Logo Kangsantri AI

Etika Bertamu dalam Islam

Kultum
U
Ummi Winda
25 Juni 2026 3 menit baca 50 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) (النور: 27)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

Jalan-jalan ke pasar membeli jamu,
Beli jamu lalu diminum segera.
Jika ingin tamu yang selalu dirindu,
Terapkan adab dengan penuh gembira.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanallahu Wa Ta'ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Hari ini, kita kembali dikumpulkan dalam majelis yang mulia ini untuk menimba ilmu, menambah keimanan, dan mempererat tali persaudaraan.

Tema yang akan kita hadirkan dalam kesempatan singkat ini adalah tentang adab dan tata krama bertamu. Suatu perkara yang mungkin sering luput dari perhatian kita, namun memiliki makna yang sangat dalam dalam ajaran Islam, mengatur hubungan sosial antar sesama hamba Allah. Bertamu, sejatinya bukan hanya sekedar mengunjungi seseorang. Ia adalah sebuah ibadah, sebuah sarana untuk mempererat silaturahmi, menjaga keharmonisan, dan menyebarkan kasih sayang.

Dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 27, Allah Subhanallahu Wa Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." Ayat ini begitu tegas memerintahkan kita untuk memiliki adab sebelum memasuki sebuah rumah. Bukan sekedar "ketuk pintu", tapi "meminta izin dengan cara yang baik" dan "memberi salam". Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada sang pemilik rumah, untuk memastikan kehadiran kita tidak mengganggu, tidak menyinggung, dan tidak menimbulkan kebingungan.

Adab bertamu mencakup berbagai aspek. Mulai dari niat yang tulus untuk bersilaturahmi, tidak menyusahkan tuan rumah, hingga bagaimana kita berperilaku selama berada di rumah orang lain. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya memuliakan tamu dimata Allah dan Rasul-Nya.

Ulama salaf kita, seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, menjelaskan bahwa adab bertamu adalah bagian dari akhlak mukmin. Beliau mengingatkan agar seorang tamu tidak berlama-lama di rumah sahabatnya, kecuali jika memang diundang dan tuan rumah sangat senang dengan kehadirannya. Tuan rumah pun perlu menyiapkan diri untuk menyambut tamunya dengan senyum, ramah tamah, dan sebisa mungkin memberikan pelayanan terbaik.

Bayangkan, ketika kita bertamu, kita memasuki "wilayah" pribadi seseorang. Pakaian kita, ucapan kita, pandangan kita, bahkan keheningan kita sekalipun bisa menjadi penilaian tersendiri bagi tuan rumah. Jika kita datang dengan hati yang lapang, menjaga pandangan, berbicara dengan tutur kata yang baik, tidak mengumbar aib rumah tangganya, insya Allah, kita akan menjadi tamu yang dicintai.

Bukan sekadar 'permisi' saat datang, adab ini berlanjut hingga kita berpamitan. Berpamitan dengan sopan, mengucapkan terima kasih atas segala hidangan dan kehangatan yang diberikan, serta mendoakan kebaikan bagi tuan rumah. Ini adalah closing statement yang indah, yang akan meninggalkan kesan positif dan keinginan kuat untuk kembali berkunjung.

Hadirin sekalian,
Mari kita renungkan. Berapa banyak di antara kita yang sudah terbiasa bertamu tanpa memperhatikan etika ini? Terlalu lama duduk tanpa disadari, bertanya-tanya hal pribadi tuan rumah yang tidak sepantasnya kita ketahui, atau bahkan mengeluh atas hidangan yang disajikan. Hal-hal kecil ini, seringkali tanpa kita sadari, dapat melukai hati tuan rumah dan merusak keakraban yang seharusnya terjalin.

Oleh karena itu, marilah kita hadirkan kembali nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadikan setiap kunjungan kita sebagai tanda cinta dan penghormatan. Jadikan rumah kita sebagai tempat yang nyaman untuk dikunjungi, dan jadikan diri kita sebagai tamu yang dirindu. Mulailah dari diri sendiri, dari keluarga, dan sebarkanlah kebaikan ini di lingkungan kita.

Semoga Allah Subhanallahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing kita untuk senantiasa beradab dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bertamu. Semoga pertemuan kita ini membawa keberkahan dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang lebih baik di hadapan-Nya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →