Logo Kangsantri AI

Berkah Pasca Idul Adha

Kultum
M
Mukmin
28 Mei 2026 2 menit baca 20 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan para jomblo yang sedang menanti kepastian, apa kabar hari ini? Masih terasa sisa-sisa aroma gulai dan dendeng di rumah?

Pergi ke pasar membeli kurma,
Dimakan enak bersama pak tani.
Idul Adha telah usai lama,
Jangan hanya ingat dagingnya saja ini.

Jujur saja, jamaah sekalian, momen setelah Idul Adha itu momen yang paling ajaib. Kenapa? Karena biasanya kita jadi "ahli gizi" dadakan. Tensi darah mulai dicek tiap pagi, kolesterol jadi musuh nomor satu, dan yang paling lucu, banyak orang yang tiba-tiba merasa jadi vegetarian karena takut melihat daging kambing lagi.

Tapi mari kita serius sejenak. Jangan sampai semangat berkurban kita hilang seiring habisnya stok daging di kulkas. Ingat kata Allah dalam surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya."

Artinya, yang Allah cari itu hatinya, bukan jumlah porsi tongsengnya! Kalau bicara daging, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki tapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami."

Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berpesan, "Hari raya itu bukanlah bagi orang yang memakai baju baru, tapi bagi orang yang ketaatannya terus bertambah." Jadi, kalau habis Idul Adha kita malah jadi malas ibadah, jangan-jangan berkurban kita kemarin hanya sekadar prosedur sosial, bukan bentuk ketundukan total.

Ingat kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam? Beliau tidak hanya menyembelih hewan, tapi menyembelih ego, menyembelih rasa cinta berlebihan pada dunia agar cintanya kepada Allah tetap di singgasana tertinggi. Kita? Menyembelih daging kambing saja sudah merasa paling dermawan, padahal kadang sama tetangga saja masih sirik kalau tetangganya dapat daging lebih banyak.

Mari kita jaga konsistensi pasca-Idul Adha. Kalau kemarin berani menyisihkan harta untuk berkurban, masa sekarang untuk sedekah Subuh saja masih pelit? Masa untuk bangun salat malam saja masih kalah sama suara cicak?

Ya Allah, jadikan kami pribadi yang tetap bertaqwa meski Idul Adha telah berlalu. Jangan biarkan hati kami mengeras seperti sisa lemak kambing di dalam rantang. Berikan kami kekuatan untuk terus berkurban, bukan hanya dalam bentuk hewan, tapi kurban rida, kurban kesabaran, dan kurban rasa ego kami. Jadikan sisa umur kami lebih bermakna daripada sekadar menghabiskan kupon daging kurban.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →