اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya muliakan para alim ulama, para kiai, asatidz, dan asatidzah, yang senantiasa membimbing kita menuju jalan Allah. Kepada Bapak Kepala Desa serta tokoh masyarakat yang hadir di sini, dan terkhusus kepada seluruh keluarga yang sedang berduka serta hadirin sekalian, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah atas kesempatan yang diberikan, meski dalam suasana yang menyayat hati ini. Kita berkumpul bukan untuk bersuka ria, melainkan untuk mengantar saudara kita kembali ke rumah sejatinya. Terima kasih atas ketulusan Bapak dan Ibu sekalian yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan doa untuk mengiringi almarhum hingga ke liang lahat.
Hadirin yang saya cintai, tataplah tanah merah yang baru saja kita timbun itu. Tidakkah hati kita bergetar? Hari ini kita meletakkan jenazah di sana, namun bukankah esok atau lusa, giliran kitalah yang akan diletakkan di sana?
Allah SWT berfirman:
Saudara-saudaraku, lihatlah betapa ringannya jasad yang dulu mungkin gagah perkasa, dulu mungkin kita kenal sebagai sosok yang giat bekerja di sawah, atau yang sering kita sapa di pasar. Kini, ia terbungkus kain kafan yang putih bersih, tanpa satu pun perhiasan duniawi yang bisa ia bawa. Bahkan, harta yang ia kumpulkan susah payah, tidak ada satu sen pun yang bisa menemaninya di dalam tanah yang sempit dan gelap itu.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
Mari kita merenung, ketika kita ikut memanggul keranda, ketika tangan kita menyentuh dinginnya tubuh beliau saat membaringkannya di liang lahat, bukankah saat itu kita sedang diingatkan oleh Allah? Seolah tanah itu berbisik, "Wahai manusia, hari ini giliran saudaramu, besok mungkin giliranmu."
Apakah kita sudah siap? Sudah cukupkah bekal yang kita bawa? Saat kita menimbun jasad itu dengan tanah, kita sejatinya sedang menimbun kesombongan kita. Kita sedang menimbun ambisi duniawi yang seringkali membuat kita lupa akan ibadah.
Wahai saudaraku, betapa indahnya jika kita bisa memetik hikmah dari prosesi penguburan ini. Rasulullah ﷺ pun mengajarkan kita untuk sering-sering mengingat pemutus kelezatan, yakni kematian. Ikut menguburkan saudara kita bukan sekadar kewajiban sosial, ini adalah sekolah kehidupan yang paling jujur. Tidak ada ijazah, tidak ada gelar di sana. Hanya iman dan amal saleh yang menjadi saksi.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
Maksudnya, kita semua yakin akan mati, tapi perilaku kita seolah-olah kita akan hidup selamanya. Kita masih sering bertengkar dengan tetangga, masih enggan memaafkan saudara, masih berat melangkahkan kaki ke masjid, padahal napas kita hanyalah titipan yang setiap detik bisa diambil oleh Pemiliknya.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan momen takziah ini sebagai titik balik. Mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah, perbaiki shalat kita, perbaiki bakti kita kepada orang tua, dan perbaiki kasih sayang kita kepada sesama. Jangan sampai kita terlambat, karena pintu taubat akan tertutup saat nyawa telah sampai di tenggorokan.
Sebagai penutup, marilah kita berdoa untuk saudara kita yang telah mendahului kita. Semoga Allah melapangkan kuburnya, menjadikannya taman dari taman-taman surga, dan mengampuni segala khilafnya.
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, dan muliakanlah tempat kembalinya. Lapangkanlah kuburnya, dan kumpulkanlah kami bersamanya di surga-Mu kelak. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kematian sebagai musibah terakhir bagi keluarga yang ditinggalkan, berikanlah ketabahan, kesabaran, dan gantikanlah kesedihan mereka dengan keberkahan yang berlimpah.
Terima kasih atas perhatian Bapak dan Ibu sekalian. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang kurang berkenan atau menyentuh hati terlalu dalam. Semoga air mata yang jatuh hari ini menjadi saksi bahwa kita adalah saudara yang saling mencintai karena Allah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ