Logo Kangsantri AI

Adab Guru dan Orang Tua

Kultum
Z
zakky faqoth
21 Agustus 2026 2 menit baca 54 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Jamaah yang dimuliakan Allah, mari kita sejenak menundukkan hati, merenungi hak-hak mereka yang telah mengantarkan kita hingga ke titik ini.

Jalan berliku di atas bukit,
Tempat petani menanam padi.
Berbakti pada orang tua wajiblah sulit,
Guru pun harus kita hormati.

Hadirin yang saya hormati, kehidupan kita adalah sebuah rangkaian estafet kebaikan. Orang tua kandung adalah mereka yang menjadi pintu gerbang kehadiran kita di dunia, memberikan kasih sayang tanpa batas dan darah dagingnya untuk pertumbuhan kita. Sementara itu, guru adalah orang tua batin yang membersihkan jiwa kita, memberikan cahaya ilmu agar kita tidak tersesat di kegelapan dunia. Keduanya adalah tiang penyangga kehormatan seorang insan.

Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak." (QS. Al-Isra: 23).

Namun, apakah berbakti pada orang tua kandung cukup dengan memberi materi? Tidak. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengerti hak orang yang berilmu (guru) kami." (HR. Ahmad).

Pernahkah kita membayangkan, seberapa besar keringat ibu yang menahan lelah saat mengandung kita, dan seberapa besar kesabaran guru saat menuntun tangan kita mengeja huruf demi huruf hingga kita memahami hakikat kebenaran? Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Aku adalah hamba bagi siapa saja yang mengajarkanku satu huruf saja." Ini bukan sekadar kata-kata, melainkan bentuk pengakuan bahwa ilmu adalah ruh, dan guru adalah pemberi ruh tersebut.

Bayangkan seorang anak yang sukses secara duniawi namun hatinya kering terhadap orang tua, atau seorang murid yang berilmu tinggi namun tidak memiliki keberkahan karena ia memandang rendah gurunya. Keberkahan ilmu tidak akan turun kepada orang yang tidak tahu cara menghormati pembimbingnya. Adab adalah ilmu sebelum ilmu itu sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita perbaiki niat. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita lupa menelepon ibu atau mengirim pesan syukur kepada guru kita. Berikanlah bakti terbaik—bukan karena mereka meminta, tetapi karena kita sadar bahwa kitalah yang sangat membutuhkan keberkahan dari ridha mereka.

Semoga Allah SWT menyatukan hati kita dalam keberkahan, menjadikan orang tua kita ahli surga, serta meninggikan derajat guru-guru kita yang telah membimbing jalan kita menuju-Nya. Amin ya Rabbal Alamin.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →