اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat pengasuh pondok pesantren, yang saya takdzimi para asatidz dan asatidzah yang luar biasa sabarnya menghadapi kelakuan santri, serta yang paling saya banggakan, rekan-rekan santri baru yang wajahnya masih terlihat "polos" tapi biasanya menyimpan sejuta rencana nakal di balik peci dan kerudung itu.
Selamat datang di dunia pesantren! Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah, karena kalian adalah orang-orang terpilih. Kalau kalian merasa tersesat sampai di sini, tenang saja, itu namanya tersesat di jalan yang benar!
Kawan-kawan santri yang saya cintai, kenapa kalian memilih jadi santri? Ada yang karena disuruh orang tua? Atau karena di rumah hobi main game sampai lupa waktu, lalu orang tua berpikir, "Ya sudah, biar HP-nya disita di pondok saja"? Apapun alasannya, kalian sekarang sedang berada di medan perjuangan. Menjadi santri itu bukan berarti harus selalu tampil serius dengan sarung melilit sampai sedada kayak mau jadi ninja. Santri itu harus enjoy, tapi tetap berakal.
Ingat, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
Tahu tidak? Derajat yang diangkat itu bukan berarti nanti kalau kalian pulang kampung, tiba-tiba langsung bisa terbang atau kebal dicubit. Tapi ilmu ini akan membuka cakrawala kalian. Rasulullah SAW bersabda:
Di sini, kalian tidak hanya belajar kitab kuning. Kalian belajar management waktu yang paling ekstrem. Bayangkan, bangun jam 4 pagi sebelum subuh, kalau telat sedikit saja sudah disambut dengan "kasih sayang" berupa siraman air dari pengurus kamar. Itu bukan bullying, itu metode hydrotherapy alami agar kalian tidak kena penyakit malas kronis!
Dulu, Imam Syafi'i pernah berkata tentang kerasnya menuntut ilmu:
Kalian tahu kenapa harus sabar? Karena di pesantren, barang di lemari itu musuhnya banyak. Sendal kalian sering "bermigrasi" ke depan masjid, atau kadang sampo kalian punya jiwa sosial tinggi, dipakai berjamaah oleh satu kamar. Itulah seni kehidupan! Itulah latihan berbagi yang sesungguhnya. Kalau kalian bisa bertahan tidak marah saat sarung kesayangan dipakai teman tanpa izin, selamat, level kesabaran kalian sudah di atas rata-rata manusia biasa.
Tapi ingat, santri yang keren itu adalah santri yang bisa menyeimbangkan antara ngaji dan kreativitas. Jangan sampai saat ngaji kitab, kepala kalian terkantuk-kantuk seperti burung mematuk padi, tapi pas giliran piket makan, mata langsung melek seolah-olah sudah minum kopi sepanci. Rasulullah SAW bersabda:
Jadi, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kalau sedang hafalan (setoran), konsentrasi. Kalau sedang makan, syukuri. Dan kalau sedang rindu orang tua, jangan menangis di pojokan kamar sambil memeluk bantal, tapi berdoalah kepada Allah agar orang tua kalian tetap sehat dan bangga melihat kesuksesan kalian kelak.
Sebagai penutup, dunia pesantren ini adalah miniatur kehidupan. Di sini kalian belajar menjadi mandiri, belajar mencintai sesama, dan yang terpenting, belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Jangan jadi santri musiman yang hanya semangat di bulan pertama saja. Jadilah santri yang tahan banting, santri yang kalau ditanya kitab, jawabannya lugas, dan kalau diajak berbuat baik, semangatnya tidak pernah luntur.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, jadikanlah santri-santri baru ini para penuntut ilmu yang amanah, cerdaskan otak mereka agar mudah memahamai agama, lembutkan hati mereka agar patuh pada guru, dan berikan mereka kesabaran seluas samudera dalam menjalani hari-hari di pondok. Jadikanlah mereka kebanggaan orang tua, agama, dan bangsa. Amin.
Mohon maaf jika ada candaan saya yang mungkin mengenai titik saraf kesabaran kalian, namanya juga manusia, kalau sempurna itu namanya malaikat atau malaikat yang tersesat. Terima kasih atas perhatiannya, saya pamit undur diri karena sudah mulai lapar dan teringat jadwal makan siang di dapur umum.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ