اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Di hari Jumat yang penuh barakah ini, di bawah naungan langit yang menjadi saksi bisu atas segala khilaf kita, mari kita sejenak menundukkan kepala. Kita berkumpul di sini bukan sekadar menjalankan rutinitas, namun untuk menyapa kembali sosok yang namanya selalu bersanding dengan nama Sang Pencipta dalam setiap azan yang berkumandang. Kita berada di bulan Maulid, bulan di mana cahaya teragung dilahirkan ke muka bumi. Namun, pertanyaannya, sudahkah cahaya itu menyinari gelapnya hati kita yang penuh dengan noktah dosa?
Bayangkanlah, ribuan tahun yang lalu, di tengah padang pasir yang sunyi, seorang manusia mulia sering terbangun di sepertiga malam. Kakinya membengkak karena terlalu lama berdiri, dan air matanya membasahi tempat sujudnya. Beliau bukan menangisi nasibnya, bukan menangisi kemiskinannya, melainkan menangisi kita. Beliau menangis sembari berbisik lirih: "Ummati... Ummati... Ya Rabb, selamatkanlah umatku." Beliau merindukan kita jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Beliau mencintai kita melampaui cinta ibu kandung kita sendiri.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Kini, kita merayakan hari kelahirannya. Kita menghias masjid, kita melantunkan selawat dengan suara merdu. Namun, benarkah selawat itu lahir dari kerinduan yang jujur? Ataukah selawat itu hanya sekadar hiasan bibir, sementara di saat yang sama, kita sering mengkhianati ajarannya? Kita mengaku mencintai Nabi, namun lisan kita masih tajam menyakiti sesama. Kita mengaku merindukan Nabi, namun kaki kita begitu berat untuk melangkah menuju tempat sujud yang ia cintai.
Pernahkah terbersit di benak kita, bagaimana perasaan Rasulullah SAW jika beliau hadir di tengah-tengah kita hari ini? Melihat umatnya yang saling membenci, melihat pemuda-pemudinya yang jauh dari Al-Qur’an, melihat pemimpin-pemimpinnya yang hilang amanah. Betapa perih hati beliau melihat kita yang lebih mengenal tokoh-tokoh dunia daripada mengenal sirahnya. Kita merayakan Maulid, tapi kita asing dengan akhlaknya. Kita merayakan kelahirannya, tapi kita mematikan sunnah-sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari kita.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Ingatlah saat-saat terakhir napas beliau yang mulia. Di saat maut mendekat, di saat rasa sakit yang tak terbayangkan menghujam tubuhnya, beliau tidak menyebut nama anak-anaknya, beliau tidak mengkhawatirkan harta yang ditinggalkannya. Kalimat yang keluar dari bibirnya yang pucat adalah:
الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
"Peliharalah shalat, peliharalah shalat, dan tunaikanlah hak-hak orang yang lemah di antara kalian."
Lihatlah betapa besar kasih sayangnya! Hingga napas terakhir, yang dipikirkan hanyalah keselamatan kita. Lantas, sudahkah kita membalas cinta itu? Ataukah kita justru menjadi penyumbang duka bagi beliau di alam barzakh sana karena kemaksiatan yang kita banggakan? Maulid ini adalah momen untuk pulang. Pulang ke pelukan sunnahnya, pulang ke jalan yang ia tempuh dengan darah dan air mata di Thaif dan Uhud. Jangan biarkan air mata Nabi tumpah sia-sia karena kebebalan hati kita.
Mari kita berjanji pada diri sendiri, di Jumat yang syahdu ini, bahwa perayaan Maulid kali ini bukan hanya sekadar seremoni. Mari kita lahirkan kembali kecintaan yang tulus. Mari kita basahi lisan ini dengan selawat yang mampu menggetarkan arasy, selawat yang lahir dari penyesalan atas dosa-dosa kita. Mintalah ampun kepada Allah, karena mungkin selama ini kita telah menjadi umat yang mengecewakan kekasih-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ