اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
*
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jemaah sekalian yang dirahmati Allah SWT.
Di laut kehidupan yang bergelombang,
Ada hikmah tersembunyi tak teraba,
Bila hati senantiasa mengembang,
Syukur terucap tiada berhingga.
Saudara-saudari sekalian, pantun di awal tadi mengajak kita pada sebuah amalan luhur, sebuah sifat terpuji yang menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat: syukur. Syukur, sebuah kata sederhana namun maknanya begitu dalam. Ia bukan sekadar ucapan "alhamdulillah" di lisan, melainkan sebuah pengakuan kalbu atas segala nikmat yang Allah curahkan, dan manifestasi dalam perilaku yang mencerminkan keridhaan kita atas segala ketetapan-Nya.
Begitu sering kita lupa, bahkan mungkin tak menyadari, betapa tak terhingga nikmat yang Allah berikan. Kesehatan yang kita rasakan, kesempatan bernapas setiap detik, limpahan rezeki yang tak pernah putus, bahkan setiap detak jantung kita adalah bukti kasih sayang Ilahi. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Ibrahim ayat 7, "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (ni`mat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat pedih.'" Ayat ini adalah peringatan sekaligus jaminan: syukur mendatangkan tambah nikmat, sementara kufur nikmat mendatangkan azab yang pedih.
Syukur yang hakiki adalah ketika hati kita senantiasa merasa cukup dan ridha dengan apa yang Allah berikan, sekecil apapun itu. Bukan berarti kita berhenti berusaha, namun kita memulai usaha kita dengan hati yang lapang dan pemahaman bahwa segalanya adalah titipan. Imam Syafi'i pernah berkata, "Empat perkara yang menopang kehidupan akal adalah: sedikit makan, sedikit bicara, qiyamul lail (bangun malam untuk ibadah), dan merendahkan diri di hadapan Allah." Semua itu adalah bagian dari syukur yang terwujud dalam penguasaan diri.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu pernah mengingatkan, "Kufur nikmat adalah menggunakannya untuk berbuat maksiat." Betapa seringnya kita diberikan kesehatan untuk beribadah, namun justru dipergunakan untuk perkara sia-sia atau bahkan dosa. Diberikan rezeki yang melimpah, namun hati enggan berbagi dan justru menjadi sombong. Inilah kufur nikmat yang sesungguhnya, yang hanya akan menjauhkan kita dari rahmat Allah.
Mari kita renungkan hadits Rasulullah ﷺ, "Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada iman seberat biji sawi, dan akan keluar dari surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi." (HR. Muslim). Kebalikan dari kesombongan adalah kerendahan hati dan rasa syukur. Ketika kita bersyukur, kita sadar bahwa segala kebaikan berasal dari Allah, dan kita pun terhindar dari penyakit hati yang mematikan.
Kisah seorang hamba Allah yang hidup sederhana namun selalu tersenyum dan bersyukur, bahkan ketika menghadapi ujian, menjadi cermin bagi kita. Ia sadar bahwa setiap ujian adalah bentuk perhatian Allah, kesempatan untuk menghapus dosa, dan peningkatan derajat. Kehidupannya yang penuh syukur membuatnya diliputi ketenangan dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Oleh karena itu, marilah kita latih lisan kita untuk senantiasa mengucap syukur, hati kita untuk senantiasa merasa cukup, dan anggota tubuh kita untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Mulailah dari hal-hal kecil. Syukuri kesempatan menunaikan shalat lima waktu, syukuri rezeki hari ini, syukuri kehadiran keluarga tercinta. Jadikan syukur sebagai napas kehidupan kita.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, sehingga kita senantiasa berada dalam limpahan rahmat dan karunia-Nya. Aamiin.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ