Logo Kangsantri AI

Ahlus Sunnah: Identitas Sejati

Ceramah
Y
Yon 17
25 Agustus 2026 7 menit baca 39 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} (الحشر: 7).

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un… Eh, kok ceramah kok malah ngaji inna lillahi? Tenang, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Ini namanya pemanasan, biar otot-otot suara kita siap semua. Yang penting kan hati kita juga siap mendengarkan ilmu.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar ibu-ibu sekalian? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah, sehat walafiat, dompet tebal, dan hati selalu riang gembira. Khususnya kepada Bapak Kiai kami yang terhormat, para sesepuh, tokoh masyarakat, seluruh panitia pengajian yang luar biasa, dan tentu saja, para ibu-ibu yang paling cantik sedunia, saya ucapkan terima kasih banyak atas undangannya. Senang sekali bisa berkumpul di sini dalam majelis yang insya Allah penuh berkah ini.

Hari ini, kita akan membahas tema yang mungkin sering kita dengar, tapi kadang bikin bingung: "Siapa sih Ahlus Sunnah itu?" Wah, kalau dengar kata "Ahlus Sunnah," mungkin ada yang langsung kepikiran, "Wah, ini kayaknya serius nih." Padahal, ibu-ibu, istilah Ahlus Sunnah itu sebenarnya sederhana saja, kok. Ibaratnya begini, kita ini kan hidup di dunia yang isinya macam-macam orang. Ada yang suka makan pedas, ada yang suka makan manis. Nah, Ahlus Sunnah itu adalah orang-orang yang mengikuti cara hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, itu intinya.

Jadi, apa sih yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama'ah? Secara bahasa, "Ahlus Sunnah" itu artinya orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi. Sunnah itu kan bukan cuma cara Nabi pakai baju atau cara Nabi makan kurma. Sunnah itu mencakup semua ajaran, perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad ﷺ. Jadi, kalau kita mengaku sebagai Ahlus Sunnah, berarti kita berusaha mencontoh beliau dalam segala aspek kehidupan kita.

Terus, kenapa ada kata "wal Jama'ah"-nya? Itu artinya "dan kaum Muslimin". Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi ﷺ dan juga sepakat (berjama'ah) dengan kaum Muslimin lainnya dalam memahami ajaran Islam. Kenapa ini penting? Supaya kita nggak jadi orang yang nyempal-nyempal sendiri, yang merasa paling benar, tapi ternyata malah jauh dari ajaran Nabi.

Dalam Al-Qur'an surat Al-Hasyr ayat 7 tadi kan sudah disebutkan, "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini jelas sekali, ibu-ibu. Kalau Nabi sudah kasih tahu begini, ya kita terima. Kalau Nabi sudah larang begitu, ya kita tinggalkan. Simpel, kan? Kayak kalau suami bilang, "Sayang, jangan lupa masak rendang ya hari ini," ya kita masak rendang. Kalau suami bilang, "Sayang, jangan lupa beli terasi lagi di warung," ya kita beli terasi. Nah, ini kan perintah dari Nabi, yang jelas lebih penting dari suami kita, hehe.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya berada dalam neraka, kecuali satu golongan." Para sahabat bertanya, "Siapakah satu golongan itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Yaitu golongan yang berada di atas apa yang aku berada di atasnya hari ini, dan para sahabatku." (HR. Tirmidzi dan Abu Daud, dishahihkan Al-Albani).

Nah, ini yang jadi pertanyaan besar: golongan mana yang selamat itu? Jawabannya ada di akhir hadits tadi. Yaitu mereka yang mengikuti jejak Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Jadi, kalau kita ingin selamat, ingin masuk surga seperti yang dijanjikan, ya kita harus ikut cara hidup Nabi dan cara hidup sahabatnya. Jangan sok-sokan bikin ajaran baru, nanti malah jadi golongan yang ke-73, nauzubzubillah.

Pernah lihat anak kecil nggak, ibu-ibu? Kalau ibunya bilang, "Nak, jangan main api ya," dia patuh. Itu dia mengikuti "sunnah" ibunya. Kalau dia bandel, main api, nanti kebakar, kan nangis. Nah, kurang lebih seperti itu. Allah dan Rasul-Nya sudah kasih tahu mana yang baik, mana yang buruk. Kalau kita patuh, insya Allah kita selamat dunia akhirat. Kalau kita bandel, ya siap-siap saja, hehe.

Terus, apa saja sih ciri-ciri Ahlus Sunnah wal Jama'ah ini? Yang pertama, mereka selalu berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ini sudah jelas. Mereka nggak akan meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah demi pendapat pribadi atau hawa nafsu. Kalau ada perbedaan pendapat, mereka akan kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah untuk mencari solusi. Ibaratnya kalau ada dispute sama tetangga soal batas tanah, ya kita lihat sertifikatnya, bukan malah debat sambil ngopi di teras.

Kedua, mereka mengikuti pemahaman para sahabat Nabi. Kenapa sahabat? Karena merekalah orang-orang yang paling dekat dengan Nabi, paling paham maksud Nabi. Mereka melihat langsung, mendengar langsung. Jadi, kalau kita mau paham Islam dengan benar, ya lihat pemahaman para sahabat.

Ketiga, mereka meyakini sifat-sifat Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak sifat), takyif (bertanya bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan). Ini agak teknis ya, ibu-ibu. Intinya, kita percaya Allah itu punya sifat-sifat sempurna, tapi kita tidak berusaha membayangkan "bagaimana" sifat itu, karena akal kita terbatas. Kayak kita tahu suami kita gagah, tapi kan kita nggak bisa membayangkan "bagaimana" gagahnya dia sampai ke ubun-ubun, ya kan? Cukup tahu saja kalau gagah. Begitu juga Allah.

Keempat, mereka mencintai dan menghormati seluruh sahabat Nabi. Ya, seluruhnya. Tidak membeda-bedakan, tidak mencela. Mereka tahu bahwa sahabat adalah orang-orang pilihan yang dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya. Kalau ada yang suka nyinyirin sahabat Nabi, wah, patut dicurigai itu, ibu-ibu. Sama kayak kalau ada yang suka ngomongin orang lain, kita juga jadi nggak percaya kan?

Kelima, mereka menegakkan amar ma'ruf nahi munkar dengan cara yang hikmah. Maksudnya, mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran itu harus dengan cara yang baik, tidak kasar, tidak memecah belah. Sesuai dengan gaya kita, ibu-ibu. Kalau mau ngajak tetangga arisan, kan kita harus rayu-rayu dulu, kasih makanan enak, baru dia mau. Nggak mungkin kan kita paksa-paksa, nanti malah ngambek. Begitu juga dalam dakwah.

Lalu, siapa ulama-ulama yang menjadi rujukan Ahlus Sunnah wal Jama'ah ini? Tentu saja para imam besar. Ada Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah. Juga ada tokoh-tokoh salafus shalih yang menjadi panutan kita. Mereka ini semua sepakat dalam pokok-pokok ajaran Islam, meskipun mungkin ada perbedaan dalam furu' (cabang-cabang hukum) yang itu wajar. Ibaratnya, kita semua sepakat mau bikin kue ulang tahun, tapi mungkin ada yang pakai coklat, ada yang pakai keju. Yang penting kan kuenya jadi.

Jadi, ibu-ibu sekalian, menjadi Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu bukan berarti kita merasa paling suci, paling benar, lalu memandang rendah orang lain. Sama sekali bukan. Justru dengan mengikuti Sunnah Nabi, kita jadi semakin rendah hati, semakin sadar akan kekurangan diri, dan semakin banyak berbuat baik. Kita juga diajarkan untuk menghormati perbedaan pendapat yang memang ada dalam Islam, asalkan tetap berpegang pada prinsip yang kuat.

Kebayang kan, ibu-ibu? Menjadi Ahlus Sunnah itu seperti kita mengikuti peta yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk menuju surga. Peta itu sudah jelas, jalannya sudah ditunjukkan oleh para sahabat. Kita tinggal mengikuti saja. Jangan sampai kita tersesat di jalan, karena sibuk ngikutin google maps palsu yang malah bawa kita ke jurang.

Mari kita terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus berusaha mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan utama dalam setiap gerak-gerik kita. Insya Allah, kita akan menjadi bagian dari golongan yang selamat itu.

Baiklah, ibu-ibu sekalian, sepertinya waktu kita sudah hampir habis. Intinya, Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang setia mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya, berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, serta menjaga persatuan umat. Mari kita jadikan ini sebagai semangat kita dalam beribadah dan berinteraksi.

Terima kasih banyak atas perhatiannya. Mohon maaf apabila ada salah kata, salah ucap, atau bahkan salah tingkah dari saya. Maklum, namanya juga manusia, kadang lupa, kadang khilaf, tapi kalau soal utang, itu lain cerita, hehe. Semoga apa yang kita pelajari hari ini bermanfaat.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →