اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Para alim ulama, para kiai yang kami ta’zimi, Bapak Ustaz dan Ibu Ustazah yang kami muliakan, tokoh masyarakat, para sesepuh desa yang kami tuakan, serta seluruh hadirin dan undangan yang senantiasa dirahmati Allah. Puji syukur ke hadirat Allah, atas izin-Nya kita berkumpul di majelis walimatu safar ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Hadirin yang dimuliakan Allah, sesaat lagi saudara kita akan berangkat menuju Baitullah. Bayangkan, wahai Bapak Ibu sekalian, sebuah panggilan yang paling agung. Allah menunjuk saudara kita untuk datang ke rumah-Nya. Kita yang masih di sini, bukankah hati kita bergetar? Bukankah air mata kita sering jatuh saat mendengar suara azan, teringat tanah suci yang belum sempat kita kunjungi?
Saudara-saudaraku, umrah bukan sekadar perjalanan fisik, bukan sekadar membawa koper dan tiket. Ini adalah perjalanan "pulang". Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 158:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ
"Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan tawaf antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui."
Bayangkan hari di mana saudara kita nanti berdiri di depan Ka'bah. Saat ia melihat rumah Allah yang agung, saat ia sujud di Hijr Ismail, tangisnya akan pecah. Mengapa? Karena di sana, dosa-dosa yang mungkin pernah kita lakukan di desa ini, yang kita pendam sendiri, yang kita tangisi di atas sajadah, akan dihapuskan seperti daun-daun kering yang berguguran. Rasulullah SAW bersabda:
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا
"Umrah ke umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya." (HR. Bukhari & Muslim).
Tetangga sekalian, seringkali kita lalai. Kita sibuk mencangkul di sawah, sibuk mencari nafkah untuk anak istri, sampai lupa bahwa ada tiket perjalanan terakhir yang pasti kita jemput: kematian. Umrah adalah miniatur kematian. Kita akan memakai kain ihram, putih, tanpa jahitan, layaknya kain kafan yang menyelimuti tubuh kita nanti saat masuk ke liang lahat. Saat itulah kita sadar: siapakah kita di hadapan Allah? Kita hanyalah debu yang kotor, yang mengharap ampunan-Nya.
Apakah kita yakin bisa kembali ke desa ini? Apakah kita yakin usia kita masih panjang? Mungkin perjalanan saudara kita ini adalah pengingat bagi kita. Ada kalanya, saat kita melihat orang berangkat umrah, hati ini pedih, sedih karena kita belum mampu, atau sedih karena takut kita mati sebelum dipanggil ke sana. Namun, berbaik sangkalah pada Allah. Bagi yang berangkat, mohon doakan kami yang masih di sini. Titipkan salam kami di depan Raudhah, di depan makam Rasulullah SAW.
Kepada saudara yang akan berangkat, rendahkanlah hatimu. Janganlah merasa diri mulia. Di sana, kita semua sama. Raja, petani, kaya, miskin, semua sama-sama memakai dua helai kain putih. Ingatlah wasiat ulama: "Bersihkan hatimu dari kedengkian sebelum kakimu menginjak tanah haram." Jika ada janji yang belum lunas, selesaikan. Jika ada hati yang tersakiti karena ucapan kita, mintalah maaf sebelum pergi.
Wahai saudara-saudaraku, bayangkan saat nanti di depan Ka'bah, berdoalah untuk anak cucu, doakan desa kita agar menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Jika nanti engkau mencium Hajar Aswad atau sekadar memandangnya, menunduklah dalam-dalam. Ingatlah bahwa Allah sedang menatapmu dengan kasih sayang-Nya yang luar biasa.
Sebagai penutup, perjalanan umrah adalah perjalanan cinta seorang hamba kepada Penciptanya. Semoga perjalanan ini membersihkan jiwa, menyucikan hati dari segala sifat iri, dengki, dan sombong. Bagi kita yang melepas, mari kita doakan agar saudara kita kembali dalam keadaan haji yang mabrur dan umrah yang maqbul, membawa keberkahan bagi kampung kita ini.
Ya Allah, zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam iman. Mudahkanlah jalan saudara kami menuju Baitullah-Mu. Lindungilah mereka dari marabahaya. Dan bagi kami yang belum Kau panggil, ya Allah, tetapkanlah kerinduan di hati kami agar Engkau mampukan kami, Engkau undang kami untuk beribadah di sana sebelum ajal menjemput kami. Ampunilah segala dosa kami, dosa orang tua kami, dan dosa para pendahulu kami.
Mohon maaf atas segala tutur kata yang khilaf, yang salah itu murni dari kelemahan saya, yang benar datangnya dari Allah SWT. Semoga kita semua dikumpulkan di surga-Nya kelak.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ