اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya (iman) dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan kepada bangsa kita, dan lebih utamanya lagi, nikmat kemerdekaan jiwa melalui risalah Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok yang membawa misi pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan makhluk menuju penghambaan yang murni kepada Sang Khalik.
Hari ini, saat kita berbicara tentang kemerdekaan, seringkali pikiran kita tertuju pada peristiwa sejarah lepasnya belenggu kolonialisme. Namun, sebagai umat beriman, kita harus memahami bahwa kemerdekaan sejati dalam Islam memiliki dimensi yang jauh lebih mendalam. Islam memandang kemerdekaan (al-hurriyyah) bukan sekadar bebasnya fisik dari penjajahan, melainkan bebasnya batin dari penjajahan hawa nafsu, materi, dan penghambaan kepada sesama makhluk.
Seorang Muslim disebut merdeka apabila ia tidak lagi didikte oleh keserakahan, tidak lagi ditundukkan oleh rasa takut kepada selain Allah, dan tidak lagi terjebak dalam gelapnya kesyirikan. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati kita hanya terikat pada satu tali, yaitu tali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Sejarah mencatat kalimat emas yang diucapkan oleh seorang sahabat Nabi, Rib’i bin ‘Amir, ketika ia berdiri dengan gagah di hadapan Panglima Persia, Rustum. Dengan penuh wibawa, Rib’i menjelaskan misi kedatangan Islam:
اللهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَمِنْ ضِيْقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الإِسْلامِ
Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan kepada sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.
Inilah manifesto kemerdekaan yang sesungguhnya. Seorang manusia bisa saja hidup di negeri yang merdeka secara politik, namun jiwanya tetap terpenjara jika ia masih menjadi budak bagi hartanya, budak bagi jabatannya, atau budak bagi penilaian manusia. Kemerdekaan dalam Islam adalah emansipasi spiritual yang menempatkan manusia pada derajat kemuliaan yang setinggi-tingginya, di mana satu-satunya otoritas tertinggi dalam hidupnya hanyalah hukum Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing di hari yang mulia ini. Sudahkah kita benar-benar merdeka? Ataukah kita masih sering merasa cemas yang berlebihan akan rezeki, seolah-olah rezeki itu bukan Allah yang mengatur? Ataukah kita masih sering melanggar syariat demi mendapatkan pujian manusia, seolah-olah pandangan manusia lebih berharga daripada pandangan Allah?
Janganlah sampai kita menjadi tawanan bagi diri kita sendiri. Ketahuilah bahwa puncak dari segala kemerdekaan adalah ketika seorang hamba mampu berkata dengan penuh keyakinan: "Lailaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah). Kalimat ini adalah proklamasi bahwa tidak ada yang berhak mengatur, memerintah, dan membelenggu hidup kita kecuali Sang Pencipta semesta alam.
Kemerdekaan ini menuntut kita untuk berani memutuskan rantai kemaksiatan. Karena setiap tetes dosa yang kita biarkan menetap dalam hati adalah satu rantai yang menjauhkan kita dari cahaya-Nya. Setiap kezaliman yang kita lakukan kepada sesama adalah bentuk penjajahan baru yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Mahkamah Ilahi.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Marilah kita jadikan momentum ini untuk kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Mari kita merdekakan hati kita dari kebencian, iri dengki, dan kesombongan. Mari kita isi ruang kemerdekaan ini dengan ketaatan yang tulus, sehingga saat ajal menjemput kelak, kita benar-benar dalam keadaan merdeka; bebas dari rasa takut akan dunia dan penuh harap akan rahmat serta ampunan-Nya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing langkah kita, menguatkan iman di dalam dada, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang merdeka lahir dan batin, hingga kelak kita dipertemukan di dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan abadi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ