اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang terhormat para alim ulama, sesepuh desa yang senantiasa kita tuakan, Bapak Kepala Desa, segenap asatidz dan asatidzah pondok pesantren, serta seluruh bapak, ibu, dan hadirin yang dirahmati Allah.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya kita bisa berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Bapak-Ibu sekalian, menitipkan anak di pondok pesantren adalah investasi akhirat yang luar biasa. Namun, saya memahami, seringkali kita mendengar keluh kesah para santri baru: "Pak, saya rindu rumah," atau "Bu, saya tidak betah, ingin pulang saja." Ini adalah ujian awal yang manusiawi. Mari kita bedah bersama, bagaimana agar santri bisa betah dan mantap langkahnya dalam menuntut ilmu.
Kunci pertama adalah menata niat. Menuntut ilmu adalah jihad. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 122:
Jika santri paham bahwa rasa tidak betah adalah hambatan setan agar ia gagal menjadi orang alim, maka ia akan segera sadar. Ingatlah sabda Nabi Muhammad SAW:
Bapak-Ibu, tips kedua untuk anak-anak kita agar betah adalah membangun persaudaraan. Di pondok, santri itu ibarat satu tubuh. Jika satu sakit, yang lain merasakan. Ajaklah anak-anak kita mencari teman yang shaleh, teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan dibiasakan menuruti nafsu untuk sekadar ingin pulang (homesick), karena rasa itu hanya akan hilang jika ia sibuk dengan kegiatan positif.
Tips ketiga, yaitu taat kepada guru dan aturan pondok. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berpesan:
Salah satu syaratnya adalah bersabar dengan waktu yang lama. Pondok adalah kawah candradimuka. Mungkin tahun pertama terasa berat, tetapi itulah proses pembentukan karakter. Analoginya seperti emas, ia harus dibakar dengan api yang panas agar menjadi perhiasan yang indah dan bernilai tinggi.
Sebagai orang tua, tugas Bapak-Ibu adalah mendoakan. Doa orang tua adalah kunci kemudahan bagi anak. Jangan justru melemahkan mereka dengan ikut menangis saat mereka mengeluh ingin pulang. Kuatkan mereka, katakan bahwa "Nak, di pundakmu ada doa kami agar engkau menjadi penolong agama Allah."
Hadirin yang saya hormati, sebagai kesimpulan, agar santri betah: pertama, luruskan niat bahwa ini adalah jihad; kedua, cari sahabat yang shaleh; ketiga, tunduk dan taat kepada guru; dan keempat, bersabar atas prosesnya.
Mari kita tutup dengan doa. Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang shaleh dan shalehah, jadikan mereka ahli ilmu yang manfaat untuk umat dan menjadi tabungan bagi kami di akhirat kelak. Berikan kesabaran dan keteguhan hati kepada para santri di pondok pesantren agar mereka dapat menuntut ilmu dengan ikhlas.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam tutur kata saya. Semoga apa yang saya sampaikan menjadi wasilah ketaatan kita kepada Allah SWT.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ