اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin sekalian, kaum muslimin yang berbahagia.
Pagi mendung janganlah cemas,
Bawa kitab baca ayatnya.
Ada kalanya hati terasa lemas,
Ayo hidupkan iman dalam dada.
Saudara-saudaraku seiman, seiman dalam dekapan Islam yang mulia. Seringkali kita menganggap bahwa ibadah cukup dilakukan sebatas zahir, sebatas gerakan dan ucapan, tanpa menyentuh kedalaman jiwa, tanpa merasakan kehadiran Allah Ta'ala di setiap hembusan napas kita. Padahal, Islam tidak hanya menuntut kesempurnaanexécution, tetapi juga kesempurnaan penghayatan. Dan puncaknya adalah apa yang disebut dengan Ihsan.
Ihsan, hadirin sekalian, adalah tingkatan tertinggi dalam beragama. Ia adalah kesadaran spiritual yang total, di mana seorang hamba merasa seolah-olah melihat Allah. Jika pun ia tidak mampu melihat-Nya, maka ia yakin bahwa Allah selalu melihatnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Ketika Ihsan tertanam dalam hati, shalat kita bukan lagi sekadar gerakan raga, melainkan dialog mesra dengan Sang Pencipta. Hati kita hadir sepenuhnya, khusyuk, meresapi setiap bacaan, dan merasakan keagungan Allah. Infak yang kita keluarkan bukan lagi beban, melainkan ketaatan yang dilandasi rasa cinta dan syukur atas rezeki yang diberikan. Hati kita yang berinfak, bukan sekadar tangan yang memberi.
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Asy-Syuara ayat 222,
Dan surat Asy-Syuara ayat 223,
Ini menggambarkan bagaimana hati yang jauh dari Ihsan akan mudah terpengaruh oleh bisikan kebatilan. Berbeda dengan orang yang ber-Ihsan, hatinya senantiasa terjaga. Ia senantiasa merasa diawasi oleh Rabb-nya, sehingga ia tidak berani bermaksiat, tidak berani berbuat curang, tidak berani menyakiti sesama.
Perhatikanlah bagaimana para sahabat terdahulu dalam mengamalkan Ihsan. Ketika seorang sahabat bernama Ghisalfarid, terluka parah dalam peperangan, dan dalam keadaan sekarat ia diberi air minum. Namun saat ia hendak meminumnya, ia melihat ada sahabat lain yang terluka lebih parah, bahkan belum sempat minum. Maka dengan sisa tenaganya, ia mempersilakan sahabat itu untuk minum terlebih dahulu. Begitulah Ihsan, mendahulukan orang lain bahkan dalam keadaan genting sekalipun, karena ia merasa Allah Maha Melihat ketulusannya.
Saudara-saudaraku, mari kita renungkan. Seberapa sering kita beribadah dengan kesadaran penuh bahwa Allah melihat kita? Seberapa sering kita beramal tanpa riya', tanpa ingin dilihat manusia, namun semata-mata karena Allah? Ihsan adalah kualitas yang perlu terus kita pupuk. Mulailah dari hal-hal kecil. Saat bersedekah, rasakan kebahagiaan memberi karena Allah. Saat berbicara, jagalah lisan karena Allah mengawasi. Saat berinteraksi dengan sesama, berikan yang terbaik karena Allah mencintai orang yang berbuat baik.
Ayat yang kita baca di awal tadi, surat Al-Baqarah ayat 3, menggambarkan orang-orang yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki mereka. Ini adalah dasar dari Ihsan. Mari kita hadirkan kesadaran ini dalam setiap detak jantung kita, dalam setiap langkah kehidupan kita.
Oleh karena itu, Hadirin sekalian, mari kita berkomitmen untuk melatih diri senantiasa dalam bingkai Ihsan. Mulai saat ini, mari kita praktikkan Ihsan dalam shalat kita, dalam pekerjaan kita, dalam interaksi kita dengan keluarga, tetangga, dan seluruh makhluk Allah. Niatkan setiap amalan kita semata-mata untuk mencari ridha Allah, dengan keyakinan bahwa setiap detik kehidupan kita selalu dalam pandangan-Nya.
Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang ber-Ihsan, yang senantiasa merasa diawasi oleh-Nya, sehingga setiap lini kehidupan kita dipenuhi keberkahan dan keridhaan-Nya. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ