Logo Kangsantri AI

Ukhuwah Bisnis Berkah Bersama

Ceramah
R
Renan
20 Juli 2026 4 menit baca 31 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin yang dimuliakan Allah. Pertama-tama, mari kita haturkan puja-puji ke hadirat Allah SWT, yang dengan izin-Nya kita bisa berkumpul di majelis yang insya Allah membawa berkah ini. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan sahabatnya yang mulia.

Yang saya hormati para alim ulama, bapak kiai, para asatidz dan asatidzah, wabil khusus kepada Bapak Kepala Desa serta tokoh masyarakat yang senantiasa membimbing warga di sini. Dan yang paling saya cintai, seluruh hadirin jemaah sekalian. Saya merasa sangat haru dan bersyukur melihat wajah-wajah tulus Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih telah meluangkan waktu, meninggalkan sejenak sawah, ladang, dan kesibukan demi duduk bersimpuh mengagungkan nama Allah.

Hadirin yang dicintai Allah, mari kita merenung sejenak. Jika kita melihat ke kanan dan ke kiri kita hari ini, adakah hati kita masih terpaut dengan tetangga? Atau mungkinkah ada kebencian yang masih terselip karena urusan sepetak tanah? Karena urusan dagang yang tidak sepakat? Sadarkah kita, waktu kita di dunia ini tidaklah lama. Nafas kita satu demi satu sedang dihitung oleh malaikat maut.

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai."

Lihatlah betapa indahnya perintah Allah. Jangan bercerai berai. Namun, apa yang terjadi di desa kita? Kadang hanya karena persaingan harga di pasar, kita enggan menyapa. Hanya karena saingan dagang di toko kelontong, kita saling menjatuhkan. Tidakkah kita ingat, saat kita pulang ke liang lahat nanti, toko kita tidak ikut, sawah kita tidak ikut, yang ikut hanyalah amal dan persaudaraan kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
"Janganlah kalian saling memutus silaturahmi, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, jangan saling mendengki, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari & Muslim).

Hadirin, mari kita menangis dalam hati. Berapa banyak di antara kita yang mencari nafkah dengan cara-cara yang membuat Allah murka? Kita menipu timbangan agar keuntungan lebih besar. Kita mematikan usaha tetangga dengan fitnah agar dagangan kita laris. Apakah uang sepuluh atau seratus ribu menjadi lebih berharga daripada persaudaraan yang dibangun dengan keringat air mata para leluhur kita? Rasulullah ﷺ bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
"Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang yang shidiq, dan orang-orang yang mati syahid." (HR. Tirmidzi).

Bayangkan, jika kita berjualan dengan jujur, kita diposisikan bersama orang-orang mulia di akhirat. Namun, jika kita curang demi harta dunia yang sebentar, kita justru mengundang celaka. Ingat, Ibu-ibu, Bapak-bapak, rumah kita besar, mobil kita ada, toko kita banyak, tapi jika saat kita tiada, tak ada tetangga yang mendoakan karena kita pernah zalim pada mereka, betapa meruginya kita.

Umar bin Khattab ra. pernah berkata:

لَا يَجْلِسْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ يَفْقَهُ
"Janganlah seseorang duduk di pasar kami (berdagang), kecuali orang yang memahami hukum agama."

Maksudnya, janganlah kita terjun dalam bisnis atau pekerjaan tanpa ilmu. Agama kita mengajarkan tentang keberkahan. Rezeki bukan soal seberapa banyak yang kita kantongi, tapi seberapa banyak yang tersisa untuk bekal akhirat dan berapa banyak yang membawa manfaat bagi orang lain. Jika kita bersatu, saling membantu dalam ekonomi umat, maka Allah akan mencurahkan keberkahan dari langit dan bumi.

Wahai jemaah yang saya cintai, mari kita ingat hari di mana kita menghadap Allah. Tidak ada lagi toko, tidak ada lagi pasar, tidak ada lagi saingan bisnis. Hanya lembar-lembar catatan amal. Maukah kita menghadap Allah dengan hati yang kotor karena kebencian antar tetangga? Maukah kita membawa pulang dosa karena menipu saudara sendiri dalam jual beli? Sungguh, dunia ini hanyalah ladang yang sebentar lagi kita tinggalkan.

Marilah kita kembali menyatu. Maafkan tetangga yang pernah menyakiti kita. Ikhlaskan persaingan yang tidak sehat. Bangunlah ekonomi desa kita dengan kejujuran dan gotong royong. Jika ada saudara yang kesulitan modal, bantu dia. Jika ada yang dagangannya belum laku, jangan dijatuhkan, tapi rangkul dia. Itulah Islam yang sesungguhnya. Islam yang sejuk, Islam yang penuh cinta. Ingatlah, musuh kita bukanlah tetangga kita, bukan saingan dagang kita, melainkan hawa nafsu dan keserakahan yang ada di dada kita sendiri.

Sebelum saya akhiri, mari kita berdoa.
Ya Allah, ya Ghafur, ampunilah dosa-dosa kami. Lembutkan hati kami yang keras agar mampu saling memaafkan. Satukanlah hati kami, ya Allah, sebagaimana engkau menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Jadikanlah pekerjaan kami sebagai ladang amal, jadikanlah rezeki kami sebagai keberkahan. Jika di antara kami ada yang sedang terlilit hutang, mudahkanlah pelunasannya. Jika ada yang sedang berselisih, damaikanlah mereka.

Mohon maaf atas segala tutur kata saya yang mungkin menyinggung perasaan. Saya hanyalah hamba Allah yang fakir ilmu. Jika ada kebenaran, itu datangnya dari Allah. Jika ada kesalahan, itu murni dari kedangkalan ilmu saya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →