Logo Kangsantri AI

Kasih Sayang Guru, Tanggung Jawab Suci

Kultum
U
Ummi Winda
25 Juni 2026 3 menit baca 50 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ و...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ﴾.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terbang tinggi burung merpati,
Hinggap di dahan pohon cemara.
Sungguh mulia para guru sejati,
Mencurahkan ilmu penuh mesra.

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,
Sungguh, tema yang akan kita renungkan bersama pada kesempatan yang berbahagia ini begitu dekat di hati setiap insan. Ia berbicara tentang sebuah hubungan yang tak ternilai harganya, hubungan antara seorang guru atau mursyid dengan muridnya. Sebuah ikatan yang dilandasi oleh tanggung jawab yang besar dan kasih sayang yang tulus.

Dalam Islam, kedudukan seorang guru, seorang mursyid, pendidik spiritual, sangatlah tinggi. Mereka bukanlah sekadar penyampai ilmu pengetahuan, melainkan pewaris para nabi, pembimbing jiwa, penunjuk jalan menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tanggung jawab mereka terhadap para murid, sungguh melampaui batas-batas akademis semata. Mereka bertanggung jawab atas pembentukan karakter, penanaman akidah yang kokoh, akhlak yang mulia, dan kecintaan yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, bahkan semut yang berada di dalam lubangnya, serta ikan, semuanya mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi). Keutamaan inilah yang sepatutnya menjadi semangat para masyaikh dalam membimbing umat.

Coba kita renungkan QS. Al-Baqarah ayat 159: ﴿إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰۤئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَ﴾. Allah mengancam mereka yang menyembunyikan ilmu petunjuk. Seorang masyaikh yang tulus akan berusaha sekuat tenaga menyampaikan risalah Allah dan Rasul-Nya, menunjukkan jalan kebaikan tanpa menyembunyikan sedikit pun kebenaran, demi keselamatan ummat.

Kasih sayang yang dicurahkan seorang masyaikh kepada muridnya adalah cerminan kasih sayang Allah dan Rasul-Nya. Mereka melihat setiap murid sebagai amanah yang harus dibimbing, bukan sekadar objek pembelajaran. Ketika seorang murid tergelincir, mereka tak serta-merta menghakimi, melainkan dengan lembut menuntun kembali. Seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya, itulah gambaran kasih sayang seorang mursyid yang hakiki.

Dalam sebuah riwayat, Imam Ghazali pernah berpesan, "Jadilah engkau seperti lebah, makanlah yang baik, keluarkanlah yang baik. Jadilah engkau seperti bumi, tanamlah kebaikan di atasnya, maka yang tumbuh adalah kebaikan." Inilah analogi indah tentang peran seorang pendidik. Ia menyerap ilmu dari sumber yang murni, kemudian mengolahnya menjadi ilmu yang bermanfaat, yang akan dipancarkan kepada murid-muridnya.

Marilah kita hadirkan kembali dalam ingatan kita sosok-sosok ulama salafus shalih yang luar biasa. Bagaimana kelembutan dan ketegasan mereka dalam mendidik murid. Bagaimana mereka senantiasa mendoakan kesuksesan dan kebaikan bagi santri-santrinya, bahkan setelah mereka tiada. Sebagaimana firman Allah dalam surat Maryam ayat 5: ﴿وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا، يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا﴾. Doa Nabi Zakariya alaihissalam memohon keturunan yang saleh untuk meneruskan perjuangan adalah cerminan harapan seorang pendidik akan kelanjutan estafet kebaikan.

Hadirin yang dirahmati Allah,
Maka dari itu, marilah kita senantiasa menjaga adab kita kepada para guru kita, para masyaikh kita. Tunjukkan rasa hormat, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Dan bagi kita yang diberi kesempatan untuk mendidik, semoga Allah anugerahkan hati yang penuh kasih sayang, kesabaran yang tiada berujung, dan ilmu yang senantiasa tercurah demi keselamatan generasi.

Ya Allah, berkahilah para masyaikh kami dengan kesehatan, umur panjang dalam kebaikan, dan curahkanlah rahmat-Mu kepada mereka atas segala jasa mereka. Dunkanlah kami untuk senantiasa menjadi murid-murid yang shalih dan berbakti.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →