Logo Kangsantri AI

Harmoni Tetangga dalam Islam

Kultum
U
Ummi Winda
25 Juni 2026 3 menit baca 27 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَا...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

{وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَبِالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا} (النساء: 36)

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin wal hadirat, sidang jamaah sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sungguh sebuah kehormatan bagi saya untuk berdiri di hadapan Anda sekalian pada kesempatan yang berbahagia ini.

Pergi ke pasar membeli pandan,
Pandan dirangkai indah tak terperi.
Bertetangga mestilah rukun dan sopan,
Agar hidup damai sepanjang hari.

Pernahkah kita merenung, saudaraku, tentang arti penting kehadiran tetangga dalam kehidupan kita? Mereka adalah orang-orang yang pertama kali kita sapa saat keluar rumah, yang pertama kali kita mintai tolong saat membutuhkan, dan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Islam, sebagai agama yang sempurna, telah memberikan panduan yang jelas mengenai adab dan tata krama bertetangga. Ajaran ini bukan sekadar aturan sosial biasa, melainkan sebuah sistem yang membangun harmoni, kasih sayang, dan rasa saling memiliki di tengah masyarakat.

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 36, yang baru saja kita dengar bersama: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat..." Begitu indah penempatan hak tetangga yang begitu dekat dengan hak Allah dan hak kerabat. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan tetangga dalam pandangan Allah Ta'ala.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: "Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku mengira bahwa ia akan menjadikan tetangga sebagai pewaris." Hadits ini menegaskan betapa pentingnya hak tetangga dalam Islam. Bahkan, malaikat Jibril pun berulang kali mengingatkan Rasulullah ﷺ tentang kewajiban berbuat baik kepada tetangga. Ini bukan sekadar saran, melainkan sebuah penekanan betapa besar nilai seorang tetangga yang baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, adab bertetangga mencakup berbagai hal. Mulai dari menjaga pandangan kita agar tidak melanggar privasi mereka, menjaga lisan agar tidak menyakiti hati mereka, hingga membantu mereka saat kesulitan. Berbuat baik kepada tetangga tidak hanya terbatas pada tetangga yang seiman, tetapi juga termasuk tetangga yang berbeda agama. Rasulullah ﷺ pernah memesan kepada Abu Dzar Al-Ghifari: "Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak masakan, maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagikanlah kepada tetanggamu." Ini adalah contoh kongkret bagaimana Islam mengajarkan solidaritas dan kepedulian tanpa memandang latar belakang.

Seringkali kita terjebak dalam kesibukan duniawi, hingga lupa bahwa di samping rumah kita ada sesama manusia yang memiliki hak atas diri kita. Ada tetangga yang mungkin sedang sakit dan membutuhkan bantuan kita, ada tetangga yang mungkin sedang berduka dan butuh uluran tangan, atau sekadar butuh sapaan hangat untuk mengusir sepi. Jangan sampai kita menjadi tetangga yang seperti digambarkan dalam hadits lain, yaitu tetangga yang dibenci oleh Allah karena kejahatannya.

Seorang ulama besar, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata, "Tetangga yang baik lebih baik daripada istri yang baik, karena istri baik hanya untuk keluarganya, sedangkan tetangga baik akan menjaga seluruh penghuni rumah." Pernyataan ini mungkin terdengar kontroversial bagi sebagian orang, namun maknanya mendalam. Tetangga yang baik adalah benteng pertahanan kita, pelindung keluarga kita, dan penyambung silaturahmi yang tak terputus.

Mari kita renungkan sejenak. Sudahkah kita memberikan hak tetangga kita? Sudahkah kita menjadi tetangga yang baik, yang membawa manfaat dan ketenangan bagi lingkungan kita? Atau justru kita menjadi beban, sumber masalah, dan penyebab ketidaknyamanan?

Oleh karena itu, marilah kita mulai memperbaiki hubungan kita dengan tetangga. Mulailah dengan senyuman, sapaan yang ramah, menawarkan bantuan ketika mereka membutuhkan, dan hindari melakukan hal-hal yang dapat menyakiti atau mengganggu mereka. Jadikanlah rumah kita sebagai sumber kebaikan, bukan sumber permusuhan. Mari kita jadikan lingkungan kita sebagai cerminan keindahan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa menumbuhkan rasa kasih sayang di hati kita, memudahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama, dan menjadikan kita sebagai tetangga yang diridhai-Nya. Aamiin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →