اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa, Bapak Kyai [Sebutkan Nama], para asatidz dan asatidzah yang ilmunya luas seluas samudra, serta seluruh bapak, ibu, dan saudara-saudara sekalian warga desa yang saya cintai. Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul di majelis yang berkah ini. Saya lihat wajah-wajah di sini sangat bercahaya, mungkin karena memang sudah wudhu, atau mungkin karena habis makan berkat maulid tadi ya?
Bapak-Ibu sekalian, malam ini kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Ingat, maulid itu artinya hari lahir. Kalau kita di desa, maulid ini identik dengan kembang telur dan berkat. Tapi jangan cuma berkatnya yang diingat, orangnya juga harus diingat. Nabi kita itu luar biasa. Beliau manusia paling ganteng, paling sabar, dan paling sayang sama umatnya. Sampai-sampai, jangankan umatnya, cucunya saja kalau naik ke punggung Nabi saat beliau sujud, Nabi tidak langsung bangun, takut cucunya jatuh. Kalau kita, jangankan anak, baru dengar suara kucing saja saat shalat sudah emosi, "Hus! Ganggu saja!"
Kenapa kita merayakan Maulid? Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
Jadi, Maulid ini tujuannya agar kita makin kenal dan makin meniru akhlak Nabi. Kalau Nabi itu pemurah, ya kita ikut pemurah. Jangan Nabi pemurah, umatnya pelitnya minta ampun. Sampai ada orang saking pelitnya, lihat kotak amal saja langsung pura-pura batuk biar nggak dengar bunyinya. Astagfirullah.
Nabi itu dicintai karena kasih sayangnya. Dalam hadits disebutkan:
Kalau kita ingin disayang tetangga, ya jangan sukanya ghibah terus. Tetangga beli motor baru, kita yang sakit hati. Tetangga bangun rumah, kita yang mikirin semennya dari mana. Itu bukan akhlak Nabi, itu akhlak "detektif". Nabi itu kalau ada tetangga susah, beliau orang pertama yang bantu. Beliau sering sedekah sampai bajunya sendiri dikasih ke orang lain sampai beliau tidak punya baju ganti. Lah kita? Lemari baju penuh, tapi pas ada orang minta sumbangan, bilangnya "Bentar ya, cari recehan dulu yang nggak ada".
Mari kita jadikan bulan Maulid ini sarana memperbaiki diri. Kalau biasanya kita shalat cuma kalau ingat saja, mulai sekarang kita perbaiki. Kalau biasanya kita kalau ngomong pedas, mulai sekarang kita maniskan. Jangan sampai kita mengaku cinta Nabi Muhammad, tapi shalat ditinggal-tinggal, baca Qur’an cuma pas bulan Maulid saja. Wah, itu namanya 'cinta musiman'.
Kesimpulannya, Maulid bukan sekadar hura-hura makan berkat, tapi momentum meneladani Rasulullah. Mari kita perbaiki shalat, perbaiki hubungan dengan tetangga, dan perbanyak shalawat.
Terima kasih atas segala perhatiannya. Mohon maaf kalau ada candaan saya yang lewat batas atau kurang berkenan di hati Bapak-Ibu sekalian. Saya manusia biasa, kalau ada benarnya datang dari Allah, kalau ada salah itu karena saya khilaf.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, jadikanlah desa kami desa yang berkah, penduduknya rukun, jauhkan kami dari fitnah, dan kelak kumpulkan kami bersama Rasulullah di surga-Mu. Amin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ