Logo Kangsantri AI

Cahaya Ilmu Akhlak Mulia

Kultum
M
Mustholah
30 September 2026 6 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta para orang tua pejuang surga yang dirahmati dan dimuliakan oleh Allah ﷻ. Wajah-wajah hadirin sekalian ini luar biasa berseri-seri, mencerminkan orang tua yang sabar, walau di balik senyum manis itu tersimpan cicilan dan drama anak yang minta ganti kuota tiap tiga hari sekali. Semoga lelahnya kita mendidik buah hati dihitung sebagai pahala jihad di jalan Allah ﷻ.

Sebelum kita melangkah lebih jauh menyelami samudra nasihat, izinkan saya membawakan sebait pantun:

Pagi hari memetik buah semangka,
Manis rasanya disantap di beranda.
Mendidik anak jalan menuju surga,
Bukan sekadar mencukupi kuota dan pulsa.

Hadirin jamaah yang berbahagia,
Kalau kita renungkan dengan seksama, menjadi orang tua di zaman sekarang ini tantangannya luar biasa dahsyat. Zaman dulu, waktu kita masih kecil, kalau orang tua kita memanggil: "Tong! Pulang! Sudah Maghrib!", anak-anak langsung lari pontang-panting ketakutan karena takut diculik wewe gombel. Zaman sekarang? Ibu-ibu memanggil anak yang ada di kamar sebelah saja harus lewat WhatsApp grup keluarga. Itu pun nasibnya cuma di-read, centang dua biru, tapi anaknya tidak keluar-keluar! Masya Allah.

Anak-anak zaman now ini, sepertinya lahir ke dunia bukan cuma bawa tangisan dan ari-ari, tapi bawa antena Wi-Fi. Bangun tidur yang dicari bukan sajadah, melainkan colokan charger handphone. Mau makan bukan baca bismillah dulu, tapi difoto dulu buat status medsos. Kalau disuruh shalat Subuh, mukanya langsung ditekuk macam cucian basah belum disetrika.

Namun hadirin sekalian, mari kita jujur pada diri kita sendiri. Sering kali kita menuntut anak kita saleh seperti Nabi Ismail, tetapi kita sebagai orang tua belum mampu bersikap bijak dan sabar seperti Nabi Ibrahim. Kita ingin anak kita selembut Sayyidah Fatimah, tapi nada bicara kita di rumah sering kali mirip petir di siang bolong. Kita menuntut anak kita hafal Al-Qur'an 30 juz, sementara orang tuanya sendiri hafalnya cuma tanggal-tanggal diskon gratis ongkir dan kode password Wi-Fi tetangga.

Dalam urusan mendidik anak atau tarbiyatul aulad, Allah ﷻ telah mengabadikan sebuah pedoman agung melalui lisan seorang hamba yang bijak, Luqman Al-Hakim, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: "Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13).

Lihatlah, hadirin sekalian. Pelajaran nomor satu yang ditanamkan oleh Luqman bukanlah cara agar anaknya menjadi saudagar kaya raya, bukan pula trik agar menjadi pejabat berkuasa. Fondasi utamanya adalah tauhid, menanamkan rasa takut dan cinta hanya kepada Allah ﷻ. Kalau tauhid anak kita sudah kokoh, mau diajak merantau ke ujung dunia pun hatinya tetap terikat pada sajadah. Tetapi kalau agamanya keropos, jangankan di perantauan, di kamar sendiri pun dia bisa tersesat di dalam layar ponselnya.

Nabi kita tercinta, Rasulullah ﷺ, juga telah menegaskan sebuah kaidah emas tentang fitrah seorang anak:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini mengingatkan kita, anak-anak kita itu ibarat kaset kosong atau flashdisk baru kapasitas 128 Gigabyte yang masih bersih dan jernih. Kalau orang tuanya mengisi file murottal, shalawat, dan tutur kata santun, maka yang keluar dari lisannya adalah mutiara adab. Tapi kalau orang tuanya hobi memutar file gosip artis, suka memaki saat lampu merah, dan hobi bertengkar di depan anak merebutkan remote televisi, jangan heran kalau flashdisk anak itu nanti memutar virus yang bikin kepala kita pusing tujuh keliling!

Anak itu sesungguhnya adalah mesin fotokopi terbaik di dunia. Mereka jarang mendengarkan nasihat kita yang berbusa-busa, tetapi mereka tidak pernah gagal meniru tingkah laku kita setiap hari. Kalau hasil fotokopinya buram dan miring, jangan mesin fotokopinya yang ditendang dan dibanting, bapak-ibu. Coba periksa dokumen aslinya! Dokumen aslinya adalah diri kita sendiri sebagai orang tua. Kita teriak dari depan televisi: "Nak, matikan HP-nya, ngaji sana!", sambil mata kita sendiri tidak lepas memelototi drama sinetron dan live shopping. Mana mau anaknya menurut? Anak sekarang pintar, dalam hatinya dia berkata: "Ibu aja nonton TikTok, masa aku disuruh tadarus sendirian?"

Terkait kemurnian jiwa anak ini, seorang ulama besar, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam mahakaryanya Ihya Ulumiddin memberikan untaian nasihat yang sangat menyentuh:

الصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ

Artinya: "Anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci laksana permata berharga yang masih polos, murni dari segala ukiran dan gambar."

Subhanallah. Anak adalah permata titipan Arsy, bukan piala ajang perlombaan gengsi antar-tetangga atau arisan keluarga. Sering kali kita merasa hancur hati dan malu luar biasa kalau anak kita hanya dapat ranking 15 di kelasnya, tetapi kita tenang-tenang saja, bahkan tertawa santai, saat anak kita belum bisa membaca Al-Fatihah dengan benar, atau tidak tahu berapa rakaat shalat Isya. Kita takut anak kita tidak bisa makan di masa depan, tapi kita lupa merasa takut bagaimana nasib anak kita ketika berdiri di hadapan timbangan akhirat kelak.

Pernah suatu ketika, seorang sahabat bernama Al-Aqra' bin Habis melihat baginda Nabi Muhammad ﷺ mencium cucu beliau, Hasan bin Ali. Orang Badui ini merasa heran lalu berkata dengan sombong: "Ya Rasulullah, saya punya sepuluh orang anak, tak ada satu pun dari mereka yang pernah saya cium!" Rasulullah ﷺ memandang orang itu dengan penuh kasih lalu bersabda: "Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."

Mendidik anak bukan seni militer yang relies on urat leher dan bentakan kasar. Mendidik anak adalah seni menyentuh hati dengan keteladanan dan kasih sayang. Kalau anak salah, jangan dihujani caci maki. Mulut orang tua itu keramat. Jangan sampai keluar kata-kata sumpah serapah: "Dasar anak nakal, anak pemalas!" Karena setiap ucapan orang tua yang terlontar bisa diaminkan oleh malaikat yang melintas. Gantilah omelan itu dengan doa: "Anak saleh ibu, anak pinter bapak, yuk shalat dulu biar besok jadi pemimpin yang hebat."

Oleh karena itu, sebelum kita menutup majelis yang berkah ini, mari kita bawa pulang tiga amalan nyata untuk kita terapkan mulai hari ini:

Pertama, jadilah teladan sebelum memberi perintah. Kalau ingin anak rajin ke masjid, bapaknya yang lebih dulu melangkah memakai sarung terbaiknya. Kalau ingin anak gemar membaca Al-Qur'an, ibunya yang terlebih dahulu memeluk mushaf di ruang tamu.

Kedua, luangkan waktu khusus, bukan sekadar sisa waktu. Duduklah bersama mereka, dengarkan cerita receh dan keluh kesah mereka tanpa ada handphone yang menyala di tangan kita. Peluk mereka, katakan bahwa kita bangga dan mencintai mereka karena Allah ﷻ.

Ketiga, basahi sepertiga malam kita dengan air mata doa untuk keselamatan anak-anak kita. Tiada benteng yang lebih kokoh bagi generasi kita di tengah badai zaman ini selain ketulusan doa ayah dan ibunya.

Mari kita tundukkan kepala sejenak, menengadahkan tangan memohon kepada Allah ﷻ:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, karuniakanlah kepada kami anak-anak yang menyejukkan pandangan mata, anak-anak yang lisannya basah dengan dzikir, yang hatinya terpaut pada masjid-Mu, dan yang kelak menjadi pembela agama-Mu. Jadikanlah mereka aset terindah kami yang akan mengalirkan pahala tak terputus saat jasad kami telah terbujur kaku di liang lahat. Ampunilah kelalaian kami dalam mendidik titipan-Mu yang mulia ini.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →