اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang saking baiknya kepada kita, meskipun kita sering lupa bersyukur, Dia tetap memberikan oksigen gratis tanpa pernah mengirimkan tagihan bulanan ke rumah kita. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia paling mulia yang syafaatnya kita harapkan, melampaui harapan kita saat menunggu diskon belanja tanggal kembar di aplikasi daring.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Marilah kita tingkatkan takwa kita. Takwa itu bukan cuma saat di masjid pakai baju koko dan terlihat alim, tapi takwa adalah saat kita sendirian dan godaan untuk melakukan hal yang tidak-tidak datang, kita sadar bahwa CCTV Allah tidak pernah mengalami gangguan teknis atau mati lampu.
Hari ini, khutbah kita akan membahas tentang "Angka Keramat" bagi bangsa Indonesia dan umat Islam, yaitu angka 17. Kalau kita bicara angka 17, pikiran kita pasti langsung melayang ke lomba panjat pinang, makan kerupuk, atau balap karung di tanggal 17 Agustus. Kita merayakan kemerdekaan dengan penuh tawa. Tapi tahukah kita, bahwa angka 17 ini adalah kode rahasia dari Allah untuk kemenangan lahir dan batin?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Pertama, 17 Agustus. Ini adalah momen fisik, saat kakek-nenek buyut kita berteriak "Merdeka!" dengan modal bambu runcing melawan tank baja. Itu adalah keajaiban. Namun, seringkali kita sekarang merasa sudah merdeka padahal sebenarnya masih "terjajah". Terjajah oleh apa? Terjajah oleh rasa malas bangun Subuh, terjajah oleh keinginan untuk selalu mengomentari hidup orang lain di media sosial, dan terjajah oleh rasa gengsi yang lebih tinggi daripada tiang panjat pinang.
Kedua, 17 Ramadan. Tanggal di mana Al-Qur'an diturunkan sebagai proklamasi kemerdekaan jiwa dari kegelapan menuju cahaya. Di tanggal ini pula terjadi Perang Badr, di mana 313 orang melawan ribuan musuh. Bayangkan, para sahabat Nabi saat itu bertempur dalam kondisi lapar karena puasa, sementara kita sekarang, baru telat buka puasa sepuluh menit saja, rasanya dunia sudah mau kiamat dan bibir sudah maju lima senti karena kesal takjil belum siap.
Inilah "17" yang memberikan kita kemerdekaan spiritual. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Lalu yang paling penting dan sering kita sepelekan adalah 17 Rakaat. Inilah proklamasi kita setiap hari. Kita sering semangat merayakan 17 Agustus setahun sekali, tapi kenapa kita sering "loyo" menjalankan 17 rakaat yang sehari semalam?
Ada orang yang sanggup berdiri dua jam antre sembako gratis atau antre tiket konser, tapi berdiri sepuluh menit untuk salat rasanya kakinya mau copot. Ada orang yang sanggup menatap layar HP berjam-jam sampai matanya merah, tapi membaca Al-Qur'an satu lembar saja sudah mengantuk berat seolah-olah huruf Arabnya mengandung zat bius dosis tinggi.
Padahal, 17 rakaat inilah jaminan "merdeka" kita yang sesungguhnya. Merdeka dari api neraka, merdeka dari kegelisahan hati, dan merdeka dari ketergantungan kepada makhluk. Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
"Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Coba kita bayangkan jika Allah mencabut nikmat "17" ini dari hidup kita. Tanpa 17 Agustus, mungkin kita masih kerja rodi. Tanpa 17 Ramadan, kita mungkin masih menyembah batu atau pohon. Dan tanpa 17 rakaat, hidup kita akan hampa, kering, dan gersang seperti dompet di akhir bulan.
Maka, di hari Jumat yang penuh barakah ini, marilah kita tertawa merenungi kelucuan tingkah laku kita sendiri yang seringkali lebih mementingkan urusan dunia yang sebentar daripada urusan akhirat yang selamanya. Mari kita merdekakan diri kita dari sifat kikir, dari sifat sombong, dan dari sifat malas beribadah.
Jadikan setiap sujud dalam 17 rakaat kita sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan yang kita nikmati. Jangan sampai kita menjadi orang yang hafal lagu kebangsaan, tapi lupa cara membaca Al-Fatihah dengan benar. Jangan sampai kita semangat menghias kampung dengan bendera, tapi hati kita kotor dengan prasangka.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita agar menjadi hamba-Nya yang benar-benar merdeka—merdeka jiwanya, merdeka raganya, dan selamat dunia akhiratnya. Amin ya Rabbal 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ