اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Ibu-ibu jamaah pengajian yang dirahmati Allah, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya, kita dapat berkumpul di majelis taklim ini dengan niat yang mulia. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, uswatun hasanah kita, yang syafaatnya kita nantikan di hari akhir nanti.
Yang saya hormati para sesepuh, tokoh agama, ketua majelis taklim, serta ibu-ibu sekalian yang dicintai Allah. Sungguh, kehadiran ibu-ibu di sini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari upaya kita untuk terus menimba ilmu. Hari ini, kita akan membahas tema takziah, yakni tentang bagaimana kita menyikapi kematian, baik bagi orang yang berpulang maupun bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup.
Kematian adalah kepastian, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 57:
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, takziah artinya menghibur atau menyabarkan keluarga yang ditinggalkan. Dalam Islam, takziah bukan hanya sekadar datang lalu pulang. Ada adab dan hikmah yang besar di dalamnya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
Mengapa takziah penting? Pertama, untuk memperkuat keimanan (tauhid) kita. Saat melihat jenazah, kita diingatkan bahwa dunia ini fana. Harta, tahta, bahkan rumah megah yang kita bangun, tidak akan ikut masuk ke liang lahat. Hanya amal saleh, anak yang saleh, dan ilmu yang bermanfaat yang akan menemani kita.
Kedua, untuk memberikan dukungan moril. Keluarga yang ditinggalkan biasanya dalam kondisi sangat terpukul. Kehadiran kita, senyuman kita, dan doa-doa tulus kita menjadi penguat bagi mereka agar tetap tabah dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ingatlah nasihat Imam Hasan Al-Bashri:
Ibu-ibu sekalian, seringkali kita lupa bahwa ajal tidak menunggu usia tua. Ajal tidak mengenal penyakit. Maka, manfaatkanlah sisa umur ini dengan memperbanyak ibadah. Perbaikilah hubungan dengan sesama, berbakti kepada suami, mendidik anak dengan nilai-nilai agama, serta menjaga lisan di majelis-majelis kita. Jangan sampai kita menghabiskan waktu dengan gibah yang justru akan memberatkan timbangan amal di hari kiamat kelak.
Mari jadikan kematian sebagai cermin. Jika hari ini ada tetangga atau saudara yang pergi, tanyakan pada diri kita: "Sudah siapkah aku jika esok giliranku?" Mari kita saling memaafkan, mari kita perbanyak istighfar, dan mari kita istiqomahkan shalat berjamaah serta sedekah jariyah. Ingatlah bahwa dunia adalah tempat menanam, dan akhirat adalah tempat memanennya.
Sebagai penutup, marilah kita perbaiki diri agar saat ajal menjemput, kita dalam keadaan husnul khatimah. Semoga Allah memberikan kesabaran bagi mereka yang baru saja ditinggal orang tercinta, dan semoga kita semua dikumpulkan bersama dalam surga-Nya nanti.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, ampunilah dosa kedua orang tua kami, dan berikanlah kami husnul khotimah saat ajal menjemput. Jadikanlah sisa umur kami penuh berkah dan manfaat bagi ummat.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian ini. Kebenaran datangnya dari Allah, dan kekhilafan adalah milik saya pribadi. Wabillahi taufik wal hidayah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ