اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Hadirin yang saya muliakan, saudaraku yang dirahmati Allah, mari kita tundukkan hati sejenak. Sebelum kita melangkah lebih jauh, izinkan saya melantunkan bait penyejuk jiwa:
Jalan berliku di waktu petang,
Singgah sejenak di tepi telaga.
Rindu pada Nabi sudah datang,
Sudahkah kita menjemput syurga?
Saudaraku, hari ini kita berkumpul merayakan Maulid, mengingat hari kelahiran sang kekasih Allah, Nabi Muhammad ﷺ. Namun, mari kita jujur pada nurani. Apakah air mata ini jatuh karena rindu, ataukah kita hanya merayakan angka di kalender sementara hati kita jauh dari sunnah beliau?
Bayangkan di sebuah malam yang dingin, ketika kita terlelap dalam selimut tebal, Rasulullah ﷺ justru sedang sujud bersimbah air mata memohonkan ampunan bagi kita, umatnya. Beliau yang belum pernah bertemu kita, namun begitu mencintai kita melebihi cinta beliau pada diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُو بِهَا، فَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي فِي الْآخِرَةِ
"Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab, dan aku menyimpan doaku untuk memberi syafaat bagi umatku di akhirat nanti."
Saudaraku, bayangkanlah sang Baginda Nabi yang mulia itu, di Padang Mahsyar yang begitu panas, saat semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing, beliau justru berteriak lirih, "Ummati... Ummati..." (Umatku... Umatku...). Beliau tidak memikirkan diri sendiri, beliau memikirkan nasib kita.
Lantas, pantaskah kita mengaku cinta padanya, sementara sunnahnya kita abaikan? Pantaskah kita merayakan hari lahirnya, sementara perintahnya kita remehkan? Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. pernah berpesan, "Siapa yang mencintai sesuatu, niscaya ia akan banyak menyebutnya." Apakah nama beliau sudah sering basah di lidah kita? Atau justru kita lebih sibuk menyebut nama dunia yang sementara ini?
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 56:
Ketahuilah, hati yang kering adalah hati yang jauh dari shalawat. Mari kita jadikan Maulid ini sebagai titik balik. Bukan sekadar makan bersama atau berkumpul di majelis, melainkan janji setia untuk meneladani akhlak beliau.
Jika beliau diuji dengan caci maki, beliau membalas dengan doa. Jika kita? Sedikit tersinggung saja, amarah kita meledak. Jika beliau begitu dermawan hingga tak meninggalkan harta sepeser pun, kita masih sering takut jatuh miskin saat harus bersedekah. Sungguh, betapa jauh jarak antara kita dan beliau.
Saudaraku, waktu terus berlari. Usia kita mungkin tak lama lagi. Bayangkan jika esok kita bertemu beliau di telaga Al-Kautsar, akankah beliau mengenali kita sebagai umatnya? Atau beliau akan berpaling karena kita tak membawa satu pun jejak sunnahnya?
Mari kita perbaiki diri. Mulailah dari hal kecil; memperbaiki shalat, menjaga lisan, dan memperbanyak shalawat. Semoga Allah melembutkan hati kita yang keras ini.
Ya Allah, pertemukanlah kami dengan Nabi-Mu di telaga-Mu yang mulia. Ampunilah kelalaian kami dalam mencintai beliau. Jadikanlah setiap hembusan napas kami sebagai bukti cinta kami kepada Rasulullah ﷺ. Jadikanlah syafaat beliau menjadi penolong kami saat dunia tak lagi mampu menolong.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ