اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: {وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ} (طه: 131)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah,
Pergilah ke pasar mencari permata,
Hati yang ikhlas tiada tandingannya.
Janganlah diri terbuai dunia sesaat,
Banyak yang berkilau belum tentu bahagia.
Saudara-saudari seiman. Seringkali, tanpa kita sadari, hati kita terpikat oleh kilau kehidupan orang lain. Kita membuka media sosial, melihat rumah megah, mobil mewah, liburan eksotis, pencapaian gemilang, lalu seketika, timbullah rasa iri, dengki, atau bahkan minder dalam diri. Inilah yang kita sebut dengan social comparison, perbandingan sosial, yang begitu mudah menjebak kita di era modern ini.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Thaha ayat 131, "Dan janganlah sekali-kali kamu tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada [sebagian] dari mereka, [sebagai] bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." Ayat ini secara jelas mengingatkan kita untuk tidak terpukau oleh gemerlap duniawi yang diberikan kepada orang lain, karena itu hanyalah ujian.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda, "Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak mengingkari nikmat Allah atas kalian." (HR. Muslim) Perintah ini sangat lugas. Alih-alih membandingkan diri dengan mereka yang terlihat lebih beruntung di permukaan, seharusnya kita menengok saudara-saudari kita yang mungkin sedang berjuang lebih keras, agar kita mensyukuri apa yang telah Allah berikan.
Ulama salaf, seperti Imam Al-Ghazali rahimahullah, dalam karyanya Ihya Ulumuddin, mengingatkan bahwa penyakit hati seperti hasad (iri dengki) dan ujub (sombong) seringkali berakar dari perbandingan sosial ini. Ketika kita terlalu fokus pada apa yang dimiliki orang lain, kita lupa bersyukur atas apa yang Allah titipkan kepada kita. Padahal, rezeki, kesehatan, keluarga, dan keimanan adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Ingatlah kisah seorang petani sederhana yang selalu bahagia. Ia tidak punya banyak harta, namun keluarganya rukun, anak-anaknya sholeh, dan ia tak pernah iri melihat tetangganya yang kaya. Ia selalu berkata, "Allah telah memberiku rezeki yang cukup untuk anak-anakku, dan memberiku hati yang lapang untuk mensyukurinya." Ia tidak pernah membandingkan dirinya dengan si kaya, namun selalu membandingkan kedekatannya dengan Allah.
Maka, marilah kita renungkan. Apakah kita telah menggunakan mata ini untuk melihat karunia Allah atau untuk mengukur kekurangan diri dibandingkan orang lain? Apakah kita telah menjaga hati ini dari prasangka buruk dan iri dengki, atau justru membiarkannya merana karena perbandingan yang sia-sia?
Ajakan malam ini sederhana, namun insya Allah berdaya ubah: Tutuplah pintu perbandingan yang tidak bermanfaat. Alihkan pandangan dari gemerlap dunia orang lain, lalu bukalah mata hati untuk melihat nikmat Allah yang tak terhitung di sekitar kita. Perbanyak zikrullah (mengingat Allah), luangkan waktu untuk tadabbur Al-Qur'an, dan bergeraklah untuk menebar kebaikan sekecil apapun. Karena sesungguhnya, kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki dibandingkan orang lain, melainkan dari sejauh mana kita ridha dengan ketetapan Allah dan berlomba dalam kebaikan.
Semoga Allah SWT senantiasa membersihkan hati kita dari penyakit-penyakit hati, menjadikan kita insan yang pandai bersyukur, dan senantiasa dalam naungan rahmat-Nya. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ