اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang saya hormati para alim ulama, tokoh masyarakat, ibu-ibu pengurus majelis taklim, dan yang paling utama, seluruh jamaah ibu-ibu yang dirahmati Allah SWT. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah, karena atas izin-Nya kita bisa berkumpul di majelis ilmu yang mulia ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW. Ibu-ibu sekalian, terima kasih atas kehadirannya. Hari ini, kita akan membahas sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian kita, yaitu tentang "Sifat dan Penyakit Dunia".
Dunia ini, Ibu-ibu, ibarat bayangan. Jika dikejar, ia akan lari. Namun jika kita berpaling, ia akan mengikuti. Masalahnya, banyak di antara kita yang justru terikat hatinya pada dunia hingga lupa pada tujuan penciptaan. Rasulullah SAW bersabda:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
"Cinta dunia adalah pokok dari segala kesalahan." (HR. Baihaqi).
Mengapa demikian? Karena penyakit dunia yang paling berbahaya adalah Wahn, yaitu cinta dunia yang berlebihan dan takut mati. Ini adalah penyakit hati yang membuat seorang hamba menjadi lalai. Kita sering merasa cemas jika harta berkurang, tetapi tidak cemas jika iman berkurang. Kita risau jika perabotan rumah tangga ketinggalan zaman, namun jarang menangis saat tertinggal shalat berjamaah atau tilawah Al-Qur'an.
Sifat dunia itu menipu. Seringkali kita terjebak dalam perlombaan pamer atau takahur. Hari ini, banyak ibu-ibu yang merasa kurang percaya diri hanya karena melihat postingan orang lain di media sosial. Rumah mewah, perhiasan berkilau, atau kendaraan terbaru. Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan bahwa dunia hanyalah mata'ul ghurur (kesenangan yang memperdaya).
Penyakit lain yang sering menyerang kita adalah "penyakit merasa cukup dengan dunia". Kita menumpuk-numpuk harta, padahal kebutuhan kita sebenarnya sederhana. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan: "Hati yang terikat pada dunia adalah hati yang berat untuk melangkah menuju akhirat."
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, bagaimana cara mengobatinya? Pertama, perbanyaklah mengingat kematian (zikrul maut). Ingatlah bahwa kain kafan tidak memiliki saku. Semua yang kita banggakan akan kita tinggalkan. Kedua, qana’ah. Sifat merasa cukup atas apa yang Allah berikan. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari & Muslim).
Mari kita mulai mengubah cara pandang. Jadikan dunia hanya di tangan, jangan di hati. Harta, rumah, dan perhiasan hanyalah fasilitas untuk beribadah. Jika kita mampu mengelola dunia dengan ilmu dan iman, maka dunia itulah yang akan mengantarkan kita ke surga. Namun jika dunia menguasai hati kita, maka kita akan lelah mengejar sesuatu yang hakikatnya akan sirna.
Sebagai penutup, mari kita berintrospeksi. Apakah hari ini hati kita lebih dekat kepada Allah atau lebih dekat kepada keinginan duniawi? Mari kita perbaiki niat. Jadikan setiap cucian, masakan, dan urusan rumah tangga sebagai ibadah yang bernilai pahala, bukan sekadar beban duniawi. Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit hubbud-dunya.
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia sebagai batas ilmu kami. Karuniakanlah kami hati yang selalu bersyukur dan qana'ah. Ampunilah segala khilaf kami dalam menjalani kehidupan ini.
Mohon maaf atas segala kekurangan, semoga apa yang saya sampaikan membawa manfaat dan keberkahan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ