Logo Kangsantri AI

Tasamuh: Indahnya Toleransi Beragama

Kultum
U
Ummi Winda
24 Juni 2026 3 menit baca 17 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (العنكبوت: 46)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Hadirin sekalian, para alim ulama, tokoh masyarakat, dan seluruh saudara-saudari seiman yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'ala.

Mentari pagi sinari alam semesta,
Bawa hangat ke seluruh penjuru negeri.
Sungguh elok akhlak terpuji nan mulia,
Tasamuh namanya, damai di hati.

Pada pagi yang cerah ini, mari kita renungkan bersama sebuah nilai luhur yang sangat ditekankan dalam Islam, yaitu tasamuh. Apa sesungguhnya arti tasamuh itu? Tasamuh secara sederhana berarti toleransi, lapang dada, dan berbuat baik kepada sesama meskipun ada perbedaan. Ini bukan sekadar toleransi dalam arti permisif terhadap kesesatan, namun lebih kepada sikap menghargai, tidak memaksakan kehendak, dan menjaga ukhuwah dalam bingkai akidah yang benar.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah: 'Kami beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'" (QS. Al-'Ankabut: 46). Ayat ini mengajarkan kita untuk berinteraksi dengan penuh hikmah, bahkan dengan mereka yang berbeda keyakinan, apalagi sesama Muslim yang mungkin berbeda pandangan dalam masalah furu'iyah.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam telah mencontohkan tasamuh ini dengan sangat paripurna. Beliau mengajarkan kepada kita untuk berbuat baik, bersikap lembut, dan memaafkan. Beliau bersabda, "Berbuat baiklah kepada mereka yang berbuat buruk kepadamu." (HR. Muslim). Bayangkan, jika kita membalas keburukan dengan keburukan, maka lingkaran kebencian akan terus berputar dan tidak akan pernah menemukan titik akhir. Namun, jika kita membalas keburukan dengan kebaikan, dengan kesabaran, dan dengan pemahaman, insya Allah, dinding perpecahan akan runtuh dan hati yang membatu akan melembut.

Para ulama salafus shalih kita juga telah memberikan pelajaran berharga tentang tasamuh. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, "Tasamuh bukanlah berarti kamu menyetujui kebatilan, tetapi kamu memaklumi kesalahan saudaramu." Ini adalah pemahaman yang sangat mendalam. Kita bisa berbeda pendapat, berbeda mazhab, bahkan berbeda pandangan dalam persoalan agama, namun kita harus tetap menjaga persaudaraan. Kita tidak perlu mencaci maki, tidak perlu saling menghakimi, apalagi sampai memutus tali silaturahmi hanya karena perbedaan yang sempit.

Lihatlah bagaimana seorang sahabat, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, yang dikenal sebagai pribadi yang santun dan pemaaf. Ketika beliau ditimpa ujian berat, beliau tetap bersabar dan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Sikap tasamuh beliau justru menunjukkan kebesaran jiwa dan kekuatan iman yang luar biasa.

Saudaraku seiman, di era digital yang serba cepat ini, seringkali perbedaan pendapat memicu perdebatan sengit di media sosial, bahkan terkadang berujung pada saling hujat dan mencela. Padahal, Allah menciptakan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal, bukan saling mencurigai apalagi saling menjatuhkan. "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13).

Mari kita mulai dari diri sendiri. Hadapi perbedaan dengan lapang dada, dengarkan dengan seksama, dan balaslah dengan argumen yang santun serta adab yang mulia. Jika ada saudara kita yang berbuat salah, ingatkanlah dengan bijak, bukan dengan amarah. Jika ada tetangga kita yang berbeda keyakinan, ulurkanlah tangan kebaikan, bukan mengucilkan.

Oleh karena itu, marilah kita komitmen untuk mengamalkan tasamuh dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita bangun masyarakat yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling menghormati. Jadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai sebab perselisihan.

Semoga Allah Subhanahu Wata'ala senantiasa membimbing hati kita untuk senantiasa berlapang dada, memiliki kelembutan, dan mengutamakan persaudaraan. Marilah kita berdoa agar Allah menganugerahkan kepada kita sifat tasamuh yang tulus, sehingga kita dapat menjadi pribadi yang dicintai Allah dan dicintai sesama.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →