Logo Kangsantri AI

Cinta Istri, Ridha Ilahi

Kultum
U
Ummi Winda
28 Juni 2026 3 menit baca 18 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: {وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} (الروم: 21).
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin sekalian, para tamu Allah yang mulia. Suatu kehormatan bagi saya untuk berdiri di hadapan Anda semua untuk berbagi sebuah renungan di rumah Allah ini.

Jalan berdua menggapai ridho-Nya,
Bersama pasangan saling menjaga.
Wanita di sisi adalah amanah,
Cermin kasih Nabi, mari kita bina.

Saudaraku seiman, betapa indahnya Islam ketika mengatur hubungan antar manusia, utamanya adalah hubungan dalam rumah tangga. Sang pencipta, Allah Ta'ala, dalam firman-Nya yang baru saja kita dengarkan, telah menegaskan hakikat diciptakannya pasangan hidup. Bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi untuk mendapatkan ketenangan (sakinah), menciptakan benih cinta (mawaddah), dan menyuburkan rasa kasih sayang (rahmah). Dan kunci dari semua itu, termasuk hakikat sakinah, mawaddah, dan rahmah itu adalah bagaimana kita memuliakan pasangan kita.

Dalam Islam, memuliakan istri bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah perintah dan tuntunan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku." (HR. Tirmidzi). Hadits ini bukan hanya sekadar kata-kata, namun merupakan cerminan akhlak mulia yang harus kita teladani. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi orang terbaik jika kita tidak bisa memperlakukan orang yang paling dekat dengan kita, ibu dari anak-anak kita, dengan baik?

Memuliakan istri berarti menghargai perannya, baik sebagai ibu rumah tangga, sebagai rekan seperjuangan dalam mengarungi kehidupan, maupun sebagai teman berbagi cerita di kala suka maupun duka. Istri adalah tiang keluarga. Jika tiang itu kokoh, maka rumah tangga akan tegak berdiri. Namun jika tiang itu rapuh, maka rumah tangga pun akan terancam roboh.

Ulama besar, Imam Al-Ghazali rahimahullah, pernah berpesan, "Menyakiti istri adalah dosa besar, meskipun hanya sekecil debu." Beliau menekankan betapa besarnya tanggung jawab seorang suami dalam menjaga perasaan dan kehormatan istrinya. Bayangkan, sebuah hadits lain menyebutkan, "Sesungguhnya Allah benar-benar murka kepada orang yang menyakiti istrinya." (HR. Abu Dawud). Kemurkaan Allah, sebuah ancaman yang seharusnya membuat kita tersadar dan segera introspeksi.

Pernahkah kita benar-benar mendengarkan keluh kesahnya? Pernahkah kita memberikan apresiasi atas setiap lelah dan juangnya dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak? Mungkin, dalam kesibukan kita mencari rezeki, kita lupa bahwa di rumah ada jiwa yang merindukan perhatian, ada hati yang memerlukan dekapan hangat, ada pundak yang perlu bersandar. Istri bukanlah sekadar pelayan di rumah kita, melainkan partner seumur hidup yang memiliki perasaan, martabat, dan impian.

Marilah kita hadirkan sosok Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai teladan utama. Beliau seringkali membantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga. Beliau bercanda dan bermain dengan istri-istrinya. Beliau menunjukkan rasa kasih sayang yang mendalam, bahkan ketika istrinya sedang marah. Inilah kemuliaan yang diajarkan Islam, kemuliaan yang mengangkat derajat seorang istri, dan pada akhirnya mengangkat derajat suami itu sendiri di hadapan Rabb-nya.

Saudaraku, mari kita renungkan sejenak. Sudahkah kita benar-benar memuliakan istri kita? Apakah kata-kata kita penuh dengan penghargaan, ataukah seringkali melukai? Apakah sikap kita penuh dengan perhatian, ataukah seringkali abai?

Mulai saat ini, mari kita berkomitmen untuk lebih menghargai, lebih mendengarkan, dan lebih menyayangi istri kita. Ucapkan terima kasih atas segala jasanya. Berikan senyuman tulus setiap hari. Libatkan ia dalam setiap keputusan penting keluarga. Jaga lisannya dari perkataan kasar, dan jaga hatinya dari luka yang mendalam. Karena sesungguhnya, memuliakan istri adalah jalan kita meraih cinta Allah, sakinah dalam rumah tangga, dan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan kita.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan kita kemampuan untuk menjadi suami yang shalih, yang senantiasa memuliakan pasangan hidupnya, dan menjadikan rumah tangga kita penuh dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Aamiin ya rabbal 'alamin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →