اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin sekalian yang saya muliakan. Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Alhamdulillah, kita masih bisa berkumpul di sini dalam keadaan sehat. Kalau lihat wajah-wajah Bapak dan Ibu, saya yakin masih pada semangat, meski ada yang sudah pakai kacamata karena mulai rabun dekat, bukan rabun melihat rezeki ya, Bu?
Yang saya hormati para alim ulama, sesepuh desa, Bapak Kepala Desa beserta jajaran, serta seluruh jamaah yang hadir. Terima kasih sudah menyempatkan waktu. Saya tahu, Bapak-bapak pasti sudah capek di sawah atau habis cari nafkah, tapi hebat masih mau duduk di sini. Semoga duduknya kita ini dihitung lebih berat daripada dosa-dosa kita, amin.
Bapak Ibu sekalian, tema kita hari ini adalah “Umur Berkurang, Amal Bertambah atau Berkurang?”. Ini pertanyaan serius tapi jawabannya sering bikin kita ketawa miris. Kita ini kalau ditanya, "Kapan mau taubat?" jawabannya "Nanti kalau sudah tua." Pas sudah tua, lutut sudah kaku, mata sudah buram, ditanya lagi, "Gimana taubatnya?" eh, malah sibuk mikirin cucu atau jaga kebun.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
Logikanya, kalau kita mau pergi jauh, misalnya mau ke pasar atau ke kota, kita pasti bawa bekal. Masa mau pergi menghadap Allah, yang perjalanannya jauh sekali dan tidak ada tiket pulangnya, kita malah nggak bawa bekal apa-apa? Umur itu seperti uang receh di kantong yang bolong, Bapak Ibu. Tiap hari jatuh satu demi satu. Nggak terasa tiba-tiba kantong sudah kosong, alias ajal menjemput.
Rasulullah SAW bersabda:
Nah, kadang kita ini lucu. Waktu masih muda, semangat kerja cari duit sampai lembur, tapi kalau disuruh ke masjid, alasannya "Nanti saja kalau sudah tua." Giliran sudah tua, dhuha jarang, tahajud apalagi, baca Quran pun harus pakai kacamata tebal yang tulisannya gede-gede. Itu pun kalau ingat, kalau lupa, malah sibuk ngurusin gosip tetangga atau rebutan batas tanah sama saudara sendiri.
Ada seorang ulama, Hasan al-Bashri, pernah memberikan nasihat emas:
Jadi, setiap matahari terbenam, itu artinya ada bagian dari umur kita yang dibawa pergi. Kalau kita cuma nambah umur tapi nggak nambah amal, kita itu seperti pedagang yang setiap hari rugi terus. Modal habis, barang nggak kejual, malah hutang makin numpuk. Nauzubillah.
Pernah saya tanya seorang jamaah, "Pak, sudah rajin salat?" Jawabannya, "Sudah Pak Ustaz, tapi bolong-bolong kena matahari." Saya tanya lagi, "Kok bisa?" Katanya "Ya karena bolongnya kelewat." Ya ampun, Pak. Salat itu bukan nunggu waktu luang, tapi meluangkan waktu. Kalau nunggu luang, selamanya kita bakal sibuk. Ibu-ibu saja bisa luang buat arisan sampai berjam-jam, masa buat Allah cuma 10 menit dibilang sibuk?
Apa yang harus kita lakukan? Pertama, introspeksi. Coba ingat, setahun yang lalu, baca Quran kita sudah khatam berapa kali? Atau jangan-jangan, Quran di rumah cuma jadi pajangan di rak yang debunya sudah tebal? Kedua, perbaiki kualitas amal. Jangan cuma asal gerak pas rukuk dan sujud, tapi rasakan kebesaran Allah. Ketiga, kurangi hal yang sia-sia. Kita ini kalau sudah ngumpul, bahas politik, bahas harga pupuk, bahas anak orang, cepat sekali waktunya. Padahal kalau buat zikir, baru lima menit sudah ngantuk-ngantukan.
Bapak Ibu, mumpung masih diberi napas, ayo kita kejar ketertinggalan. Jangan sampai malaikat maut datang, kita baru bilang "Ya Allah, balikkan aku ke dunia agar aku bisa beramal saleh." Allah pasti jawab, "Sudah telat, Pak/Bu!"
Sebagai penutup, mari kita camkan: umur kita ini bukan diukur dari berapa banyak ulang tahun yang sudah kita tiup lilinnya—sebenarnya Islam tidak kenal tiup lilin ya, mending tiup kue buat bagi-bagi tetangga—tapi umur kita diukur dari berapa banyak sujud yang kita lakukan.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, orang tua kami, dan guru-guru kami. Jadikanlah sisa umur kami penuh dengan keberkahan. Jangan biarkan kami terbuai oleh dunia yang sementara ini. Saat ajal menjemput, karuniakanlah kami husnul khotimah. Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina adzabannar.
Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung, apalagi yang merasa kesindir. Kalau kesindir, berarti itu pengingat buat kita semua. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ