اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin, Bapak, Ibu, Saudara-saudari sekalian, kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Boleh kita berlayar mencari mutiara,
Namun lebih indah menambang emas di hati,
Jika terus membanding, jiwa kan terpinara,
Gali diri, temukan diri sejati.
Sungguh, kehidupan ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan yang setiap detiknya berharga, setiap langkahnya memiliki makna. Namun, seringkali kita tersesat dalam labirin perbandingan. Kiri kanan kita terlihat lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia. Dan tanpa sadar, kita mulai mengukur diri sendiri berdasarkan standar orang lain, melupakan keunikan dan potensi luar husus yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Padahal, setiap insan diciptakan dengan keistimewaan masing-masing.
Ayat yang kita baca tadi, {وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ...} mengingatkan kita agar senantiasa fokus pada amal perbuatan kita, bukan pada apa yang dilakukan orang lain. Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui segala amal kita, baik yang terlihat maupun tersembunyi.
Seringkali, perasaan iri dan dengki yang lahir dari perbandingan ini menggerogoti ketenangan hati kita. Kita melihat kesuksesan orang lain seolah sebuah kemewahan yang tidak pernah bisa kita raih. Padahal, kesuksesan itu memiliki beragam bentuk. Kesuksesan dalam membangun keluarga yang harmonis, kesuksesan dalam mendidik anak-anak menjadi sholeh dan sholehah, kesuksesan dalam menjaga amanah, bahkan kesuksesan dalam kesabaran menghadapi cobaan, semua adalah bentuk kesuksesan yang patut disyukuri.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari, kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satunya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.' Malaikat yang lain berkata, 'Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan (hartanya).'" (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita berikan, bukan apa yang dimiliki orang lain.
Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Barang siapa yang menyibukkan diri dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, maka ia akan kehilangan sebagian besar waktu berharganya untuk memperbaiki dirinya sendiri." Begitulah, energi yang seharusnya kita gunakan untuk introspeksi, untuk memperbaiki kekurangan, untuk mengasah potensi diri, justru terbuang sia-sia untuk memikirkan "orang lain".
Allah menciptakan kita berbeda-beda, agar kita saling mengenal dan melengkapi. Mari kita renungkan firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13:
Ayat ini sungguh meneduhkan. Ketaqwaanlah ukuran kemuliaan kita di hadapan Allah, bukan harta, bukan tahta, bukan pula popularitas yang seringkali menjadi objek perbandingan.
Saudaraku, mari kita alihkan pandangan kita. Alihkan fokus kita dari hiruk pikuk dunia orang lain, menuju kedalaman diri kita sendiri. Gali potensi yang terpendam, asah bakat yang tersembunyi, perbaiki akhlak yang belum sempurna. Jadilah pribadi yang autentik, yang bersinar dengan cahaya diri sendiri, bukan bayangan orang lain. Mulailah dari hal kecil. Sibukkan diri dengan tilawah Al-Qur'an, hadirkan diri dalam majelis ilmu, pererat silaturahmi dengan tulus, lebih peduli pada amal jariyah.
Mari kita berhenti membandingkan diri, karena setiap kita adalah ciptaan Allah yang sempurna dalam rencana-Nya. Saatnya kita menggali jati diri, menemukan hikmah di balik setiap fase kehidupan, dan meraih ridha Allah dengan segenap jiwa raga.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk mengenal diri, memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang dicintai-Nya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ