اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Jamaah yang dimuliakan Allah, mari sejenak kita menundukkan hati, merenung dalam kesunyian jiwa, menghadap Sang Pemilik Semesta dalam balutan kerendahan diri.
Bunga melati putih warnanya,
Tumbuh di taman indah berseri.
Dunia tempat mencari makna,
Sebelum kita kembali ke Ilahi.
Seringkali kita merasa dunia ini adalah rumah kita yang abadi. Kita berlari, kita lelah, kita mengeluh karena harta yang tak kunjung cukup, atau jabatan yang tak kunjung diraih. Kita lupa, Allah SWT berfirman: "Dialah yang menjadikan bumi untukmu dengan mudah, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" (QS. Al-Mulk: 15).
Wahai saudara-saudaraku, pernahkah air mata menetes saat kita sadar bahwa setiap langkah kaki kita di atas bumi ini sebenarnya adalah langkah menuju liang kubur? Kita diperintahkan untuk "berjalan di penjuru bumi", bukan untuk mengejar dunia sampai lupa akhirat, melainkan untuk mencari bekal bagi perjalanan panjang yang tak bertepi.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Lihatlah betapa rapuhnya kita. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah menangis tersedu saat beliau melihat debu di kaki Rasulullah ﷺ setelah berbaring di atas tikar kasar. Beliau sadar, dunia bagi kekasih Allah hanyalah tempat persinggahan yang sempit. Ulama salaf, Hasan Al-Bashri rahimahullah berpesan: "Dunia itu hanyalah tiga hari; hari kemarin yang telah pergi, hari esok yang belum tentu kita jumpai, dan hari ini yang sedang kita jalani. Maka, gunakan hari ini untuk sujudmu, bukan untuk nafsumu."
Saudaraku, tanah yang kita injak hari ini, esok akan menjadi saksi. Ia akan memeluk jasad kita saat napas terakhir berpamitan. Pernahkah kita bertanya, apakah tanah ini akan menjadi saksi kebaikan atau saksi kedurhakaan kita?
Mari kita berhenti mengejar bayang-bayang. Berjalanlah di bumi Allah dengan niat ibadah. Bekerjalah untuk menghidupi keluarga sebagai jihad. Berdaganglah dengan kejujuran sebagai dakwah. Karena sejatinya, setiap langkah kita adalah detak menuju pertemuan dengan Sang Pencipta.
Ya Allah, jangan jadikan dunia ini memenuhi hati kami hingga kami lupa pada kampung halaman kami yang kekal. Ampunilah langkah-langkah kami yang pernah salah arah, dan bimbinglah kaki kami untuk selalu melangkah menuju ridha-Mu. Jadikanlah sisa hidup kami sebagai bekal terbaik sebelum napas terhenti di tenggorokan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ