Logo Kangsantri AI

Jaminan Syariah Kembangkan Ekonomi

Kultum
U
Ummi Winda
28 Juni 2026 4 menit baca 9 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (27)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Hadirin sekalian, para Bapak, Ibu, Saudara-saudari yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Terbang tinggi burung di angkasa,
Di lautan luas ikan berenang.
Mari renungkan dunia yang fana,
Agar akhirat kelak kan gemilang.

Sungguh, indahnya nasihat dalam sebuah pantun yang mengingatkan kita pada hakikat kehidupan ini. Hari ini, kita akan merenungkan sebuah tema yang seringkali tak kita sadari membawa kita pada jebakan duniawi, yaitu tentang "Gadai". Bukan sekadar transaksi harta, namun bisa menjadi gadai atas diri dan masa depan kita.

Pernahkah kita memikirkan, apa yang paling berharga yang kita miliki di dunia ini? Tentu, di atas segala kenikmatan duniawi, ada satu aset yang tak ternilai harganya: waktu dan kesempatan yang Allah berikan. Namun, seringkali kita rela menggadaikan waktu berharga itu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, atau bahkan yang memudaratkan. Kita menggadaikan waktu untuk kesibukan yang tak berujung, untuk hiburan semu, untuk kejar-kejaran dunia yang melelahkan, sementara ibadah dan tadabbur kita terpinggirkan. Bukankah ini sebuah bentuk penggadaian yang merugikan diri kita sendiri?

Allah SWT berfirman dalam surat Al-A'la ayat 16-17:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (16) إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ (17)
"Bahkan kamu memilih kehidupan duniawi, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu."

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya terbuai oleh gemerlap dunia, tetapi senantiasa ingat bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik dan abadi. Seringkali godaan dunia membuat kita lupa akan tujuan utama penciptaan kita. Kita rela "menggadaikan" sebagian besar dari hidup kita demi kesenangan sesaat, demi materi yang fana, padahal bekal akhirat kita semakin menipis. Imam Hasan Al-Basri rahimahullah pernah bertutur, "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Apabila satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut berlalu." Setiap detik yang terbuang tanpa makna atau dalam kemaksiatan, adalah penggadaian diri yang amat merugikan.

Bahkan, lebih jauh lagi, kita bisa saja menggadaikan nilai-nilai keimanan kita demi sebuah keuntungan duniawi. Kita melalaikan amanah, kita berkhianat, kita berbohong, hanya demi mendapatkan sedikit harta atau kedudukan. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
"Barangsiapa yang berdebat dalam suatu perkara sedang ia mengetahui ia berada di pihak yang salah, maka ia senantiasa dalam kemurkaan Allah sampai ia berhenti dari perdebatan itu." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dan dalam hadits lain:
"Akan datang suatu zaman, dimana orang tidak peduli lagi apa yang ia ambil, apakah dari jalan yang halal atau haram." (HR. Bukhari)
Ini adalah peringatan keras bagi kita agar tidak terjerumus dalam jurang penggadaian prinsip demi dunia.

Sahabat yang dirahmati Allah, mari kita hadirkan kembali kesadaran kita. Mari kita inventarisir kembali, aset berharga apa saja yang telah kita gadaikan tanpa kita sadari. Adakah waktu kita yang telah tergadai dalam kemalasan? Adakah pikiran kita yang tergadai dalam prasangka buruk? Adakah hati kita yang tergadai dalam rasa iri dan dengki? Adakah ibadah kita yang tergadai dalam ketidakikhlasan?

Saatnya kita menebus kembali apa yang telah kita gadaikan. Mulailah dari hal kecil. Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk merenung, membaca Al-Qur'an, atau berzikir. Jujurlah pada diri sendiri dan pada Allah SWT. Tinggalkan segala bentuk kemaksiatan dan dosa. Segeralah bertaubat, karena pintu taubat senantiasa terbuka lebar.

Mari kita ambil pelajaran dari para salafus shalih. Mereka sangat menjaga setiap detik hidup mereka. Mereka memperlakukan waktu sebagai modal utama untuk meraih ridha Allah. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah berkata, "Aku tidak pernah menyesali sesuatu, kecuali terlewatnya satu hari yang tidak aku tambahkan padanya amal kebaikan untuk diriku."

Hadirin yang mulia, marilah kita bertekad mulai saat ini untuk tidak lagi menggadaikan diri ini kepada dunia yang fana. Jadikanlah setiap detik, setiap helaan nafas, sebagai bekal untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat kelak. Dengan taubat yang tulus dan amal shaleh yang konsisten, insya Allah kita dapat menebus semua "gadai" yang telah kita lakukan.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita untuk menjaga amanah waktu dan kehidupan ini, serta menggunakannya di jalan-Nya.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →