Logo Kangsantri AI

Air Suci Esensi Kehidupan

Kultum
R
Ridho
23 September 2026 12 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا، لِيُطَهِّرَنَا بِهِ مِنْ كُل...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا، لِيُطَهِّرَنَا بِهِ مِنْ كُلِّ دَنَسٍ وَرِجْزٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا مُحَمَّدٍ، خَيْرِ مَنْ تَطَهَّرَ وَصَلَّى وَسَجَدَ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الَّذِينَ غَسَلُوا قُلُوبَهُمْ بِدُمُوعِ الْخَشْيَةِ وَالْإِخْلَاصِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ:

فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا.

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin, kaum muslimin dan muslimat, jamaah yang dimuliakan dan disayangi oleh Allah... Jiwa-jiwa yang hatinya haus akan tetesan rahmat dan ampunan-Nya...

Izinkan lisan yang faqir ini menyapa sanubari kita bersama dengan sebuah untaian nasehat:

Tetes embun membasahi dedaunan
Mengalir jernih penyejuk dahaga
Bersihkan jiwa dari noda kelalaian
Sebelum raga terkubur di liang fana

Wahai saudaraku tercinta, hamba-hamba Allah yang sering kali lelah oleh gemerlap dan kepalsuan dunia...

Pernahkah sejenak saja, di tengah keheningan malam, kita terdiam menatap kedua telapak tangan kita? Pernahkah kita merenungkan, sudah berapa puluh ribu kali air menyentuh kulit kita? Sudah berapa ratus ribu kali kita membasuh wajah, tangan, dan kaki kita dalam wudhu? Namun, mengapa... mengapa hati kita sering kali masih terasa begitu keras membatu? Mengapa jiwa kita masih begitu mudah terombang-ambing oleh dendam, kesombongan, dan cinta dunia? Mengapa air wudhu yang dingin di wajah itu belum mampu memadamkan api maksiat di dalam dada kita?

Para ulama fiqih rahimahumullah, ketika mereka menyusun kitab-kitab mereka, selalu mengawali tulisan dengan Kitabut Thaharah—Bab tentang Bersuci. Dan dalam bab bersuci itu, mereka selalu memulai dengan pembahasan tentang air. Mereka bukan sekadar mengajarkan kita ilmu tentang cairan dan hukum-hukum lahiriah, tetapi sesungguhnya mereka sedang mengetuk pintu batin kita yang tertutup rapat. Mereka ingin mengingatkan kita: bagaimana mungkin shalat kita akan diterima oleh Allah, bagaimana mungkin doa-doa kita akan menembus langit ketujuh, jika sarana yang kita gunakan untuk menghadap-Nya tidak suci, atau jika cara kita bersuci tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Hari ini, mari kita buka kembali lembaran fiqih itu dengan tetesan air mata kesadaran. Mari kita pelajari tiga golongan air yang diajarkan dalam syariat kita, seraya membedah hakikatnya yang menyentuh relung jiwa kita yang paling dalam.

Golongan yang pertama adalah: الطَّاهِرُ الْمُطَهِّرُ (Ath-Thahir Al-Muthahhir). Air yang suci dzatnya dan dapat menyucikan yang lain. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai Air Mutlak.

Air mutlak adalah air yang murni, air yang jatuh dari langit berupa hujan, embun, dan salju, atau yang memancar dari bumi berupa mata air, sumur, sungai, dan samudra yang luas. Air ini tidak terikat oleh nama tambahan apapun yang mengubah sifat aslinya. Ia suci pada dirinya sendiri, dan memiliki kekuatan dari Allah untuk mengangkat hadats serta melenyapkan najis.

Duhai saudaraku... Renungkanlah hakikat air mutlak ini.

Bukankah air hujan yang turun dari langit itu bagaikan fitrah kita saat pertama kali dilahirkan ke muka bumi? Dahulu, ketika ruh kita ditiupkan ke dalam rahim ibu, kita adalah jiwa yang suci, jiwa yang mutlak, jiwa yang bersih dari segala noktah dosa. Kita tidak mengenal dusta. Kita tidak mengenal dengki. Kita tidak mengenal keangkuhan. Kita menangis hanya karena rindu kepada belaian kasih sayang.

Tetapi, apa yang terjadi setelah bertahun-tahun kita melangkah di muka bumi ini? Fitrah yang bening itu telah kita kotori dengan lumpur-lumpur maksiat. Mata kita yang dahulu suci, kini sarat dengan pandangan haram. Tangan kita yang mungil, kini kotor dengan perbuatan aniaya. Kaki kita yang lemah, kini berani melangkah ke tempat-tempat maksiat.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengabarkan sebuah kabar gembira yang sekaligus menjadi teguran pedih bagi kita yang sering mengabaikan wudhu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ - أَوِ الْمُؤْمِنُ - فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, lalu ia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dipandang oleh kedua matanya bersama tetesan air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya setiap dosa yang diperbuat oleh tangannya bersama tetesan air, atau bersama tetesan air yang terakhir. Dan apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah setiap dosa yang dilangkahi oleh kakinya bersama air, atau bersama tetesan air yang terakhir, hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari segala dosa." (HR. Muslim).

Allahu Akbar... Betapa mulianya air mutlak yang Allah ciptakan. Air itu merelakan dirinya mengalir di kulit kita, membawa gugur dosa-dosa mata, dosa tangan, dan dosa kaki kita. Tetapi tanyakanlah pada hati nurani kita: ketika kita berwudhu tadi, apakah kita menyadari gugurnya dosa-dosa itu? Ataukah wudhu kita hanyalah rutinitas dingin tanpa jiwa? Membasuh muka dengan terburu-buru, membasuh tangan tanpa perenungan, lalu langsung melompat berdiri untuk shalat dengan pikiran yang masih melayang di pasar, di kantor, dan di urusan duniawi kita?

Air suci menyucikan itu ada di hadapan kita, tetapi hati kita yang kering enggan disucikan.

Kemudian, golongan yang kedua adalah: الطَّاهِرُ الْمُطَهِّرُ الْمَكْرُوهُ (Ath-Thahir Al-Muthahhir Al-Makruh). Air yang suci dzatnya dan menyucikan, tetapi makruh hukumnya untuk digunakan bersuci pada badan.

Para ulama fiqih menjelaskan, inilah Air Musyammas—air yang terjemur sengatan terik matahari di dalam wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak (seperti besi, tembaga, seng, dan bejana yang mudah berkarat) di negeri yang hawanya sangat panas. Air ini suci, ia sah digunakan untuk wudhu atau mandi, namun syariat memakruhkannya pada tubuh kita karena adanya bahaya medis: uap logam yang terpanaskan itu dapat memicu timbulnya penyakit belang (barash) pada kulit manusia. Syariat Islam begitu menyayangi raga kita, sehingga air yang membahayakan tubuh pun dicegah agar tidak melukai kita.

Duhai saudaraku yang jiwanya sedang gundah...

Tidakkah kita melihat cerminan amal ibadah kita dalam air musyammas ini? Airnya suci, wudhunya sah, tetapi dibenci oleh syariat karena mengandung racun penyakit.

Betapa seringnya ibadah kita mirip dengan air musyammas ini! Kita shalat lima waktu, rukun dan syarat lahiriahnya terpenuhi. Kita membaca Al-Qur'an, tajwidnya indah. Kita mengeluarkan sedekah, jumlahnya banyak. Secara hukum fiqih lahiriah, ibadah kita sah. Namun di balik itu semua... hati kita terpapar sengatan panasnya matahari riya'. Hati kita tertampung di dalam bejana kesombongan, keangkuhan, dan kedengkian.

Ibadah kita sah di mata manusia, namun beracun dan dibenci di hadapan Allah Rabbul 'Izzati! Kita berwudhu dan shalat, tetapi lisan kita masih menyakiti orang tua. Kita berwudhu dan shalat, tetapi dada kita masih mendidih menyimpan amarah dan dendam kepada saudara seiman.

Renungkanlah perkataan Hujjatul Islam, Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab monumentalnya Ihya' Ulumiddin:

قَالَ الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «فَيَا حَسْرَةَ مَنْ طَهَّرَ ظَاهِرَهُ وَأَهْمَلَ بَاطِنَهُ، فَهُوَ كَمَنْ غَسَلَ خَارِجَ الْكُوْزِ وَتَرَكَ دَاخِلَهُ مَلِيئًا بِالْقَذَارَاتِ، لَا يَسْتَحِي أَنْ يَنْظُرَ الْخَلْقُ إِلَى نَظَافَةِ ثَوْبِهِ، وَيَسْتَحِي أَنْ يَنْظُرَ الْخَالِقُ إِلَى نَجَاسَةِ قَلْبِهِ»

"Alangkah malangnya orang yang menyucikan lahiriahnya namun menelantarkan batinnya. Ia bagaikan orang yang membasuh bagian luar cangkir, tetapi membiarkan bagian dalamnya dipenuhi oleh kotoran najis. Ia malu jika manusia melihat pakaiannya kotor, namun ia tidak merasa malu saat Sang Khaliq melihat najis di dalam hatinya."

Duhai jiwa yang rapuh... Apakah kita tidak takut, kelak di hari kiamat, shalat kita yang kita banggakan itu dilemparkan kembali ke wajah kita bagaikan kain lap yang kotor dan berbau busuk, hanya karena ibadah itu telah terkontaminasi oleh panasnya penyakit hati yang tak pernah kita obati?

Lalu, kita melangkah pada golongan air yang ketiga: الطَّاهِرُ غَيْرُ الْمُطَهِّرِ (Ath-Thahir Ghairul Muthahhir). Air yang suci pada dirinya sendiri, tetapi tidak dapat menyucikan yang lain.

Para fuqaha membagi air ini menjadi dua bagian besar:
Pertama, Air Musta'mal—yaitu air yang volumenya sedikit (kurang dari dua kullah) yang telah digunakan untuk membasuh hadats yang wajib, baik hadats kecil maupun hadats besar. Air ini suci, jika terpercik ke pakaian maka pakaian kita tidak bernajis. Tetapi air ini tidak bisa lagi digunakan untuk berwudhu bagi orang lain, karena kekuatannya untuk mengangkat hadats telah sirna.

Kedua, Air Mutaghayyir—yaitu air suci yang telah mengalami perubahan rasa, warna, atau aromanya secara mencolok karena tercampur dengan benda suci lain yang tak terpisahkan, seperti air kopi, air teh, air susu, air mawar, atau air sabun. Air teh itu suci. Air kopi itu halal, lezat, dan menyegarkan ketika diteguk di kala dahaga. Namun, meskipun ia suci dan bermanfaat bagi tubuh, ia sama sekali tidak sah digunakan untuk berwudhu ataupun mandi junub!

Mari kita heningkan cipta kita sejenak... Mari kita tatap cermin batin kita.

Tidakkah kita sadar, betapa banyak manusia di zaman ini yang kehidupannya persis seperti secangkir air teh manis ini?

Di hadapan masyarakat, kita begitu harum. Kita dipuji karena kedermawanan kita, kita disanjung karena tutur kata kita yang santun, kita dinilai sukses, kaya, dan terhormat. Kita bermanfaat bagi urusan duniawi banyak orang, persis seperti air teh yang manis dan nikmat diminum. Manusia menyukai kita, orang-orang berebut mendekati kita.

Tetapi celaka... ketika kita berdiri sendirian di hadapan Allah, ruh kita telah kehilangan sifat muthahhir—kehilangan kemampuan untuk menyucikan diri kita sendiri! Mengapa? Karena hati kita telah terlalu pekat tercampur dengan gula-gula pujian manusia. Warna keikhlasan kita yang dahulu bening dan jernih, telah berubah menjadi pekat oleh warna riya' dan pencitraan. Rasa manisnya iman telah berganti menjadi rasa manisnya sanjungan duniawi.

Ketika kita menghadap Allah dengan hati yang telah berubah total sifat aslinya itu, Allah tidak lagi memandang keindahan lahiriah kita.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dengan nada yang menggetarkan sanubari:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat)." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).

Hati yang salim, hati yang bersih... adalah hati yang seperti air mutlak. Bukan hati yang pekat seperti air kopi, bukan hati yang musta'mal yang terlena dengan masa lalu!

Dan renungkanlah makna air musta'mal... Air yang sudah terpakai untuk membasuh hadats.
Betapa sering kita terperangkap dalam tipuan amal musta'mal. Kita merasa sudah aman dari siksa kubur hanya karena sepuluh tahun yang lalu kita pernah berhaji. Kita merasa sudah dijamin surga hanya karena di masa muda kita pernah rajin ke masjid. Kita bangga dengan amal-amal masa lalu kita yang sudah kering, sementara hari ini, detik ini, hati kita berlumuran dosa-dosa baru yang belum pernah kita basuh dengan air taubat!

Kita tertipu oleh sisa-sisa kebaikan masa lalu, padahal ruh kita saat ini sedang sekarat dalam genangan maksiat dan kelalaian!

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang menggetarkan hati, seorang ulama salaf yang agung, Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, pernah melihat seorang lelaki tua yang sedang berwudhu di pinggir sungai. Beliau mendekatinya lalu bertanya dengan lembut: "Wahai saudaraku, sudah berapa tahun usiamu di dunia ini?"
Lelaki tua itu menjawab: "Sudah enam puluh tahun."
Fudhail menangis tersedu-sedu hingga janggutnya basah, lalu berkata: "Subhanallah... Sejak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabbmu, dan sebentar lagi engkau pasti akan sampai kepada-Nya."
Lelaki itu terperanjat dan berkata: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Lalu apa jalan keluarnya bagiku, wahai Syaikh?"
Fudhail menjawab dengan suara bergetar: "Jalan keluarnya sangat mudah: Perbaikilah sisa umurmu yang tinggal sedikit ini, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan di masa yang tersisa. Tetapi jika engkau tetap bermaksiat dan lalai di sisa umurmu ini, engkau akan disiksa atas dosa masa lalumu dan dosa masa tuamu sekaligus!"

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah...

Duhai para orang tua, duhai para pemuda, duhai para perindu surga...
Berapa lama lagi kita akan hidup di dunia ini? Berapa kali lagi adzan akan memanggil kita?
Mungkin hari ini kita masih bisa melangkah dengan kaki yang sehat menuju tempat wudhu. Kita masih bisa memutar kran air, membasuh wajah kita dengan air mutlak yang sejuk.

Tetapi ingatlah... Akan datang suatu hari, dan hari itu pasti tiba, di mana kita tidak lagi mampu menggerakkan tangan dan kaki kita. Hari di mana kita dibaringkan terbujur kaku di atas dipan pemandian jenazah.

Pada hari itu, orang lain yang akan melepaskan pakaian kita. Orang lain yang akan mengguyurkan air mutlak ke atas tubuh kita yang dingin dan tak bernyawa. Pada hari itu, air mengalir di kulit kita, tetapi air itu tak lagi mampu menambah pahala wudhu kita. Tak ada lagi kesempatan untuk ruku'. Tak ada lagi kesempatan untuk bersujud mencium tanah seraya menangis meminta ampunan.

Sebelum hari yang memilukan itu tiba... Sebelum kain kafan putih membalut jasad kita yang kaku... Mari kita bangun kembali hubungan kita dengan Allah melalui kesucian lahir dan batin.

Mulai detik ini, mari kita bertekad untuk beramal nyata:

Pertama, perbaikilah fiqih thaharah kita. Pelajarilah hukum-hukum air dengan benar. Pastikan air yang kita gunakan untuk bersuci adalah air mutlak yang suci lagi menyucikan, bukan air yang tercampur najis, bukan air yang ragu kesuciannya. Jangan remehkan basuhan wudhu kita, karena shalat yang agung bertumpu pada sahnya thaharah kita.

Kedua, setiap kali tangan kita menyentuh air wudhu, hadirkan hati kita di hadapan Allah. Saat membasuh wajah, mohonlah: "Ya Allah, putihkan wajahku di hari ketika wajah-wajah manusia menghitam kelam karena dosa."
Saat membasuh tangan kanan, berdoalah: "Ya Allah, berikanlah buku catatan amalku dari sebelah kananku."
Saat membasuh tangan kiri, memohonlah: "Ya Allah, jangan Engkau berikan buku catatanku dari sebelah kiriku atau dari belakang punggungku."
Saat menyapu kepala, rundukkan jiwa kita seraya memohon naungan Arsy-Nya.
Dan saat membasuh kedua kaki kita, menjeritlah dalam hati: "Ya Allah, kokohkanlah kedua telapak kakiku di atas jembatan Shirathal Mustaqim, pada hari ketika kaki-kaki manusia tergelincir ke dalam jurang neraka Jahannam."

Dan yang ketiga, hadapkanlah jiwa kita pada jenis air yang paling berharga di sisi Allah. Jika air mutlak mampu menyucikan kotoran lahiriah di tubuh kita, maka ketahuilah... hanya ada satu air yang mampu memadamkan lautan api neraka dan menyucikan kotoran dosa di hati kita: yaitu tetesan air mata taubat di keheningan sepertiga malam terakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

"Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di malam hari di jalan Allah." (HR. At-Tirmidzi).

Sudahkah mata kita menangis karena takut kepada Allah? Ataukah mata kita hanya menangis ketika kehilangan harta, kehilangan jabatan, dan ditinggalkan oleh manusia?

Mari kita tundukkan kepala sejenak... Mari kita buka pintu hati kita, seraya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim...
Duhai Rabb Yang Maha Suci, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Engkau ciptakan air dari langit sebagai penyuci bagi jasad kami, namun kami kotori diri kami dengan maksiat dan kedurhakaan kepada-Mu.
Ya Allah... Berapa banyak wudhu kami yang lalai? Berapa banyak shalat kami yang penuh dengan riya' dan kepalsuan?
Kami malu kepada-Mu, ya Allah... Wajah kami basah oleh air wudhu, tetapi hati kami dipenuhi oleh karat kedengkian dan kesombongan.

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kemunafikan, sucikanlah amal perbuatan kami dari riya', sucikanlah lisan kami dari dusta, dan sucikanlah pandangan mata kami dari khianat.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa bertaubat, dan jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa menyucikan diri lahir dan batin.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

Jangan Engkau cabut nyawa kami, ya Allah, melainkan dalam keadaan Engkau ridha kepada kami, dalam keadaan Engkau telah mengampuni seluruh dosa-dosa kami, dan dalam keadaan lisan kami basah mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →