اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini, di detik-detik yang penuh keberkahan ini, mari kita sejenak menundukkan kepala, merenungkan hakikat diri kita yang sebenarnya rapuh. Kita duduk di tempat ini dengan jasad yang bernyawa, langkah kaki yang tegap, dan pakaian yang bersih. Namun, pernahkah kita bertanya pada lubuk hati yang paling dalam: apakah jasad yang hidup ini benar-benar dihuni oleh hati yang hidup? Ataukah, di balik dada kita yang berdegup, sesungguhnya bersemayam seonggok daging yang telah mati?
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan kita dengan sebuah kenyataan yang sangat menyayat hati melalui firman-Nya:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَاسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, agar hati mereka tunduk mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diberikan kitab sebelumnya, kemudian masa yang panjang memperpanjang usia mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hadid: 16)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ayat ini adalah tamparan keras bagi kita semua. "Belumkah datang waktunya...?" Sebuah pertanyaan retoris yang mengiris jiwa, menyadarkan kita betapa seringnya air mata kita kering saat mendengar nama Allah, betapa tumpulnya perasaan kita saat al-Qur'ان dibacakan, dan betapa dinginnya jiwa kita ketika berdiri di hadapan-Nya dalam sujud yang panjang.
Hati yang mati tidak serta-merta berhenti berdetak, wahai saudara-saudaraku. Hati yang mati adalah hati yang tidak lagi mengenali Tuhannya.
Tanda pertama dari kematian hati adalah hilangnya rasa takut dan hilangnya air mata penyesalan. Ketika seorang hamba melakukan dosa demi dosa, besar maupun kecil, namun matanya tidak pernah basah, dadanya tidak pernah sesak oleh rasa bersalah, dan lisannya enggan beristighfar—maka ketahuilah, itulah sakaratul maut yang melanda batinnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda mengingatkan kita tentang bagaimana dosa-dosa menumpuk:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah ia sedang duduk di bawah gunung, ia takut gunung itu menimpanya. Sebaliknya, seorang pendosa melihat dosa-dosanya seperti lalat yang lewat begitu saja di atas hidungnya. (HR. Bukhari)
Allahu Akbar... Alangkah hinanya kita jika dosa-dosa kita anggap sepele, laksana lalat yang hinggap lalu terbang tanpa bekas.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tanda kedua dari kematian hati adalah hilangnya kenikmatan dalam beribadah. Sholat kita rasakan sebagai beban yang berat, bukan sebagai kebutuhan atau penyejuk mata. Al-Qur'an kita buka hanya sebulan sekali atau bahkan berdebu di atas lemari. Kita begitu bersemangat menghitung harta dunia, mengejar jabatan, dan memuaskan amarah, tetapi begitu lalai dan hambar saat menghadap Sang Pencipta alam semesta.
Dikisahkan dalam sebuah riwayat hikmah, seorang ahli ibadah menangis tersedu-sedu di atas makam ibunya. Seseorang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis separah ini?" Ia menjawab, "Aku tidak menangisi kematian ibuku. Aku menangis karena takut jika kelak Allah mematikan hatiku, sehingga aku mati dalam keadaan lalai dari mengingat-Nya, tanpa ada rasa cinta kepada-Nya."
Bayangkan, betapa mengerikannya jika kita dicabut nyawa dalam keadaan hati yang membatu. Tidak ada rindu pada surga, tidak ada gentar pada neraka, dan yang tertinggal hanyalah kehampaan spiritual yang abadi.
Mari kita merenung, wahai hamba-hamba Allah yang dhuafa. Sampai kapan kita akan terus melangkah di atas jalan yang sesat ini? Sampai kapan kita membiarkan telinga kita tuli dari nasihat, dan mata hati kita buta dari kebenaran?
Mari kita tundukkan ego kita. Mari kita basahi lidah dan hati kita dengan ratapan taubat. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, Yaa Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala diinika wa 'ala tho'atik. Teguhkan hati kami di atas agama-Mu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ