Logo Kangsantri AI

Maulid Nabi, Berkah Umat Kini

Khutbah Jumat
M
Muhammad Azzaam Muttaqie
11 September 2026 4 menit baca 21 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ: اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...

Marilah kita tundukkan sejenak pandangan kita, kita heningkan riuh rendah dunia di dalam dada kita. Mari kita bertanya pada diri yang fana ini: Di manakah posisi Baginda Nabi Muhammad ﷺ di dalam lubuk hati kita yang paling dalam? Di tengah deru zaman yang kian asing, di tengah badai fitnah yang membuat hati kian mengeras bagai batu, hadirlah sebuah peringatan agung tentang lahirnya Sang Cahaya, Maulidurrasul ﷺ.

Hari ini, kita merayakan bukan sekadar ritual tahunan. Kita merayakan kerinduan. Kita merayakan harapan di tengah keputusasaan. Merayakan Maulid Nabi adalah momen bagi kita untuk berhenti sejenak dari keletihan dunia, untuk kembali pulang kepada pelukan kasih sayang sosok yang bahkan sebelum ia menghirup udara dunia, namanya telah tertulis di tiang-tiang Arsy.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...

Tahukah kalian, betapa pedihnya hati ini jika kita menyadari betapa jauhnya kita dari tuntunannya? Kita sering mengaku mencintainya, namun lisan kita lebih sering basah dengan ghibah daripada shalawat. Kita mengaku ummatnya, namun rumah tangga kita jauh dari sakinah, dan akhlak kita kian menjauh dari kemuliaan yang ia ajarkan.

Lihatlah dunia hari ini. Manusia saling memangsa, kebencian ditebarkan, dan kesombongan diagungkan. Bukankah ini tanda bahwa kita sedang mengalami kekeringan ruhani yang akut? Kita merayakan Maulid karena kita butuh "Oase". Kita butuh diingatkan kembali tentang sosok yang saat maut menjemputnya, ia tidak memanggil nama anaknya, ia tidak memanggil istrinya, melainkan ia merintih dengan suara bergetar: "Ummati... Ummati... Ummati..." Umatku... umatku... umatku...

Ia mencintai kita sebelum ia melihat kita. Ia menangisi dosa-dosa kita sebelum kita sempat bertaubat. Lantas, pantaskah kita yang dicintainya sesunyi ini dari mengingatnya?

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...

Ingatlah sebuah kisah yang menggetarkan sanubari. Di masa beliau hidup, ada sepotong batang pohon kurma yang biasa beliau gunakan sebagai sandaran saat berkhutbah. Ketika dibuatkan mimbar baru dan Nabi meninggalkannya, batang kurma itu menangis. Ya, batang kayu itu merintih, bersuara bagaikan tangisan anak kecil yang kehilangan ibunya, karena ia merindukan sentuhan tubuh suci Sang Rasul.

Jika sepotong kayu mati saja bisa menangis sedu-sedan karena rindu kepada kekasih Allah, lalu terbuat dari apakah hati kita ini? Mengapa mata ini begitu sulit meneteskan air mata saat nama Muhammad disebut? Mengapa jantung ini tidak berdegup kencang saat mendengar perjuangannya yang berdarah-darah demi menyelamatkan kita dari api neraka?

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..."

Merayakan Maulid di masa kini adalah sebuah urgensi untuk menyelamatkan kemanusiaan kita. Manfaatnya bukan untuk Allah, bukan untuk Rasul-Nya, melainkan untuk jiwa kita yang sedang sekarat. Kita butuh meneladani kasih sayangnya untuk membasuh kebencian di hati kita. Kita butuh meneladani kejujurannya untuk memperbaiki kehancuran moral kita. Kita butuh cahayanya agar kita tidak tersesat dalam kegelapan akhir zaman yang menyesakkan ini.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...

Maka, di jumat yang mulia ini, di bulan kelahiran Sang Nabi yang agung, mari kita buka kembali lembaran-lembaran sirahnya dengan air mata penyesalan. Mari kita jadikan peringatan Maulid ini sebagai titik balik. Jangan biarkan ia berlalu hanya sebagai seremonial belaka.

Katakanlah pada dirimu sendiri: "Wahai jiwa yang malang, kapankah engkau akan benar-benar mengikuti jejak langkah kakinya? Kapankah engkau akan membawa akhlaknya ke dalam pasarmu, ke dalam kantormu, ke dalam rumahmu?"

Ya Allah, jangan biarkan hati kami mengeras. Jangan biarkan kami menjadi umat yang terputus dari kasih sayang Nabi-Mu. Kami merindukannya, ya Allah... meskipun kami sadar betapa kotornya diri ini untuk bersanding dengannya di telaga Al-Kautsar nanti. Namun, bukankah Engkau Maha Pengampun? Dan bukankah ia adalah Rahmatan lil 'Alamin?

Semoga dengan cinta yang secercah ini, dengan peringatan yang tulus ini, kita diakui sebagai umatnya yang berhak mendapatkan syafaatnya di hari di mana tidak ada lagi pertolongan kecuali dari-Mu melalui tangan sucinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →