia agung, pembawa risalah kebenaran, Nabi Muhammad ﷺ. Kita telah merayakan kelahirannya dengan berbagai majelis maulid, lantunan shalawat yang menggema, dan pengajian-pengajian yang membahas sirah nabawiyah. Namun, pertanyaannya adalah, ketika bulan ini berlalu, apakah semangat kita dalam meneladani Rasulullah juga ikut berlalu?
Seringkali kita terjebak dalam euforia ritual tahunan. Kita sibuk dengan perayaan, namun lalai akan substansi. Padahal, tujuan utama peringatan maulid adalah untuk memperbarui komitmen kita dalam menapaki jalan hidup Rasulullah. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini tidak dibatasi oleh waktu. Menjadikan Nabi sebagai teladan berlaku setiap detik, setiap hari, baik di bulan Rabiul Awal maupun bulan-bulan setelahnya. Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah Rabiul Awal pergi?
Pertama, menjaga kontinuitas ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
Ibu-ibu, jangan sampai setelah bulan maulid, shalawat kita berkurang. Jadikan shalawat sebagai napas harian, bukan hanya saat ada acara. Rumah kita harus tetap hangat dengan zikir dan suasana religius sebagaimana Rasulullah membangun rumah tangganya.
Kedua, meneladani akhlak Rasulullah dalam muamalah. Nabi tidak hanya mengajarkan shalat, tetapi juga bagaimana beliau menjadi sosok yang jujur, sabar, dan penyayang. Di rumah, ibu-ibu adalah madrasatul ula bagi anak-anak. Jika kita ingin meneladani Nabi, mulailah dengan cara kita mendidik anak dengan penuh kasih sayang, bukan dengan kemarahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
Ketiga, memperdalam ilmu tentang beliau. Jangan berhenti belajar sirah. Banyak ibu-ibu yang hapal nama-nama artis, namun sedikit yang mengenal nama-nama istri Nabi atau perjuangan beliau dalam menegakkan dakwah. Mari kita isi bulan-bulan setelah Rabiul Awal dengan kajian kitab sirah yang rutin, agar cinta kita kepada Nabi semakin berlandaskan ilmu, bukan sekadar emosi sesaat.
Ibu-ibu sekalian, waktu terus berjalan. Rabiul Awal akan pergi, digantikan bulan-bulan lainnya. Apakah kita akan menjadi pribadi yang lebih baik? Tentu kita berharap demikian. Mari jadikan momentum maulid sebagai "titik balik" untuk hijrah menuju ketaatan yang lebih konsisten. Jangan biarkan semangat iman kita ikut "gugur" bersamaan dengan bergantinya kalender.
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah. Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahab lana min ladunka rahmatan innaka antal wahhab. Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.
Terima kasih atas segala perhatian ibu-ibu sekalian. Saya mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus mengikuti jejak Rasulullah ﷺ hingga akhir hayat kita.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ