اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Di siang yang penuh barokah ini, izinkan hati ini mengajak sejenak merenung, menembus dinding-dinding sanubari yang mungkin telah lama mengeras karena debu duniawi.
Pernahkah kita membayangkan sebuah saat, di mana kata-kata tidak lagi berguna, di mana harta yang kita tumpuk menjadi asing, dan di mana nafas terakhir mulai tersengal di ujung kerongkongan? Itulah saat sakaratul maut, saat di mana tirai penutup antara dunia dan akhirat disingkap oleh Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Dahulu, di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, hiduplah seorang sahabat yang sangat bersahaja bernama Sya'ban Radhiyallahu 'Anhu. Ia bukan seorang bangsawan kaya, bukan pula panglima perang yang masyhur namanya. Namun, Sya'ban memiliki satu kebiasaan yang membuat para malaikat mengenalnya: ia tak pernah absen dari shalat berjamaah di masjid. Ia memiliki sudut khusus di pojok depan masjid, tempat ia selalu bersimpuh menghadap Rabb-nya.
Hingga pada suatu subuh, Rasulullah tidak mendapati Sya'ban di tempat biasanya. Kekhawatiran melanda hati Baginda Nabi yang mulia. Selesai shalat, beliau bertanya kepada para sahabat, namun tak ada yang tahu. Akhirnya, Rasulullah mengajak para sahabat berjalan kaki menempuh jarak yang sangat jauh—hampir tiga jam perjalanan—menuju rumah Sya'ban.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh sang istri dengan tetesan air mata yang membasahi pipi. Sya'ban telah wafat. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati istrinya. Ia bercerita kepada Rasulullah bahwa menjelang wafatnya, suaminya berteriak tiga kali dalam rintihan yang sangat menyayat hati. Sya'ban berteriak: "Aduh, kenapa tidak lebih jauh!", lalu "Aduh, kenapa tidak yang baru!", dan terakhir "Aduh, kenapa tidak semua!".
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Istri Sya'ban bertanya, "Ya Rasulullah, apa makna rintihan suamiku itu?"
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian menjelaskan dengan nada yang penuh kelembutan namun menggetarkan jiwa. Di saat Sya'ban sedang meregang nyawa, Allah membukakan tirai ghaib baginya. Allah memperlihatkan pahala dari setiap langkah kakinya menuju masjid.
Ketika Sya'ban melihat betapa indahnya istana yang dibangun dari setiap langkah kakinya ke masjid yang jaraknya tiga jam perjalanan itu, ia pun merintih: "Aduh, kenapa tidak lebih jauh!". Ia menyesal mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi agar pahalanya semakin melimpah.
Lalu, Allah memperlihatkan pahala saat suatu hari di musim dingin yang menusuk tulang, Sya'ban memberikan baju hangatnya yang sudah lama kepada seorang pengemis. Melihat pahala yang begitu besar, ia kembali merintih: "Aduh, kenapa tidak yang baru!". Ia menyesal mengapa saat itu ia memberikan baju yang lama, bukan baju yang paling bagus dan baru.
Terakhir, saat ia melihat pahala dari sepotong roti yang ia bagi dua dengan orang yang lapar, Sya'ban merintih untuk ketiga kalinya: "Aduh, kenapa tidak semua!". Ia menyesal, seandainya ia berikan seluruh roti itu, tentu kenikmatan yang ia lihat saat itu jauh lebih luar biasa.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing di hadapan Allah saat ini. Sya'ban adalah ahli masjid. Sya'ban adalah orang yang dermawan. Sya'ban adalah orang yang bertaqwa. Namun, di akhir hayatnya, ia tetap merasa menyesal karena merasa amalnya masih terlalu sedikit.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Bagaimana dengan kita yang masjidnya hanya beberapa langkah dari rumah, namun kaki ini terasa seberat gunung untuk melangkah? Bagaimana dengan kita yang tumpukan pakaian di lemari begitu banyak, namun hati ini begitu kikir untuk berbagi dengan mereka yang kedinginan? Bagaimana dengan kita yang sering membuang sisa makanan, sementara tetangga kita mungkin sedang menahan lapar di balik pintu rumahnya?
Ketahuilah saudaraku... kelak kita pun akan melihat tirai itu dibuka. Kita akan melihat setiap detik yang kita sia-siakan. Kita akan melihat setiap rupiah yang kita belanjakan untuk maksiat. Kita akan melihat setiap sujud yang kita lakukan dengan terburu-buru.
Maka, sebelum nafas ini benar-benar terhenti, sebelum lisan ini kelu tak lagi mampu berucap, mari kita kembali kepada Allah. Mari kita perbaiki shalat kita. Mari kita lembutkan hati kita untuk berbagi. Jangan sampai rintihan penyesalan Sya'ban menjadi rintihan keputusasaan bagi kita di saat maut menjemput.
Ya Allah... janganlah Engkau wafatkan kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Janganlah Engkau jadikan kami orang-orang yang meratapi kelalaian kami di saat semuanya telah terlambat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ