Logo Kangsantri AI

Pikirkan sebelum bertindak bijak

Kultum
A
Abqori
11 Juli 2026 2 menit baca 42 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita bersyukur atas setiap tarikan napas kita. Sungguh, akal adalah anugerah terbesar yang membedakan kita dari makhluk lain. Sebelum kita masuk ke inti renungan, izinkan saya menyampaikan sebuah untaian kata:

Pergi ke pasar membeli nuri,
Pulang ke rumah membawa dahan.
Mari kita asah jernihnya diri,
Berpikir kritis dalam ketaatan.

Saudaraku, pernahkah kita berhenti sejenak di tengah riuhnya informasi dan kompleksitas dunia ini, lalu bertanya pada diri sendiri: "Apakah yang aku lakukan ini benar-benar membawa manfaat, atau hanya sekadar ikut-ikutan keramaian?" Berpikir kritis bukanlah sekadar kecerdasan logika, melainkan cahaya iman yang memandu setiap langkah agar tidak terperosok ke dalam kesesatan.

Dalam Islam, kita diperintahkan untuk tidak menjadi pribadi yang imma'ah—yang hanya mengekor tanpa peduli arah. Allah SWT berfirman:

أَفَلَا يَتَفَكَّرُونَ
"Maka apakah mereka tidak memikirkannya?" (QS. Al-An'am: 50).
Ayat ini adalah undangan bagi setiap mukmin untuk menyelami hakikat di balik setiap fenomena. Rasulullah ﷺ pun mengajarkan kita untuk selalu tabayyun dalam menyikapi berita dan keadaan, sebagaimana sabda beliau:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
"Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menceritakan apa saja yang ia dengar." (HR. Muslim).

Banyak dari kita hari ini mudah terseret arus opini, emosi, dan hoaks hanya karena kita enggan meluangkan waktu untuk menimbang dengan timbangan wahyu. Ulama besar, Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan:

لَيْسَ الْعَاقِلُ مَنْ يَعْرِفُ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ، وَلَكِنَّ الْعَاقِلَ مَنْ يَعْرِفُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ
"Bukanlah orang yang berakal itu hanya sekadar tahu baik dan buruk, tetapi orang yang berakal adalah yang mampu membedakan antara dua kebaikan mana yang paling utama, dan antara dua keburukan mana yang paling ringan."

Bayangkan seorang musafir yang hanya berjalan mengikuti jejak kaki tanpa melihat kompas atau arah matahari; ia mungkin sampai ke sebuah tempat, namun mungkinkah itu tujuan aslinya? Berpikir kritis adalah kompas itu. Ia menuntut kita untuk jujur pada diri sendiri, berani menantang ego, dan selalu bersandar pada dalil, bukan sekadar selera pribadi.

Oleh karena itu, saudaraku, mulailah beramal dengan landasan ilmu. Jangan biarkan hati kita mati karena tertutup oleh kemalasan berpikir. Sebelum berbicara, berpikirlah; sebelum melangkah, renungkanlah; dan sebelum memutuskan, mohonlah petunjuk kepada Sang Pemilik akal.

Jadikanlah akalmu sebagai pelayan iman, agar setiap amalmu menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju surga-Nya. Semoga Allah memberikan kita kejernihan pikiran dalam menjalani sisa usia ini. Amin ya Rabbal Alamin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →