اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Bapak-bapak yang wajahnya tampak bercahaya penuh wibawa, Ibu-ibu yang insyaAllah makin glowing lahir dan batin karena rajin berwudhu dan sentuhan skincare yang halal, serta sahabat-sahabat jamaah yang dirahmati Allah.
Sebelum kita menyelami samudra hikmah pada kesempatan yang membahagiakan ini, izinkan saya membawakan sebait pantun pengantar:
Pergi ke pasar membeli kurma,
Jangan lupa mampir membeli sajadah.
Segala nikmat yang kita terima,
Hakikatnya milik Allah yang Maha Indah.
Jamaah yang dimuliakan Allah, berbicara tentang kepemilikan, manusia itu memang makhluk yang sangat unik dan kadang menggemaskan. Kita ini paling hobi menempelkan label "punyaku" pada segala hal. Rumahku, mobilku, uangku, gelarku, jabatanku, bahkan sandal jepitku.
Bicara soal sandal jepit, ada sebuah fenomena klasik yang sering terjadi di masjid. Saat kita datang salat berjamaah mengenakan sandal jepit swallow yang sudah tipis dan ada bekas gigitan kucing, kita letakkan santai saja. Tapi kalau kita datang memakai sandal kulit baru yang harganya lumayan, ditaruhnya pun dipisah; yang kanan di dekat pintu masuk, yang kiri diselipkan di dekat rak mukena. Supaya apa? Supaya kalau ada yang mau mengambil, dia harus mikir dua kali menyatukannya!
Lalu ketika selesai salat dan sandal kulit kita benar-benar hilang tertukar dengan sandal swallow yang tali kanannya diganti kawat, reaksi kita sering luar biasa panik. Kita menggerutu dan berdoa dengan nada penuh dendam: "Ya Allah, azablah orang yang mengambil sandalku!" Tetapi coba kalau kejadiannya terbalik; kita pakai sandal swallow jelek, pulangnya keliru memakai sandal kulit mengkilap, mendadak lisan kita berkata dengan sangat alim: "MasyaAllah, alhamdulillah, inilah rezeki anak saleh yang tak terduga." Padahal itu namanya tertukar juga!
Di sinilah letak kekeliruan kita dalam memandang hidup. Kita sering lupa pada satu hakikat paling mendasar: bahwa di dunia ini, tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi milik kita. Semuanya mutlak milik Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Coba kita perhatikan satu sosok profesi yang paling bijak dalam urusan kepemilikan, yaitu juru parkir. Juru parkir adalah filsuf kehidupan tanpa gelar. Bayangkan, di lahan parkirnya datang mobil sedan mewah seharga miliaran rupiah, datang mobil keluarga, datang motor matic. Apakah si juru parkir lantas sombong dan pamer di media sosial, "Alhamdulillah, hari ini saya punya lima belas mobil mewah"? Tentu tidak. Dia hanya berdiri dengan tenang sambil meniup peluit, "Kiri, kiri, balas, yak... op!"
Ketika sore hari pemilik mobil datang satu per satu dan membawa pulang mobil-mobil tersebut, apakah si juru parkir menangis histeris, guling-guling di aspal, lalu mengalami depresi berat karena mobilnya diambil orang? Sama sekali tidak! Dia justru tersenyum manis sambil melambaikan tangan. Mengapa juru parkir bisa setenang dan sebahagia itu? Jawabannya sederhana: karena sejak awal, juru parkir sadar bahwa dia hanya dititipi untuk menjaga, bukan memiliki.
Lalu mengapa kita sering kali stres, cemas, sombong saat mendapat nikmat, dan hancur lebur saat kehilangan? Karena mental kita bukan mental penjaga amanah, melainkan mental orang yang merasa sebagai pemilik mutlak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam firman-Nya di ayat yang lain:
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Artinya: "Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan hanya kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)." (QS. An-Nur: 42)
Ayat ini menyadarkan kita bahwa langit, bumi, dan seluruh isinya adalah aset milik Allah. Kita ini hanya numpang tinggal di bumi-Nya, menghirup oksigen gratis buatan-Nya, dan meminjam fasilitas yang disediakan-Nya. Jangankan mobil, rumah, atau saldo tabungan kita di bank; helai rambut di kepala kita yang mulai memutih satu per satu pun bukan milik kita. Kalau rambut itu milik kita seutuhnya, tentu kita bisa memerintahkan: "Wahai uban, jangan tumbuh!" Tapi nyatanya, mau disemir hitam pekat berkali-kali pun, uban tetap tumbuh karena rambut itu tunduk pada pemilik aslinya, yaitu Allah.
Nabi Muhammad ﷺ juga pernah mengingatkan tabiat manusia yang suka membanggakan apa yang disangkanya sebagai miliknya. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي، إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ أَعْطَى فَأَقْنَى، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
Artinya: "Seorang hamba berkata: 'Hartaku, hartaku!' Padahal hartanya yang sesungguhnya hanyalah tiga: apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu usang, atau apa yang ia sedekahkan lalu tersimpan abadi di akhirat. Dan selain dari itu akan sirna dan ditinggalkan bagi orang lain." (HR. Muslim)
Renungkanlah hadits ini, hadirin sekalian. Kita banting tulang dari pagi hingga malam, lembur sampai mata berkantung, diet ketat sampai badan gemetar, menumpuk harta, membangun rumah bertingkat-tingkat. Tapi pada akhirnya, yang benar-benar kita nikmati hanyalah sepiring nasi yang masuk ke tenggorokan dan menjadi kotoran, selembar pakaian yang menempel di badan lalu robek dan usang, serta apa yang kita sedekahkan di jalan Allah.
Harta yang kita timbun bermiliar-miliar di rekening itu ke mana perginya? Ketika nafas terakhir kita berhembus, harta itu bukan lagi milik kita. Itu menjadi hak para ahli waris. Betapa sering kita melihat, jenazah baru saja dimakamkan dan tanah kuburnya masih basah, para ahli waris sudah mulai berdebat di ruang tamu memperebutkan sertifikat tanah. Sementara si mayit di dalam kubur sendirian, sedang dihisab dengan sangat teliti setiap rupiah yang pernah dikumpulkannya: dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan.
Seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, pernah memberikan nasihat yang sangat menyentuh dan menampar kesadaran kita:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ ضَيْفٌ، وَمَالُكَ عَارِيَّةٌ، وَالضَّيْفُ مُرْتَحِلٌ، وَالْعَارِيَّةُ مَرْدُودَةٌ
Artinya: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau di dunia ini hanyalah seorang tamu, dan hartamu adalah barang pinjaman. Tamu itu pasti akan pamit pulang, dan barang pinjaman itu pasti akan dikembalikan."
Coba kita bayangkan jika kita menginap di sebuah hotel bintang lima yang sangat mewah. Di dalam kamar ada televisi layar lebar, kasur empuk, selimut sutra, dan lampu gantung kristal yang gemerlap. Apakah saat waktu check-out tiba, kita akan membongkar televisi dan lampu gantung itu untuk dimasukkan ke dalam koper kita? Tentu tidak! Kalau kita nekat memasukkannya, kita akan ditangkap oleh petugas keamanan hotel karena dianggap pencuri. Kita tahu diri bahwa kita hanyalah tamu yang menyewa sementara.
Lalu mengapa di dunia ini kita sering bersikap seolah-olah kita akan tinggal selamanya? Kita tahan harta kita dari sedekah, kita kikir mengeluarkan zakat, kita enggan menolong tetangga yang kelaparan, padahal semua fasilitas dunia ini harus kita tinggalkan saat bel "check-out" kematian berbunyi.
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah, ketika kita menanamkan keyakinan bahwa "Semua milik Allah", ada tiga perubahan besar yang akan mewarnai hati dan perilaku kita sehari-hari:
Pertama, kita tidak akan pernah menjadi pribadi yang sombong. Untuk apa kita pamer jabatan atau kekayaan di hadapan sesama manusia, jika kita sadar kita hanyalah tukang parkir yang sedang dititipi mobil mewah oleh Allah?
Kedua, hati kita akan selalu tenang, qana'ah, dan bebas dari penyakit iri dengki. Kita tidak akan lagi tersiksa saat melihat tetangga membeli mobil baru lalu kita yang masuk angin, atau saat melihat kawan membeli kulkas dua pintu lalu jantung kita yang mendadak dingin membeku. Kita paham bahwa Allah membagi titipan-Nya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.
Ketiga, tangan kita akan menjadi sangat ringan untuk bersedekah dan berinfak. Orang yang tahu bahwa uang di dompetnya adalah titipan Allah, tidak akan merasa takut miskin ketika menyalurkan sebagian titipan itu kepada hamba-hamba Allah yang membutuhkan. Dia tahu, titipan yang disedekahkan itulah yang hakikatnya sedang dikirim ke rekening masa depannya di akhirat kelak.
Maka mari, mulai hari ini, sebelum kita melangkahkan kaki keluar dari majelis yang berkah ini, luruskan niat kita. Mari kita jadikan setiap nikmat yang ada dalam genggaman kita—harta, kecerdasan, kesehatan, keluarga, dan waktu luang—sebagai sarana untuk beribadah dan mengabdi kepada pemilik aslinya, yaitu Allah 'Azza wa Jalla. Rawatlah titipan-titipan itu dengan penuh amanah, dan ikhlaskanlah dengan lapang dada apabila sewaktu-waktu Sang Pemilik Sejati memanggil kembali titipan-Nya.
Marilah kita menundukkan kepala, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:
اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَيَدًا مُنْفِقَةً فِي سَبِيلِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ