اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang paling utama, mari kita sampaikan rasa hormat kepada para alim ulama, para ustaz, tokoh masyarakat yang senantiasa menjadi pelita di tengah umat, serta yang saya muliakan Bapak-bapak pejuang keluarga, para pekerja keras yang punggungnya jadi benteng ekonomi rumah tangga. Sehat selalu ya, Pak? Alhamdulillah. Senang sekali bisa berdiri di hadapan bapak-bapak yang kalau di kantor mungkin dipanggil "Pak manajer", tapi kalau di rumah dipanggil "Pak, cucian belum dijemur".
Bapak-bapak sekalian, kita baru saja melewati tahun baru Islam. Dulu waktu saya kecil, awal Muharram itu meriahnya bukan main. Ada pawai obor, suara bedug sahut-sahutan, ibu-ibu bikin tumpeng sampai rumah tetangga wangi ayam goreng. Tapi sekarang? Pas tahun baru Hijriah, kadang kita sendiri lupa. Mungkin karena fokus kita sudah tersedot sama tanggal merah di kalender Masehi. Jangan sampai kita lebih hafal tanggal gajian daripada tanggal hijriah. Nanti pas ditanya malaikat di alam kubur, "Siapa Tuhanmu?", jawabnya malah "Rekening Bank, Munkar!". Jangan sampai, Pak.
Ada apa dengan tahun baru Islam kita yang sekarang sepi? Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
Tahun baru Hijriah itu pengingat, Pak. Hijrah itu bukan sekadar pindah rumah dari kontrakan ke rumah cicilan 20 tahun. Hijrah itu pindah dari perilaku yang buruk ke perilaku yang lebih baik. Allah SWT berfirman:
Bapak-bapak, mari kita koreksi diri. Kenapa sepi? Karena kita mungkin terlalu asyik mengejar dunia. Kita sibuk lembur sampai lupa salat jamaah. Kita sibuk cicilan sampai lupa sedekah. Padahal, Imam Hasan Al-Bashri pernah menasehati:
Jadi, kalau kita sering mengabaikan waktu, sebenarnya kita sedang membiarkan diri kita terus berkurang. Tahun baru Islam yang sepi ini harusnya jadi alarm, Pak. Mungkin kita nggak perlu pawai obor keliling desa kalau memang tidak memungkinkan, tapi yuk, hidupkan kembali semangat hijrah di dalam rumah. Ajak istri dan anak-anak ngobrol soal sejarah Nabi. Jangan sampai anak kita lebih hafal karakter kartun daripada nama-nama sahabat Nabi.
Ingat, Pak, pekerja keras itu ibadahnya dahsyat. Keringat bapak saat mencari nafkah yang halal itu dihitung jihad. Tapi, jangan sampai kerja keras itu justru menjauhkan bapak dari Allah. Kerja itu fisik, tapi hati harus tetap "nyambung" ke Yang Maha Memberi Rizki. Jangan sampai kita kerja bagai kuda, tapi ibadah bagai siput.
Kesimpulannya, Tahun Baru Islam tidak harus dirayakan dengan hingar-bingar. Yang penting, ada perubahan sikap. Tahun lalu salat masih bolong-bolong, tahun ini harus ditambal sampai paten. Tahun lalu sedekah masih nunggu sisa, tahun ini harus disisihkan di depan. Anak istri butuh bapak yang hijrah jadi lebih sabar, bukan bapak yang kalau pulang kerja bawaannya pengen marah-marah terus karena capek.
Sebagai penutup, mari kita niatkan di bulan Muharram ini untuk mulai memperbaiki diri. Mari kita tutup kekurangan kita di tahun lalu dengan istighfar yang banyak. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan pada pundak bapak-bapak semua untuk menafkahi keluarga dengan cara yang diridhai-Nya. Amin.
Mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan, maklum namanya juga manusia, tempatnya salah dan hilaf, kalau tempatnya salah terus, namanya bapak-bapak lagi cari alamat. Terima kasih atas perhatiannya, semoga keberkahan menyertai kita semua.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ