Logo Kangsantri AI

Santri Bangkit Semangat Juang

Kultum
K
Kholis Langgeng
19 Oktober 2026 4 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Jamaah sekalian, bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik santri yang insyaallah wajahnya makin bercahaya, atau jangan-jangan malah pada ngantuk karena semalem lembur nonton bola? Tenang, insyaallah hari ini kita nggak akan bahas bola, tapi kita mau merayakan sesuatu yang luar biasa, yaitu Hari Santri Nasional!

Sebelum kita masuk ke inti obrolan santai kita, izinkan saya pantun sebentar ya, jamaah:

Pergi ke pasar beli buah manggis,
Jangan lupa beli kue ketan.
Jadi santri itu jangan suka nangis,
Apalagi kalau pas kehabisan kiriman bulanan!

Nah, itu dia. Ngomong-ngomong soal santri, hari ini kita memperingati Hari Santri. Istilah "santri" ini kadang bikin orang salah paham. Ada yang mikir santri itu cuma yang pakai sarung, kopiah, terus bawa kitab kuning ke mana-mana. Padahal, kalau dipikir-pikir, santri zaman now itu ujiannya berat lho! Kalau santri zaman dulu ujiannya diuji kesabarannya nungguin kiriman orang tua yang nyangkut di pos, nah santri zaman sekarang ujiannya diuji kesabarannya pas kuota internet habis waktu lagi mau setoran hafalan online! Betul apa betul?

Tapi di balik gelak tawa dan gaya hidup santri yang kadang bikin senyum-senyum sendiri—mulai dari cara melipat sarung pas mau shalat Jumat, berebut air di kamar mandi, sampai jurus andalan makan sepiring berlima yang kita kenal dengan istilah "makan barokah"—di baliknya ada mentalitas baja yang luar biasa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang itu diukur dari ilmunya, bukan dari seberapa mahal merek sarung yang dia pakai. Bayangkan, santri itu luar biasa. Hidupnya di pondok pesantren dilatih mandiri. Mau makan harus masak sendiri (atau ngutang dulu di warung Ustadz), baju dicuci sendiri, bahkan kadang baju temannya yang hilang tiba-tiba nempel di jemuran kita. Itulah latihan kepemimpinan yang nyata.

Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
Artinya: "Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang."

Hadits ini kasih tahu kita bahwa mondok, belajar, ngafalin kitab, bahkan ketiduran di majelis ilmu karena kecapekan, itu semua dihitung sebagai jihad fi sabilillah! Makanya, jangan sepelekan para santri. Dulu, para ulama besar kita seperti KH. Hasyim Asy'ari menggerakkan resolusi jihad demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Santri itu bukan cuma jago baca kitab, tapi kalau negara dipanggil, mereka paling depan. Asal jangan dipanggil buat disuruh bayar utang online ya, jamaah!

Ada sebuah qoul ulama salaf yang sangat indah dari Imam Syafi'i rahimahullah, beliau pernah berkata:

مَنْ لَمْ يُذِقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً، تَذَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ
Artinya: "Barang siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walaupun sesaat, maka ia akan menanggung hinanya kebodohan sepanjang hidupnya."

Pahitnya menuntut ilmu itu nyata, jamaah. Pahitnya bangun jam tiga pagi buat tahajud, pahitnya di-takzir karena telat jamaah, pahitnya ngafalin nadhom Alfiyah tapi malemnya malah kebawa mimpi buruk dikejar-kejar baitnya. Tapi percaya deh, rasa pahit itu cuma sementara, sedangkan manisnya ilmu itu bakal dinikmati sampai tua nanti.

Sebagai analogi sederhana, santri itu mirip seperti proses pembuatan kopi tubruk. Biji kopi harus disangrai dengan api yang panas, ditumbuk sampai halus, disiram air mendidih, lalu disaring ampasnya. Prosesnya tidak enak, penuh tekanan. Tapi begitu jadi? Disajikan hangat-hangat di hadapan para kiai, dinikmati dengan penuh kenikmatan. Begitu juga santri, digodok di pesantren dengan aturan yang ketat, dibentuk karakternya, supaya nanti ketika dilepas ke tengah masyarakat, mereka menjadi pribadi yang harum, bermanfaat, dan mendinginkan suasana.

Oleh karena itu, di Hari Santri ini, mari kita jadikan momentum untuk terus mendukung dunia pesantren. Buat para orang tua, jangan ragu menitipkan anak-anaknya ke pesantren. Biar mereka belajar mandiri, belajar agama, dan yang paling penting, belajar bagaimana cara bagi-bagi mie instan satu bungkus untuk dimakan bareng satu kamar.

Mari kita tutup pertemuan kita yang penuh tawa namun sarat hikmah ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar para santri di seluruh penjuru negeri senantiasa istiqamah, dijaga kesehatannya, diberkahi ilmunya, dan kelak menjadi pemimpin bangsa yang amanah.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا وَطُلَابَنَا مِنَ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ، وَالْأَوْلِيَاءِ الصَّالِحِينَ، وَفَقَّهْهُمْ فِي الدِّينِ، وَأَحْسِنْ خُلُقَهُمْ أَجْمَعِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →