اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang saya takzimi para alim ulama, sesepuh desa, tokoh masyarakat yang senantiasa kita tuakan, Bapak Kades, serta seluruh bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik sekalian yang wajahnya terlihat lebih cerah dari cahaya pantulan genteng baru, alhamdulillah kita semua bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Terima kasih atas jamuan "teh manis dan gorengan"-nya, ini bukti bahwa iman kita kuat, tapi nafsu makan juga tetap akurat.
Bapak-Ibu yang saya cintai, kenapa hari ini saya bahas Umroh? Karena saya tahu, kalau saya bahas "cara jadi kaya mendadak", jamaah pasti lebih semangat. Tapi percaya deh, Umroh itu investasi masa depan yang paling "gacor" dibanding nabung di bank atau arisan desa yang kadang ketua arisannya sering "lupa" kalau mau bayar.
Umroh itu panggilan. Ada orang punya uang banyak, hartanya melimpah sampai ayamnya saja dikasih makan pakai beras pera, tapi tidak pernah terpanggil ke Baitullah. Ada juga yang cuma jualan kerupuk di pasar, tapi tiap tahun bisa berangkat. Itu namanya "tamu kehormatan Allah".
Allah Ta'ala berfirman:
Ibu-ibu, jangan nunggu kaya raya baru mau daftar Umroh. Saya sering dengar, "Pak Ustaz, saya nunggu lunasin cicilan motor dulu." Lha, nanti kalau motornya sudah lunas, muncul cicilan mobil. Sudah lunas mobil, muncul cucu. Sudah ada cucu, eh, muncul "kematian". Akhirnya niat Umroh cuma jadi pajangan di dalam hati. Padahal Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
Ini kesempatan emas buat nge-reset dosa! Kita ini kan manusia, kadang dosa kita lebih banyak daripada jumlah butiran pasir di sungai. Nah, dengan Umroh, kita itu seperti orang yang habis dicuci pakai detergen paling mahal, kinclong lagi!
Tapi ingat, Umroh itu bukan ajang pamer foto di depan Ka'bah lalu di-upload ke Facebook atau Instagram. "Masya Allah, selfie dulu biar followers tahu saya lagi di Mekkah." Itu ibadah atau pamer? Kalau niatnya cuma cari jempol netizen, sayang sekali, tiketnya mahal, capeknya minta ampun, eh pahalanya cuma seharga data internet.
Ada kisah lucu, ada jamaah yang karena saking semangatnya pakai ihram, tapi lupa kalau belum mandi wajib. Terus ada lagi yang tawaf malah kelupaan hitungan, malah sibuk nyari sandal jepitnya yang hilang. Ibadah itu harus tenang, Bapak-Ibu. Jangan sampai kita ke sana cuma jadi "turis yang berhijab".
Hikmah Umroh itu untuk membersihkan hati. Pulang dari sana, harusnya jadi lebih sabar. Kalau tetangga ada yang usil, kalau arisan ada yang julid, kita senyumin aja. "Ingat, saya sudah pernah tawaf di Ka'bah, nggak level kalau harus berantem soal jemuran."
Jadi, mulai hari ini, mari kita niatkan. Sisihkan uang, sedikit demi sedikit, jangan cuma buat beli kopi terus. Tabung untuk Baitullah karena Allah akan memudahkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Allah berfirman dalam hadits qudsi yang artinya: "Jika hamba-Ku mendekat sejengkal, Aku mendekat sehasta."
Kesimpulannya, jadikan Umroh sebagai puncak kerinduan. Jangan tunggu tua, jangan tunggu mapan, jemputlah ridho Allah selagi napas masih dikandung badan. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan, karena kebenaran itu datangnya dari Allah, dan kesalahan itu murni dari saya yang memang sering salah baca resep masakan istri.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Semoga tahun depan kita semua yang ada di sini bisa bersujud bersama di depan Ka'bah. Amin ya Rabbal Alamin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ