اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mempertemukan wajah-wajah penuh cahaya keimanan di majelis yang berkah ini. Yang saya takzimi para alim ulama, para kiai, para ustadz dan ustadzah, serta yang saya banggakan seluruh santriwan dan santriwati: santri putra yang ketampanannya alami tanpa filter kamera, dan santri putri yang cantiknya terpancar asli dari basuhan air wudhu. Semoga kita semua selalu dilimpahi rahmat dan perlindungan Allah Ta'ala.
Sebelum lisan ini melangkah lebih jauh membedah rahasia kehidupan, izinkan saya membawakan sebait pantun:
Membeli kitab ke pasar Rebo,
Mampir sejenak membeli blewah.
Janganlah goyah saat dicoba,
Santri sejati pantang menyerah.
Bicara soal santri, banyak orang di luar sana mengira kehidupan santri itu santai, tenang, penuh kedamaian seperti di sinetron religi. Duduk manis di bawah pohon rindang sambil memangku kitab, sesekali tersenyum menatap dedaunan gugur. Masya Allah, indahnya khayalan itu. Padahal kenyataannya, santri itu bukan singkatan dari "santai tapi antri", walaupun faktanya hidup santri memang tidak pernah lepas dari antrian. Antri makan prasmanan serasa uji nyali kecepatan tangan, antri mandi di pagi buta memakai gayung legendaris yang pegangannya sudah patah setengah, hingga antri menyetrika baju menjelang sholat Jumat.
Belum lagi ada satu cabang "ujian ketabahan mental" tingkat dewa yang hanya ada di pesantren, yaitu fenomena ghasab sandal. Anda beli sandal jepit merek Swallow warna hijau baru dari koperasi di hari Senin. Hari Selasa, sandalnya tinggal sebelah kiri. Hari Rabu, sandalnya berubah warna jadi ungu kusam. Dan hari Kamis, sandalnya berevolusi menjadi sandal hotel tipis yang sudah koyak di ujungnya. Mau marah kepada siapa? Mau lapor ke pengurus, pengurusnya sendiri sedang mencari sandalnya yang juga ikut raib. Di sinilah letak tarbiyah batin yang sesungguhnya: melatih keikhlasan tingkat tinggi yang tidak diajarkan di universitas mana pun di dunia.
Namun di balik segala dinamika dan kelucuan hidup di pondok, ada satu predikat mulia yang sedang ditempa dalam diri kita, yaitu menjadi santri yang tangguh. Santri tangguh itu bukan santri yang punya ilmu kebal, bukan yang bisa makan pecahan beling atau berjalan di atas air. Santri tangguh adalah santri yang fisiknya ditempa kesederhanaan, hatinya dipenuhi kesabaran, akalnya diisi ilmu pengetahuan, dan jiwanya terpaut erat kepada Allah Ta’ala.
Mengapa santri harus tangguh? Sebab Rasulullah ﷺ sangat mencintai hamba-Nya yang memiliki kekuatan dan keteguhan jiwa. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Artinya: "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah, namun pada masing-masing tetap ada kebaikan."
Hadits ini menegaskan bahwa kita tidak boleh menjadi generasi yang gampang mengeluh, generasi yang sedikit-sedikit rapuh hatinya, terkena tugas hafalan sedikit langsung merasa tertekan, atau kiriman uang dari orang tua terlambat dua hari langsung pasang status sedih sambil menangis memeluk guling. Ingat, akhir bulan saat dompet menipis dan menu makanan berubah menjadi mie instan kuah sebaskom untuk dimakan berempat, bumbunya asin tapi airnya tawar karena kebanyakan kuah, di situlah solidaritas, ketangguhan, dan rasa syukur kita diuji.
Ketangguhan santri adalah bentuk jihad fi sabilillah di zaman modern. Kita tidak dituntut mengangkat pedang di medan perang, tetapi kita dituntut mengangkat pena untuk melawan kebodohan, melawan rasa kantuk saat ro'an dan pengajian kitab kuning sehabis Subuh. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-'Ankabut ayat 69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
Bila saat ini mata terasa berat menahan kantuk ketika muroja’ah hafalan Al-Qur'an atau menghafal bait-bait Alfiyah Ibnu Malik, sadarilah bahwa setiap lelah dan peluh yang menetes tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, seorang ulama besar yang kecerdasannya diakui dunia, pernah memberikan petuah emas yang sangat menyentuh nurani kita:
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً، تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ
Artinya: "Barang siapa yang belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat, maka ia akan meneguk hinanya kebodohan sepanjang hayatnya."
Pahitnya menuntut ilmu di pondok itu sifatnya sementara. Pahit minum jamu membuat badan sehat, pahit menghafal membuat akal cerdas dan tajam. Jangan sampai kita menyerah hanya karena rindu kasur empuk di rumah atau masakan lezat orang tua. Ingat, di rumah memang ada kasur empuk, tapi di pondok ada kemuliaan ilmu dan barakah para kiai yang tidak ternilai harganya.
Ada sebuah analogi sederhana tentang sebatang besi mentah. Jika sebatang besi hanya diletakkan di pojok gudang, ia akan berkarat, lapuk, dan akhirnya terbuang menjadi sampah yang tak berharga. Namun, jika besi itu rela dibakar dalam kobaran api yang membara, dipukul dan ditempa berkali-kali dengan palu godam yang berat, dicelupkan ke dalam air dingin, lalu diasah hingga berkilau, maka besi itu akan bertransformasi menjadi sebilah pedang samurai yang sangat tajam, indah, dan bernilai ratusan juta rupiah.
Begitulah gambaran kehidupan santri di pondok pesantren. Dinginnya air wudhu di sepertiga malam, omelan pengurus saat kita terlambat bangun, takzir berdiri satu kaki sambil menghafal kosakata bahasa Arab, serta tugas piket membersihkan aula pondok—semua itu adalah proses pembakaran dan penempaan. Para kiai dan ustadz kita sedang menimpa besi-besi mentah bernama santri agar kelak menjadi pribadi yang tangguh, tajam pikirannya, luhur budi pekertinya, dan mampu membelah kegelapan zaman ketika terjun ke masyarakat.
Oleh karena itu, marilah kita wujudkan ketangguhan santri melalui tiga amal nyata dalam kehidupan sehari-hari:
Pertama, tangguh dalam niat. Luruskan niat mondok semata-mata mencari ridho Allah dan menghilangkan kebodohan dari diri kita. Jangan mondok hanya karena disuruh orang tua, apalagi mondok karena patah hati ditolak pujaan hati di kampung halaman. Jadikan niat kita murni lillahi ta'ala.
Kedua, tangguh dalam kesabaran dan istiqomah. Ketika hafalan belum lancar, jangan putus asa; ulangi sepuluh kali, dua puluh kali, hingga menancap kuat di dada. Ketika antrian mandi panjang, gunakan waktu antri untuk membaca shalawat atau muroja'ah, bukan untuk menggerutu.
Ketiga, tangguh dalam adab dan khidmah. Taati peraturan pondok, hormati para guru dan kiai, serta sayangi teman-teman seperjuangan. Berhentilah melakukan tradisi ghasab sandal atau meminjam baju tanpa izin, karena keberkahan ilmu lahir dari kebersihan hati dan kehalalan setiap langkah kita.
Mulai detik ini, hapus air mata kerinduan yang cengeng. Buktikan kepada orang tua yang telah berpeluh keringat membiayai kita di rumah, bahwa anak yang mereka titipkan di pesantren bukan anak yang lemah, melainkan calon ulama, calon pemimpin, dan generasi penerus bangsa yang tangguh luar biasa.
Marilah kita tundukkan kepala sejenak, menengadahkan tangan memohon kepada Sang Penguasa Jiwa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَطَلَبَتَنَا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الشَّرِّ وَالضَّيْرِ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيلًا، وَقُوَّةً فِي طَاعَتِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا عَلَى دِينِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Kurang lebihnya mohon dimaafkan, jika ada kata yang benar itu datangnya dari Allah, dan jika ada guyonan yang kurang berkenan itu murni dari kekhilafan saya pribadi.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ