اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, hadirin sekalian jamaah shalat Maghrib yang insya Allah senantiasa dalam limpahan rahmat dan curahan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jalan-jalan ke pasar pagi
Membeli buah untuk hidangan
Jika ingin hidup tenteram di hati
Utamakan suami dalam setiap tindakan
Hadirin yang dirahmati Allah,
Senandung pantun sederhana tadi mengantarkan kita pada sebuah tema yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga, sebuah amanah yang diletakkan Allah di pundak setiap wanita, yaitu memuliakan suami. Ada kalanya dalam kesibukan dan beragam dinamika kehidupan, kita lupa akan hakikat peran yang sungguh agung ini.
Memuliakan suami bukanlah bentuk ketundukan yang merendahkan diri, namun sebuah kemuliaan yang justru mengangkat derajat seorang istri di mata Allah dan dalam tatanan masyarakat Islami. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 19:
Ayat ini secara umum menekankan pergaulan yang baik antara suami istri. Namun, sebagai seorang mukminah, kita wajib memahami bagaimana bentuk "pergaulan yang baik" itu, yang salah satunya mencakup upaya memuliakan seorang suami.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah."
Siapa wanita yang paling shalehah? Salah satu cirinya adalah ia yang mampu menjaga kehormatan diri dan harta suaminya, serta senantiasa berbakti dan memuliakan suaminya.
Memuliakan suami berarti menghargai usaha dan pengorbanannya, baik yang terlihat maupun tidak. Termasuk di dalamnya adalah menjaga lisannya agar tidak menyakiti hati suami, menjaga pandangannya agar tidak menimbulkan prasangka buruk, dan menjaga rumah tangganya agar menjadi tempat yang nyaman dan menenangkan bagi suami.
Ulama besar kita, Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata, "Ketahuilah, bahwa hak suami atas istrinya adalah besar. Jika istri menunaikan hak suaminya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah."
Coba kita renungkan sejenak. Suami adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga ini. Ia berjuang di luar sana, tak kenal lelah, demi menafkahi dan menafkahi keluarga. Mampukah kita membalasnya dengan kata-kata yang kasar? Dengan wajah cemberut saat ia pulang? Ataukah dengan senyuman tulus, sambutan hangat, dan doa yang tulus dari lubuk hati?
Sesungguhnya, ridha Allah sangat berkaitan erat dengan ridha suami. Jika seorang istri mendapatkan ridha suaminya, maka pintu-pintu kebaikan akan terbuka lebar baginya. Mari kita hadirkan kelembutan dalam tutur kata, ketulusan dalam pelayanan, dan kesabaran dalam menghadapi ujian. Jadikan rumah kita surga dunia, tempat suami menemukan ketenangan dan kebahagiaan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Marilah pada kesempatan yang baik ini, kita niatkan untuk menjadi istri yang senantiasa memuliakan suami, bukan karena terpaksa, namun karena Allah mencintai hamba-Nya yang berbakti. Tingkatkan doa-doa kita agar Allah mudahkan kita untuk selalu berbakti, menjaga kehormatan, dan memberikan kebahagiaan kepada suami tercinta.
Semoga Allah mengampuni segala khilaf kita, memudahkan setiap urusan kita, dan menjadikan rumah tangga kita sebagai sakinah, mawaddah, wa rahmah, hingga menuju jannah-Nya. Aamiin ya Rabbana.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.