Logo Kangsantri AI

Muslim Paripurna Jalan Utama

Khutbah Jumat
A
ABQ MEDIA
25 September 2026 3 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Di hari Jumat yang penuh kemuliaan ini, mari kita sejenak menundukkan kepala, meraba dada kita yang rapuh, dan menatap ke dalam lubuk jiwa kita yang paling sunyi. Marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala—sebuah takwa yang bukan sekadar terucap di bibir, melainkan meresap hingga ke pembuluh darah dan menggetarkan setiap jengkal kesadaran kita.

Sudah berapa puluh tahun kita hidup di atas muka bumi ini dengan menyandang nama agung seorang Muslim? Namun, tanyakanlah pada jiwa yang sering lalai ini: benarkah kita telah menjadi seorang Muslim yang paripurna? Ataukah selama ini keislaman kita hanyalah sebatas warisan nama, rutinitas jasad yang kosong dari ruh, dan kepura-puraan di hadapan sesama manusia?

Betapa sering raga ini berdiri menghadap kiblat, namun hati kita melalang buana mengejar dunia. Betapa sering lisan ini melafalkan ayat-ayat suci, namun di luar masjid lisan yang sama begitu ringan menggunjing, mencaci, dan menyayat hati saudara seiman. Kita mengaku mencintai Allah di atas segalanya, namun ketika perintah-Nya berbenturan dengan hawa nafsu dan kesenangan sesaat, dengan begitu mudahnya kita mengkhianati cinta-Nya.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Menjadi Muslim paripurna bukanlah sekadar menyempurnakan rukun Islam yang tampak oleh mata. Menjadi Muslim paripurna adalah penyerahan total tanpa sisa—menyerahkan kehendak diri di bawah kehendak Sang Pencipta. Seorang Muslim yang kaffah adalah dia yang akhlaknya menjadi penyejuk, pandangannya terjaga dari yang haram, dan hatinya bersih dari kedengkian.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dengan nada yang sarat akan makna:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Seorang Muslim yang sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya merasa aman dan selamat dari keburukan lisan dan tangannya."

Duhai hamba-hamba Allah... Sudahkah orang-orang di sekitar kita merasa aman dari tajamnya kata-kata kita? Sudahkah anak dan istri kita melihat cahaya Islam terpancar dari kelembutan kita di rumah? Ataukah justru di balik pintu-pintu yang tertutup rapat, kita menjadi sosok yang bengis, pongah, dan melupakan Allah yang Maha Melihat segala rahasia?

Alangkah malangnya diri ini jika kelak kita menghadap Allah dengan tumpukan pahala shalat dan puasa, namun bangkrut tanpa sisa karena kezaliman kita kepada sesama. Sungguh, Islam tidak pernah mengajarkan ibadah yang terbelah; Islam menuntut kita menyerahkan seluruh hela napas, detak jantung, dan amal perbuatan hanya untuk-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan ikrar sejati seorang mukmin di dalam kalam-Nya:

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

"Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...

Renungkanlah, wahai jiwa-jiwa yang sedang menanti ajal... Setiap detik yang berlalu mengikis sisa jatah hidup kita. Kain kafan yang akan membungkus tubuh kaku kita mungkin telah selesai ditenun. Liang lahad yang gelap dan sempit sedang menunggu kedatangan kita. Bayangkan ketika malaikat maut datang menjemput, sementara kita masih berkubang dalam kemaksiatan yang belum sempat ditaubati, masih menjadi Muslim yang setengah hati.

Dengan wajah apa kelak kita akan menatap Rasulullah di Padang Mahsyar? Dengan alasan apa kita akan membela diri di hadapan Rabbul 'Alamin ketika catatan amal dibentangkan, sementara lembaran-lembaran hidup kita dipenuhi kelalaian dan kepalsuan?

Duhai jiwa yang letih oleh dosa, tidakkah engkau rindu untuk pulang kepada Allah dengan hati yang selamat? Tidakkah engkau ingin menangis di hadapan-Nya, memohon ampunan sebelum nafas tersengal di kerongkongan dan pintu taubat terkunci rapat untuk selamanya?

Mari kita runtuhkan kesombongan ini. Mari kita basahi sajadah kita dengan air mata penyesalan. Rangkullah kembali ajaran Islam secara utuh—dalam ibadah kita, dalam muamalah kita, dalam kesendirian kita, dan dalam setiap tarikan nafas kita. Jadilah Muslim yang paripurna, yang hidupnya menjadi rahmat dan kepulangannya disambut dengan ridha Ilahi.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →